Perempuan Berhati Baja

Judul buku: Humaira: Ibunda Orang Beriman
Penulis: Kamran Pasha
Penerjemah: Hilmi Akmal
Penerbit: Zaman
Cetakan: I, Juli 2010
Tebal: 616 halaman
Peresensi: Hilyatul Auliya
http://www.lampungpost.com/

ARAB pra-Islam adalah masyarakat pagan barbarian. Perang antarsuku hal yang lazim ditemui dan kesetiaan terhadap suku melebihi di atas segalanya. Tribalisme memang hal yang paling kuat dalam ikatan komunitas Arab masa itu.

Perempuan dianggap sebagai manusia kelas dua dan bagi sebagian masyarakat Arab, memiliki anak perempuan lebih dianggap aib daripada berkah. Kondisi ini diperparah dengan tradisi mengubur hidup-hidup bayi perempuan yang masih merah. Konon, Umar bin Khattab semasa belum Islam-nya pernah melakukan hal serupa.

Hingga kemudian, empat belas abad silam Tuhan mengutus seorang Nabi Akhir Zaman, di tengah gurun pasir Arabia bernama Muhammad al-Amin, yang tidak hanya menghentikan segala praktik keji era kebodohan (jahiliah), tetapi juga mengangkat derajat kaum perempuan ke tempat selayaknya. Salah satu tokoh kunci yang menjadi saksi atas revolusi tersebut adalah Aisyah, berjuluk Humaira?yang berwajah kemerahan?salah seorang istri Nabi yang paling dikasihi setelah Khadijah.

Aisyah, putri shahabat terdekat Nabi, Abu Bakar Ash-Shiddiq, adalah perempuan paling kontroversial di sepanjang sejarah Islam. Posisinya menjadi penting tidak hanya karena hidupnya yang membentang mulai dari masa pra-Islam hingga masa dinasti Umayyah, tetapi sebagai istri Nabi, Aisyah merupakan salah satu orang terdalam lingkaran keluarga Rasulullah sekaligus dianggap paling tahu seluk beluk pribadi dan kehidupan sang Manusia Terpuji.

Menjadi istri Nabi sekaligus Ummul Mukminin?Ibunda Kaum Beriman?bukannya tanpa risiko. Aisyah yang sangat muda dan tercantik pernah tertimpa fitnah perselingkuhan dengan seorang sahabat bernama Shafwan, sebuah fitnah yang membuat Rasulullah nyaris menceraikannya sebelum akhirnya Allah menurunkan wahyu yang merehabilitasi nama baiknya.

Terbunuhnya khalifah ketiga, Utsman bin Affan?seorang lelaki lembut yang tidak tegaan sehingga mudah dikendalikan orang-orang di sekitarnya?oleh sekelompok pemberontak dari Mesir yang tidak puas dengan orang-orang kepercayaan khalifah, membuat Ali bin Abi Thalib, keponakan Nabi pemuda yang pertama kali masuk Islam dan salah seorang yang mendapat jaminan surga, naik menjadi khalifah keempat melalui musyawarah.

Suksesi ini tidak disukai oleh orang-orang yang sangat diuntungkan pada masa Utsman yang merupakan keluarga (klan) sesuku dari khalifah ketiga tersebut, terutama Muawiyah bin Abi Sufyan dan Marwan bin Hakam, seorang penipu ulung keponakan Ustman yang kemudian diketahui sebagai biang perpecahan dan pembunuhan terhadap Ustman, pamannya sendiri.

Dengan dalih menuntut balas atas kematian Utsman, keduanya mengobarkan pemberontakan terhadap khalifah keempat yang sah dari keluarga Nabi (ahlul bait) tersebut. Provokasi ini merembes ke seantero bumi kekhalifahan hingga ibarat menaburkan garam ke atas luka lama Aisyah terhadap Ali.

Alhasil, pecahlah peperangan yang untuk pertama kalinya mempertemukan kaum muslimin berhadap-hadapan secara terbuka. Perang yang melibatkan ribuan pasukan ini kemudian dikenal dengan Perang Jamal atau Perang Berunta, kendaraan yang digunakan oleh Aisyah pada waktu itu.

Novel karya, sineas muslim Hollywood, Kamran Pasha ini mengisahkan perjalanan seorang wanita Berhati Baja dan paling kontroversial sepanjang sejarah Islam, Aisyah. Meski jalinan ceritanya dibangun berdasarkan sebuah surat Aisyah kepada keponakannya, Abdullah, putra Zubair yang fiktif, secara garis besar runtutan ceritanya sejalan dengan fakta sejarah yang ada.

Hal ini tidak mengherankan mengingat novel ini dihasilkan berdasarkan riset yang sangat teliti yang dilakukan penulisnya. Tercatat buku-buku seperti Muhammad: His Life Based on the Earliest Source karya Martin Lings dan The Prophet Muhammad: A Biography karya Barnaby Rogerson, menjadi rujukan-rujukan dalam penulisannya.

Selain itu, gaya penulisannya yang prosaik nan indah, dijamin membuat setiap pembaca betah untuk mengikuti kata-kata yang tertuang dalam lembar demi lembar novel ini. Sebuah syahadat cinta dari penulis juga pembaca buku ini kepadamu wahai Rasulullah.

*) Penggiat Institute for Education Development, Social, Religious and Cultural Studies (Infest) Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *