Daryono, Ketua Jurusan Seni Lukis yang tidak lulus SD

Judul aslinya obituari ini: “Bahagia dalam gelisah”
Budiman S. Hartoyo, Zed Abidien
http://majalah.tempointeraktif.com/

LANGIT mendung menggantung di atas Kota Surabaya yang tengah berkabung. Setelah dua pelukis senior Surabaya, O.H. Supono dan Krishna Mustajab, meninggal beberapa waktu lalu, Rabu petang pekan lalu pelukis senior yang lain, Daryono, menyusul.

Lama mengidap penyakit paru-paru, pelukis ekspresionis yang meninggal pada usia 59 tahun ini pulang ke Rahmatullah karena penyakit jantung.

Sejak kecil belajar melukis secara otodidak, Daryono juga salah seorang pelopor pembentukan Dewan Kesenian Surabaya (DKS). Di lembaga itu, ia bahkan duduk sebagai wakil ketua. Meski ia tak lulus SD, semangatnya untuk mendidik generasi muda sangat kuat. Pada 1967, misalnya, bersama pelukis Amang Rahman, Krishna Mustajab, dan M. Ruslan, Daryono mendirikan Akademi Seni Rupa Surabaya (Aksera).

Ketika itu ia menjadi Ketua Jurusan Seni Lukis. Bahkan, menurut Gatut Kusumo, kurikulum Aksera adalah gagasan Daryono. Anak-anak muda yang sengaja dididik menjadi calon seniman kreatif itu tidak hanya belajar melukis, tetapi juga mendapat pelajaran mengenai filsafat, sosiologi, psikologi, dan kebudayaan. Juga sastra dan teater. Di akademi itu — sayang sudah bubar pada akhir 1979 — Daryono mengajar pengetahuan teori mengenai cat dan praktek melukis.

Masyarakat Surabaya tak mungkin melupakan jasa seniman yang juga pematung ini. Salah satu karyanya, yaitu patung Gubernur Jawa Timur yang pertama, Soerjo, sejak 10 tahun lalu dipajang di halaman Kantor Gubernuran, yang disebut Gedung Grahadi, di Jalan Pemuda, Surabaya.

Meski lukisan-lukisannya cukup berbobot, nama Darjono hanya bergema di Surabaya dan kurang dikenal secara luas. Menurut pelukis Amang Rachman, “Hal itu lantaran kurangnya pemahaman para kritikus seni rupa kita terhadap karya-karyanya.” Daryono, O.H. Supono, dan Krishna Mustajab — kebetulan semuanya sudah meninggal — boleh dibilang trio pelukis yang mewarnai perkembangan seni rupa di Surabaya. “Berkat karya merekalah, kini Surabaya diperhitungkan,” kata Amang Rachman.

Lukisan-lukisan karya Daryono lebih banyak menceritakan kehidupan orang-orang papa. Sapuan-sapuan kuasnya tampak sangat dinamik tapi merefleksikan jiwa yang kosong dan gelisah, sehingga komposisi warna yang redup lebih mendominasi lukisan-lukisan itu. “Mungkin gaya seperti itulah yang membuat lukisan Daryono kurang diminati orang,” ujar budayawan Surabaya, Gatut Kusumo.

Daryono sesungguhnya seorang ekspresionis, begitu pendapat pelukis dan kritikus Rudi Isbandi. Ia jarang melukis suasana, tapi lebih sering melukis potret. Pada awal kariernya tahun 1950-an sampai 1960-an, Daryono condong melecehkan bentuk dan garis anatomis. Pada tahun 1970-an, kata Rudi lagi, Daryono mengalami “periode eksploratif yang cerah”, seperti ada ledakan emosi yang tak terkendali. Namun, pada tahun 1980-an sampai akhir hayatnya ia mengalami periode tenang.

Bahkan, dalam pengamatan Rudi, karya-karya terakhirnya tidak sedinamis sebelum tahun 1980-an. “Trendnya menurun, ada semacam kebekuan kreativitas,” ujar Rudi. Yang jelas, Daryono cenderung melukiskan kekumuhan, ketidakberdayaan, bernada sendu dan muram. Ia memang sosok pelukis yang luka dan menderita.

Daryono, yang merasa akrab dengan “kemiskinan” penyair Chairil Anwar dan “kepapaan” pelukis Affandi ini, sehari-hari memang hidup paspasan. Rumahnya di kompleks Perumnas Manukan Rejo, Surabaya, adalah hadiah bekas Wali Kota Surabaya, Muhadji Widjaja. Karena itu, tak mengherankan jika ia juga akrab dengan orang-orang kecil di samping gedung DKS: penjual es, gadogado, bakso, dan nasi rames. Apalagi pelukis ini suka melucu.

Dikenal di antara rekan-rekannya sebagai “seniman bohemian” (menggelandang), Daryono memang telah memilih jalan hidupnya sebagai pelukis. Tapi, itu tidak berarti sekaligus ia juga mengandalkan penjualan lukisan-lukisannya hingga menghasilkan banyak uang. Hidupnya semata-mata untuk melukis. Karena itu, seperti kata Rudi, “kekurangan Daryono ialah tidak punya keahlian mencari pembeli.”

Selain meninggalkan seorang istri dan seorang anak perempuan, Daryono juga meninggalkan beberapa lukisan. Di rumahnya, masih tergantung lima lukisan bertahun 1991. Antara lain lukisan potret diri, menggambarkan sang pelukis yang bertubuh kurus, berambut putih, mengenakan kaus oblong putih, duduk termenung. Tampaknya ia ingin mengukuhkan sikap hidupnya yang “merasa bahagia dalam gelisah dan sepi”. Itulah sikap kesenian Daryono.

Ketika Pameran Besar Pelukis Indonesia bulan Agustus tahun lalu di Hotel Garden Palace, Surabaya, Daryono ikut tampil bersama pelukis lain seperti Popo Iskandar dan Dede Eri Supria. Dalam katalog ia menulis, “Bahagia, gelisah, sepi, dan sebagainya adalah hakiki dan abadi, yang selalu merupakan sumber bahasa seni lukisku.”

Kamis pekan lalu, jenazah Daryono dimakamkan di Pemakaman Islam Manukan Lor, Kecamatan Tandes, Surabaya.

terbit 08 Februari 1992

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *