Perjalanan Pulang

Idrus F. Shahab
http://www.ruangbaca.com/

Rumi membela Al Hallaj. Ia membedakan ?bentuk? dan ?isi?, pengetahuan ma’rifah dan logika biasa.
Inilah komposisi yang biasa mengantar sebuah sama atau the whirling dervishes (para darwis berputar-putar). Komposisi sederhana yang tak pernah jelas siapa penulisnya.

Basta-i Qadim atau komposisi kuno bercerita tentang cinta, pengalaman mistis menakjubkan, juga seruling yang istimewa. Seruling buluh yang musiknya hanya bisa menyanyikan perpisahan, mengutarakan kerinduan untuk kembali ke asal. Ya, kerinduan akan rumah, pulang ke habitat semula ke tepian sungai –suatu metafor Sang Pencipta.

Dengarlah seruling itu,
Bagaimana ia meratapi perpisahannya,
?Aku terkoyak
Ingin berbagi penderitaan ini
Dan siapa pun yang terpisah dari asalnya
Akan merindukan pertemuan itu.? (?Nyanyian Seruling? ? Matsnawi)

Rumi mengambil contoh seruling buluh atau nay untuk melukiskan kondisi dan perjalanan mistis para sufi. Yaitu, mereka yang mengharapkan pertemuannya dengan Sang Kekasih.

Jalan pikiran Rumi –juga sejumlah sufi lainnya– berbeda dengan para teolog waktu itu.

Rumi menyamakan eksistensi atau wujud dengan kebenaran/kenyataan, dan ia tak pernah ragu-ragu menyatakan bahwa tiada kebenaran di luar Kebenaran/Kenyataan Tertinggi (Tuhan, al Haqq). Sementara itu, para teolog menganggap manusia dan makhluk-makhluk lain sudah merupakan kenyataan di samping Kenyataan Tertinggi. Dengan kata lain, bagi Rumi, kemutlakan eksistensi Tuhan tak bisa ditawar lagi.

Rumi memuji dan membela Al Hallaj, sufi martir, yang hidup tiga abad sebelum Rumi. Mansur Al Hallaj (858-992) adalah tokoh kontroversial yang mati di tiang gantungan setelah pernyataannya yang menghebohkan dunia waktu itu: Ana Al-Haqq (Akulah Tuhan). Dan Rumi mengajak para pembaca karya-karyanya sejenak menjengukkan kepalanya pada kondisi yang dialami Al Hallaj. Ia menggambarkan Al Hallaj tenggelam di dalam Tuhan (istighraq). Argumentasinya: selagi ia masih bergulat, ia pun akan minta tolong; seraya mengabarkan tubuhnya yang karam perlahan. Tapi fase itu sudah berlalu.

Al Hallaj telah bebas dari desakan ego yang selalu membuatnya terpaku pada dunia. Jiwa Al Hallaj telah bebas dari penjara tubuhnya, dan ia dalam pertemuannya yang ekstatis.

Dan ungkapan Ana Al-Haqq, di mata Rumi, bukanlah ekspresi kesombongan orang yang membanggakan tingkat pencapaian spiritualnya. Melainkan pantulan kerendahan hati yang luar biasa. Justru manusia yang menyatakan diri sebagai hamba Tuhan itulah yang pongah. Soalnya, ia masih mengakui dua eksistensi: makhluk dan Tuhan. Bandingkan dengan Ana Al-Haqq yang telah meniadakan eksistensi makhluk, menyerahkan dirinya secara total, dan mengakui Tuhan sebagai satu-satunya eksistensi.

?Aku telah menyingkirkan dualitas, melihat dua dunia menyatu
Satu yang kucari, Satu yang kutahu, Satu yang kulihat, Satu yang kusebut
Dia yang pertama, Dia yang terakhir, Dia yang lahir, Dia yang batin.? (Diwan Syamsi Tabriz)
Di mata Rumi, dualitas yang ada dalam pikiran kita terjadi sejauh kita hanya memperhatikan bentuk luar suatu kenyataan. Sekali kita menangkap ?isi? –ketimbang ?bentuk? –sekonyong-konyong berakhirlah dualitas antara Tuhan dan manusia, juga dualitas-dualitas lain.

Tapi pengetahuan sejati atau ma’rifah tidak mudah diperoleh. Itulah pengetahuan yang berangkat dari nama-nama yang diajarkan Tuhan kepada Adam dulu. Ma’rifah bukan buah dari latihan mental-intelektual sebagaimana yang dipraktekkan para filsuf. Rumi mengeritik para filsuf; ia mencela mereka yang dinilainya telah terperangkap pada keterbatasan bahasa. Dan juga pada opini yang luar biasa, tapi dalam perkembangannya terlepas dari obyek-obyek yang dikajinya.

Ma’rifah menyingkirkan dualitas. Para rasul, wali, dan orang kudus, melalui intuisi, telah berhasil menyingkap bahwa jawaban atas rahasia alam itu ada di dalam hati manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *