Tiga Jalan Rumi

Ali Pahlevani Rad *
http://www.ruangbaca.com/

Filosof dan penyair sufi Persia terkemuka, Maulana Jalaluddin Balkhi Rumi, dikenal sebagai salah satu humanis terbesar sepanjang masa. Rumi lahir pada tahun 604 Hijriah di Kota Balkh, salah satu kota kecil yang dulu merupakan bagian dari Provinsi Khorasan di Iran dan kini telah menjadi bagian dari Afganistan. Pada masa itu Sultan Mohammad Kharazm Shah menduduki kursi kerajaan Persia, yang daerah kekuasaannya sangat luas, mencakup beberapa negara tetangga Iran.

Selama hidupnya Rumi mempunyai banyak guru dan ustad yang mengajarkan berbagai ilmu. Dia dididik keagamaan secara pribadi oleh ayahnya sendiri. Menjelang ayahnya wafat, pendidikannya diambil alih oleh sahabat ayahnya, Sayid Burhanuddin.

Selama sembilan tahun Rumi mendapat bimbingan yang keras dan ketat dari Burhanuddin tentang pengetahuan tahapan kenabian, yang dimulai dengan pengasingan yang ketat selama 40 hari, dilanjutkan dengan beberapa meditasi dan puasa. Selama itu Rumi juga belajar selama empat tahun di Aleppo dan Damaskus, dua pusat ilmu pada waktu itu.

Saat yang paling monumental adalah pertemuannya dengan Syamsi dari Tabriz, salah satu kota di Iran, dalam usia 37 tahun. Syamsi adalah pengembara yang mendalami dunia spiritual (sufi). Saat itu Rumi dikenal sebagai profesor terkenal di bidang religi dan pencapaian mistik tingkat tinggi setelah dia menjadi penyair dan pecinta kemanusiaan.

Pertemuan Rumi dengan Syamsi merupakan pertemuan yang sangat besejarah. Syamsi adalah pembakar api dan Rumi adalah penangkap api. Mereka bagai cermin yang sempurna bagi keduanya. Selama 10 tahun bersahabat dengan Syamsi, Rumi secara spontan membuat syair dan dikumpulkan dalam sebuah buku yang tebal berjudul Diwan-Syamsi-Tabriz.

Selama kehidupannya, Rumi menyumbangkan karya-karya yang sangat berarti bagi perdamaian dan kehidupan manusia yang sebenarnya. Antara lain, Matsnawi-ya-Ma’nawi, bukunya yang sangat terkenal. Matsnawi bukan buku biasa. Buku ini dapat disebut sebagai petunjuk bagi umat manusia yang dapat mengantarkan mereka ke tujuan-tujuan mulia.

Demikianlah kita telah mengenal Rumi, meskipun hanya sedikit. Karena pada dasarnya Rumi adalah lautan yang tak bertepi, sebuah khazanah kearifan yang dalam, yang tak akan habis untuk dicerna.

Secara keseluruhan Rumi adalah salah satu humanis terbesar sepanjang masa. Pada karyanya ia selalu menganjurkan tiga hal utama, yaitu toleransi, saling pengertian, dan akses ke ilmu pengetahuan melalui cinta. Itulah kunci pencapaian tingkat kemanusiaan yang paling mendalam dan paling tinggi. Kini kita berada pada tahun 2007, 800 tahun setelah era Rumi, tetapi hal-hal yang dianjurkan Rumi masih relevan dengan kehidupan umat manusia zaman ini.

Kita perlu bertoleransi satu sama lain karena kita saling membutuhkan dan hanya dengan bertoleransi yang berdasar pada keadilanlah kita dapat hidup berdampingan. Kita harus membangun saling pengertian karena menyadari hak-hak orang lain dan mengenal batas-batas yang merupakan kunci untuk mencegah dan menghindari berbagai macam konflik.

Terakhir, kita mendapatkan akses terhadap ilmu pengetahuan melalui cinta, karena semua yang berada di alam ini merupakan ciptaan Tuhan yang Maha Besar dan Tuhan adalah cinta yang sempurna. Maka dengan mencari akses terhadap ilmu pengetahuan melalui cinta, kita mencari Tuhan dan mendekatkan diri padanya.

Filsafat, agama dan cinta merupakan tiga jalan untuk mencapai hakikat kehidupan. Rumi sebagai seorang sufi memilih untuk mencapai hakikat kehidupan melalui jalur cinta, yaitu cinta kepada Tuhan yang Maha Esa.

Untuk itu kita sebagai bagian dari masyarakat internasional yang menginginkan perdamaian, kemakmuran dan pencapaian kepada hakikat kehidupan perlu mendalami pandangan dan sikap hidup Rumi, karena dia bukan hanya seorang sufi terkemuka tetapi orang yang mengajarkan kepada dunia cara baru untuk memahami hakikat kehidupan dan mendekatkan diri kepada Tuhan yaitu melalui cinta kepada sang pencipta. Dengan mencintai Sang Pencipta berarti mencintai ciptaannya yang paling mulia, yaitu manusia itu sendiri, sehingga terbangunlah kondisi saling mencintai antara sesama manusia yang hidup di atas bumi yang satu. Demikianlah segelintir mengenai Rumi.

*) Anggota Yayasan Persahabatan Indonesia-Iran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *