Potret Perubahan Bali dalam Cerpen

Judul : Bangke Matah (Pupulan Cerpen)
Pengarang : IBW Widiasa Keniten
Tebal : 57 halaman
Penerbit : Sanggar Burat Wangi , 2007
Peresensi : I Nyoman Tingkat,
http://www.balipost.com/

SALAH satu sastrawan Bali, IBW Widiasa Keniten, cukup produktif menulis cerita pendek tentang Bali dalam bahasa Bali. Sebagai pengarang Bali, Widiasa Keniten membinarkan sastra Bali modern di tengah panasnya persaingan dari segala aspek kehidupan. Ia mencoba nglawang dengan menarikan pena menceritakan sekaligus memberitakan berbagai perubahan yang terjadi di Bali.

Sebagaimana dalam kumpulan cerpennya pertama berjudul “Buduh Nglawang”, Widiasa Keniten dalam kumpulan cerpen “Bangke Matah” ini tampaknya masih suntuk menggali eksistensi Bali dari berbagai segi, mulai dari kekhawatiran terhadap Bali menjadi seperti Betawi, manusia Bali yang hidup jadi penonton dari sebuah kemajuan, manusia Bali yang memuja kemajuan Barat melupakan kawitan, manusia Bali yang dijaili oleh sesama Bali sampai manusia Bali yang mem-pantijompo-kan orangtuanya.

Tidak hanya itu, cerpen-cerpen dalam kumpulan “Bangke Matah” ini juga mengkritik perilaku politisi Bali yang mengandalkan mistik dalam meraih kursi kemenangan. Di samping itu, masih ada kisah tentang manusia Bali yang mapinunas baik dalam melahirkan anak maupun dalam belajar menari untuk dapat ngayah.

Kekhawatiran terhadap Bali menjadi Betawi, manusia Bali yang hidup jadi penonton, dan kritik terhadap politisi tersirat dalam cerpen “Bajaj Betawi”. “Ipidan Jakartane patuh cara di Bali… Degdeg. Tiang demen gati dugase nika,” kata Bang Betawi (hal.2). Secara komparatif, dalam cerpen ini juga tersirat tergusurnya penduduk lokal sebagaimana halnya penduduk asli Betawi, manusia Bali juga hidup menjadi penonton dalam sebuah kemajuan.

Sementara itu, manusia Bali yang memuja kemajuan Barat sampai melupakan orangtua hingga menitipkan orangtua di panti jompo bisa dibaca dalam cerpen “I Basur”, “Dadong Bulan”, dan “Dadong Rerod”. Ketiga cerpen ini dapat ditempatkan dalam posisi setara karena kehadiran tokoh-tokohnya dengan perangai yang sama, yaitu tidak mencitrakan tokoh yang suputra. Watak tokoh utama dalam ketiga cerpen ini merepresentasikan pijakan hidup Barat dalam filosofi “waktu adalah uang”.

Oleh karena itu, tokoh utama dalam ketiga cerpen itu tega menjauh dari orangtua. Dalam cerpen “I Basur”, tokoh I Basur pergi ke Amerika tanpa minta izin orangtua. Dalam kisah “Dadong Bulan”, tokoh Made Badra, mem-pantijompo-kan orangtua. Hal yang sama dilakukan Gede Wijaya, tokoh dalam cerpen “Dadong Rerod”. “De, tekain apa meme ajebos. Meme meled pesan nyatua ajak Gede. Tusing padalem keto meme kakene. Awak memene dogen enu idup. Keneh memene suba mati…” (hal. 26).

Kutipn tersebut merepresentasikan manusia Bali telah menjadi bangke matah. “Awak memene dogen enu idup. Keneh memene suba mati”. Hal itu tidak terlepas dari perubahan sikap manusia Bali yang getol memburu harta bermandikan kemewahan seperti tersirat dalam cerpen berjudul “Kaplingan” dan “Dayu Brayut”. Dalam kedua cerpen ini, mental mendewakan materi sangat kentara. Pemangku pura dicitrakan pilih kasih terhadap pemedek, bergantung pada besar aturan dan sesari-nya. Secara implisit, dalam “Kaplingan”, pemangku juga terindikasi ber-KKN dengan pemedek.

Sementara itu, dalam “Dayu Brayut”, anak-anak Dayu Brayut dikisahkan terprovokasi oleh ulah seorang makelar tanah yang juga orang Bali untuk menjual warisan orangtua. Provokasi sang makelar membius anak-anak Dayu Brayut dengan janji-janji hidup berkemewahan yang justru menyebabkan sang ibu sakit hati. Pasalnya, Dayu Brayut sebelumnya menjadi penerang sekaligus berhasil mendidik orang-orang di sekeliling. Dayu Brayut benar-benar merasakan dirinya tak ubahnya babakan pule — dueg di pisaga, tetapi gagal menjadikan anak-anaknya suputra.

Fenomena Perubahan

Keseluruhan fenomena yang dilukiskan pengarang di atas dikaitkan dengan judul buku, tampaknya berkorelasi secara sematik dan intertekstual. Berhubungan satu sama lain. Walaupun diinspirasikan dari pementasan drama tari Calon Arang, tokoh bangke matah seakan menjadi representasi terhadap fenomena perubahan yang sedang berlangsung di Bali.

Benang merah yang bisa dipetik dari kumpulan cerpen ini terhadap perubahan sosial budaya yang sedang berlangsung di Bali adalah pengarang berusaha menerang-jelaskan bahwa sebagian manusia Bali telah menjadi bangke matah. Pertama, sebagian manusia Bali hanya menjadi penonton pasif dari sebuah kemajuan. Tak ubahnya, ayam bertelur di lumbung padi, tapi nyaris kelaparan. Hanya tulang pembalut kulit karena tanah sedikit demi sedikit dipindahtangankan ke pihak kaum berduit.

Kedua, sebagian manusia Bali telah menjadi pecundang walaupun pada awalnya hidup berkemewahan. Kemewahan yang pernah menjadi genggamannya, tak berumur lama lantas kembali hidup dalam penderitaan. Tanah makin sempit, pekerjaan makin sulit, sementara kemanjaan duniawi telanjur telah menggerogoti.

Untuk mengantisipasi laju perubahan Bali yang kian pesat, perlu adanya masa jeda untuk merenung sejenak. Kumpulan cerpen dalam buku ini bisa dijadikan bahan renungan sekaligus pangeling-eling agar manusia Bali tidak menjadi bangke matah. Cukuplah bangke matah sebagai tokoh dalam pentas sendratari Calon Arang yang sesungguhnya. Bukan menjadi bangke matah dalam kenyataan hidup sehari-hari, yang justru akan membuat Bali makin keropos.

Walaupun cerita-cerita dalam buku ini adalah kisah-kisah imajinatif, tetapi jelas sekali konteksnya dengan Bali kini. Oleh karena itu, dikotomi antara fiksi (cerita) dan fakta (berita) tidak perlu terlalu dipertentangkan. Keduanya bisa disandingkan untuk melihat elemen perubahan yang sedang berlangsung.

Membaca buku kumpulan cerpen ini, dengan demikian bisa memberikan nilai tambah, yaitu melihat perubahan yang berlangsung di Bali sekaligus memberikan sentuhan estetis terhadap makna sebuah perubahan. Di samping itu, bagi krama Bali, cerpen ini bisa dipakai melihat wajahnya sendiri. Sementara itu, bagi yang non-Bali, bisa membaca Bali dalam perspektif manusia Bali. Karenanya, kisah-kisah dalam cerpen ini patut dibaca oleh siapa saja yang peduli dengan Bali yang kaya akan seni budaya. Bahasa Bali yang menjadi medium utama dalam karya sastra (cerpen) ini adalah upaya mengukuhkan seni budaya itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*