Sang Bendesa Memetik Buah Karma

I Nyoman Tingkat
http://www.balipost.co.id/

Rubrik “Apresiasi” Bali Post Minggu sarat dengan kearifan lokal budaya Bali, tak terkecuali dalam pemuatan cerpen-cerpennya. Dari cerpen yang terang-terangan mengusung budaya lokal melalui cerpen berbahasa Bali (baca cerpen “Tresna Sujati”-nya Edy Suardiyana Putra), sampai dengan cerpen yang secara sembunyi-sembunyi mencoba mengkritisi kearifan lokal Bali sehingga memaksa pengarangnya membuat catatan kaki di akhir cerita untuk menjelaskan istilah-istilah dalam bahasa Bali ke bahasa Indonesia. Continue reading “Sang Bendesa Memetik Buah Karma”

Potret Perubahan Bali dalam Cerpen

Judul : Bangke Matah (Pupulan Cerpen)
Pengarang : IBW Widiasa Keniten
Tebal : 57 halaman
Penerbit : Sanggar Burat Wangi , 2007
Peresensi : I Nyoman Tingkat,
http://www.balipost.com/

SALAH satu sastrawan Bali, IBW Widiasa Keniten, cukup produktif menulis cerita pendek tentang Bali dalam bahasa Bali. Sebagai pengarang Bali, Widiasa Keniten membinarkan sastra Bali modern di tengah panasnya persaingan dari segala aspek kehidupan. Ia mencoba nglawang dengan menarikan pena menceritakan sekaligus memberitakan berbagai perubahan yang terjadi di Bali. Continue reading “Potret Perubahan Bali dalam Cerpen”

TJK, Semangat ”Glonakalisasi”

Judul : Topeng Jero Ketut
Karya : Sunaryono Basuki Ks.
Penerbit : Yayasan Indonesia Tera 2001
Tebal : 196 halaman
Peresensi: I Nyoman Tingkat
http://www.balipost.co.id/

MEMBACA novel “Topeng Jero Ketut” (TJK) karya Sunaryono Basuki Ks, ingat dengan tradisi ngaben tikus di Tabanan. Masyarakat di sana pada 2001 mengupacarai tikus dengan ngaben sebagaimana layaknya upacara ngaben bagi manusia Hindu Bali. Continue reading “TJK, Semangat ”Glonakalisasi””