Puisi Cinta bagi Sang Rasul

Aguslia Hidayah
http://www.tempointeraktif.com/

12 Rabiul Awal pada Tahun Gajah, saat itu suasana gelap seketika menjadi terang-benderang. Nabi suci telah lahir. Seluruh alam memuji dalam tasbih dan tahmid. Allahu akbar. Sang bayi telah datang untuk mengantar permadani bagi kelembutan seluruh nurani. “Ya, Nabi salam padamu, ya, Rasul salam padamu.”

Sebuah pujian dilantunkan penyair D. Zawawi Imron untuk Nabi Besar Muhammad SAW dalam pertunjukan islami bertajuk Lentera Cinta di gedung BPPT Jakarta, Selasa malam lalu. Acara ini dihelat untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW.

Zawawi, yang tampil dengan pakaian abu-abu berlengan panjang lengkap dengan kopiah hitam, mengumandangkan beberapa puisi tanpa henti. Pertama, ia menyairkan sebuah puisi berjudul Lidah.

Engkau beri aku lidah lalu kusebut nama-Mu/ tapi aneh diriku ini kusebut Engkau dalam lidahku tapi dalam hati tak kuingat Engkau/ aku bersujud menyebutmu yang terbayang pada anganku kemewahan dunia/ aku zikir menyapa-Mu ya Allah, yang kubayangkan senyuman setan/ lidah/ lidah/ lidah milikku lidah sayangku.

Selanjutnya, Zawawi berduet dengan Ratih Sanggarwati dalam lantunan puisi berjudul Ibu. “Rasulullah senang dengan umatnya yang menghormati ibunda,” ujar Zawawi kepada Ratih di atas panggung. Ratih, yang berlakon sebagai sang ibu, awalnya enggan tampil lantaran Zawawi, yang berlakon sebagai anak, umurnya jauh lebih tua. “Saya merasa sangat tua memiliki anak yang sudah tua,” ujarnya berkelakar.

Kemudian, bait-bait puisi pun mengalir. Ibu/ kalau aku merantau lalu datang musim kemarau/ sumur-sumur kering daunan pun gugur bersama reranting/ hanya mataair air matamu ibu yang tetap lancar mengalir.

Pujian itu pun langsung disambut Ratih. Petikan gitar mengiringi suaranya. Anakku/ bila ibu boleh memilih apakah ibu berbadan ramping atau berbadan mekar karena mengandungmu/ maka ibu memilih mengandungmu karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan kebesaran Allah/ sembilan bulan kau hidup di perutku, engkau ikut ke mana pun ku pergi.

Selain puisi, lantunan nada merdu dan syahdu juga mengalir dari pita suara Hedi Yunus. Hedi, mengenakan setelan putih, menyanyikan lagu berjudul Rindu Kami Padamu. Suara vokalis grup band Kahitna yang rendah itu mengajak setiap pendengar untuk tertegun dalam cinta.

Suasana yang sebelumnya khidmat berubah menjadi gelak tawa manakala seniman Slamet Gundono muncul ke atas panggung. Ukulele yang diselempangkannya tampak kontras dengan tubuh tambunnya yang berbalut baju hitam lebar. Ia membacakan syair barzanji dengan terjemahan gaya banyumasan.

Slamet pun mulai bergurau. “Saya ini umat Nabi Muhammad yang paling gemuk di Pulau Jawa karena beratnya 300 kilogram,” ujarnya. Setelah menyapa penonton, Slamet mulai bercerita tentang masa kecilnya ketika mempertanyakan sosok Rasulullah.

Acara yang berlangsung lebih dari 3 jam ini ditutup dengan penampilan KH Mustofa Bisri, yang duduk di bangku panjang di tengah panggung. Ia antara lain membaca puisi:

Ya Rasulullah/ setiap saat jasadku salat/ setiap kali tubuhku bersimpuh/ diriku jua yang kuingat/ setiap saat kubaca salawat/ setiap kali tak lupa kubaca salam/ salam kepadamu wahai nabi/ tapi tak pernah kusadari apakah di hadapanku kau menjawab salamku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *