Puisi-Puisi Susi Ayu

http://www.suarakarya-online.com/

Jauh dalam dirku bersemayam
sebuah belantara dengan pohon-pohon, belukar,
rerambatanserta binatang
yang belum lagi menyandang nama di sana kutinggal
terkadang sebagai seorang petapa,
yang membenci kata-kata atau Sita di hutan Dandaka;
menunggu Rahwana menculikku atau Rama membebaskanku
atau aku adalah segumpal tanah
yang menanti sebentuk kata lalu mengutukku menjadi Manusia.
sebatang sungai mengalir dari sana dengan air
yang diperas dari langit diperam oleh akar akar,
daun-daun yang membusuk,
juga guguran benih kadang aku terperangkap
dalam bongkah bebatuan atau menetes dari
pucuk-pucuk stalaktit
kubayangkan bahwa sungai itu
akan mengalir ke dataran
di bawah sana menjelma bendungan,
kanal, dan parit-parit.ia akan menjadi Nil, Indus,
Yang-Tze, Eufrat, Tigris, tapi yang kutemukan seringkali ia
hanya sebutir air di pucuk daun
atau sebentuk kolam tempat
seekor katak buruk tinggal bahkan cuma genangan di kelopak
Nepenthes tempat ku sendiri terperangkap
sebagai serangga sekarat
sungguh kuingin menguasai kata-kata,
mengumpulkan dan menernakkannya,
beranak pinak menjadi sekumpulan
hewan yang bisa kupanen sewaktu-waktu tapi seringkali
akulah yang digembalakannya,
dibanding sebaliknya
musim menghampiri ku dengan kata-kata membuatku hamil
dan memaksaku melahirkan sajak-sajak

Susy Ayu14 Juni 2010

Tentang Makna yang Kucatat

Aku pernah berada di luar sejarah
ketika hidupku tak dimaknai sejenis tanaman merambat
ke arah mentari sesekali berbunga dan senang bersamamu,
di taman ini aku mampu mekar sederhana
tapi bagiku seindah nirwana sebagaimana waktu membuat kita mengenyam lupa,
tapi juga mendekatkan antara kelahiran dan kematian
dalam pada itu, tak bisa kutolak,
bahwa engkaulah yang menandai kehidupanku

Susy AyuJuli 2010

Seperti Makassar,
Kini Kuterenggut oleh Bisumu

di muara Jeneberang ku menunggu
sebelum kangen mengutukku
menjadi batu batu Sombaopu yang kau susun
untuk tak bercakap denganku apa yang kau saksikan, kekasih?
ketika tak lagi kau tiupkan angin yang menghangat
selain bandar-bandar karam dan legenda kakek moyangku
yang dicuri para pengembara: cinta-cinta yang kelu
surat-surat Galileo kepada Karaeng Patingaloan
yang entah sampai ke tangan siapa

Susy Ayu27 Juni 2010

Secangkir Lumpur

beratus ratus kilometer pencarianku setelah gaung
di dada-dada yang berlubang tangis
membusuk di tiang-tiang rumah
mengganjal katupan mataku sebab lelah sia-sia berteriak
sejak empat tahun lalu tak ada yg bisa kembalikan kampungmu
tempat si tole mengejar impian sambil kau merapal juntaian doa
tinggal selembar kerudung menyentuh adzan Magrib
di penghujung puasamu senjaku luruh,
dikdi berandaku yang masih kokoh aku berbuka dengan secangkir lumpurmu

Susy AyuAgustus 2010

Untuk Mbok Jum dan Kang Rohim

B Mbok Jum dan Kang Rohim ketika jiwa jiwa telah berlumpur
maka hati tak lagi miliki mata
dan nama Tuhan dipertaruhkan
pada jutaan lembar mata uang asing
Mbok Jum dan Kang Rohim ribuan nama yang mengais
sisa nafas di dalam cengkeraman lumpur
sebagian orang menangis untukmu
sisanya berwisata atasmu sementara mereka di tempat tertinggi
sibuk melukis tanda pada peta untuk titik titik berikutnya
sambil terus bersekutu menyalahkan Tuhan
dan alam Mbok Jum dan Kang Rohim percayalah,
sesungguhnya lumpur melumat segala tidak pada rumah
tetapi pada jiwa mereka terperosok semakin dalam

Susy Ayu Agustus 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *