Sardono W. Kusumo: Membumikan Kembali Tari Tradisi

Sal Murgiyanto
http://majalah.tempointeraktif.com/

Pada suatu hari di bulan Mei. France Soir, salah satu harian terkemuka di Prancis, menulis sukses dua orang pemuda Jawa. Penari Sentot dan Sardono, yang sedang berada di Paris, setengah tidak percaya membaca ocehan kritikus Jacqueline Cartier, yang tampak tidak dapat menahan dirinya untuk memuji. Hanya sesudah harian terpercaya yang bernama Le Monde dan kemudian disusul oleh harian Le Figaro meniup balon yang sama, berita itu menjadi kukuh dan merasuk menjadi semacam kebanggaan nasional”
(“Pembaharuan Tanpa Konfrontasi”, laporan utama Tempo, 23 Februari 1974)

Berlatih silat dan tari klasik Jawa sejak kanak-kanak, tetapi memperoleh pendidikan umum dengan orientasi Barat, seperti seniman seangkatannya, Sardono W. Kusumo muda menghadapi pilihan sulit: merengkuh nilai-nilai Barat yang menekankan individualitas dan kreativitas atau memelihara nilai tradisi Jawa yang mendahulukan kebersamaan tradisi Jawa, yang mendahulukan kebersamaan kelompok, perfeksi teknis, serta kepatuhan kepada yang lebih tua dan berkuasa.

Belajar menari klasik Jawa di bawah bimbingan R.M. Djoko Suhardjo dan R.T. Kusumokesowo, Sardono mencapai puncak karirnya sebagai penari klasik Jawa pada awal 1960-an. Peran utama yang dipegangnya dalam pertunjukan wisata Sendratari Ramayana Prambanan tumbuh cepat dan bervariasi: sebagai Rama, Hanoman, kemudian Rahwana. Pada 1964 ia terpilih menjadi penari dalam rombongan pemerintah ke New York World Fair. Pertemuannya dengan penari-penari Indonesia dari daerah lain dan dengan penari modern Jean Erdman di New York membuat Sardono mempertanyakan peran dan fungsi tari tradisi masa lalu dan pada masa Indonesia merdeka.

Tari tradisi yang kita warisi pada 1945 selama 350 tahun hidup tanpa kebebasan di bawah penjajahan Belanda. Ia bukan tanpa cela. Tari tradisi istana Jawa, yang terisolasi dari rakyat dan lingkungannya, gagal mempertahankan hubungan “body, mind, and spirit” secara holistik dan tinggal sebagai klangenan (hiburan pengisi waktu) para raja yang tak lagi memiliki kekuatan politik dan ekonomi. Isi tari kemudian terfokus pada mimpi indah yang tak terwujud dan kejayaan masa silam. Kebregasan wujud diburu tetapi sepi dari esensi dan tak terkait dengan realitas dan pengalaman hidup masa kini.

Tiga aspek penting dalam tari tradisi (Jawa, Bali, dan Sunda): raga, irama, dan rasa, menjadi bukti bagaimana nalar atau akal tak mendapat perhatian yang patut dalam tari tradisi. Opini, komentar, pertanyaan, dan kritik tak dianjurkan dalam karya. Kenyataan ini membuat Sardono merenung. Sekembalinya dari New York (1965), ia ingin membumikan dan memodernkan tari tradisi Jawa yang mandek, tetapi tak mau menyangkok, meminjam, meniru, dan menjadi bayang-bayang bangsa lain.

Keinginan memodernkan tari tradisi melalui proses kreatif merupakan pertanyaan yang terus berdengung dan membuat Sardono resah dan tak bisa tinggal diam dan segera mencari pemecahan.

Kesempatan tiba ketika Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (TIM) dibuka dan Dewan Kesenian Jakarta dibentuk (1968), dan Sardono menjadi anggota termuda. Sardono tak melihat tradisi sebagai fosil museum, tak pula memujanya sebagai warisan keramat yang pantang diubah. Lebih dari sebuah hiburan, bagi Sardono, tari merupakan ungkapan pengalaman, perasaan, pernyataan pendapat, dan kebebasan. Rangkaian percobaan awal Sardono dilakukan dengan melucuti tari Jawa dari kostumnya yang gemerlap dan diberi judul Samgita I-XII (1969-70). Publik TIM di Jakarta menyambutnya dengan hangat. Umar Kayam menyebutnya tari kontemporer Indonesia, tetapi masyarakat tradisi Solo, tempat asal Sardono, belum siap dan bahkan tersinggung. Dan sejumlah telur busuk pun naik ke atas panggung.

Sardono melihat modernisasi tari Indonesia hanya menyentuh kulit, bukan esensi. Ditolak di Solo, Sardono dan sejumlah penari TIM berangkat ke Bali untuk berkolaborasi dengan seniman-seniman Desa Teges. Di Bali, Sardono menyaksikan bahwa dalam tari-tarian Indonesia asli, fungsi artisitik tak terpisah dari kosmos dan masyarakatnya. Pada 1972 Sardono berniat membawa hasil kerja samanya, Cak Tarian Rina, ke Jakarta. Tetapi estetika tari kontemporer Sardono dianggap menyimpang dari tatanan tradisi setempat. Karya itu dilarang Gubernur Bali Sukarmen.

Bagi Sardono, modernitas tari tak hanya menyangkut bentuk tetapi juga isi tarian. Modernitas tari tak boleh hanya mengabdi kepada selera elite penguasa, tetapi juga kepada rakyat. Di belantara Kalimantan, Sardono menyaksikan bagaimana dalam tradisi asli Indonesia dan bagaimana kualitas tubuh penari dipengaruhi oleh geografi, iklim, tanah, dan lingkungan.

Pada 1979, Sardono mulai menciptakan karya bertema lingkungan: Meta Ekologi (1979), Hutan Plastik (1983), Hutan yang Merintih (1987), dan Mahabhuta (1988). Yang disebutkan terakhir mendapatkan pujian di Geneva: “Di luar segala budaya, Sardono dengan jelas mewakili esensi dari segala hal. Ia mengusik batin kita yang terdalam, menyentuh hal-hal yang esensial” (Journal de Geneve).

Pada 1993 Sardono mendapat kehormatan untuk tampil di Festival Next Wave yang bergengsi di Brooklyn Academy of Music, New York. “Karya Sardono lebih dari sekadar teatrikalis yang dibesar-besarkan. Passage through the Gong berhasil menunjukkan bagaimana budaya tradisional dapat diciptakan kembali, dan tetap dapat mempertahankan spiritualitasnya. Karya Sardono mengingatkan kita akan apa yang telah lama kita lupakan, yakni bahwa kesenian dapat membuat hidup kita berbeda,” tulis kritikus tari terkemuka, Marcia Siegel.

Pada 1994, dalam forum Indonesia Dance Festival di Jakarta, Sardono menarikan sebuah improvisasi Detik… Detik… Tempo, yang dimulai tengah malam dan berlangsung empat setengah jam, untuk memprotes pembredelan tiga majalah berita mingguan Jakarta: Detik, Tempo, dan Editor. Tahun berikutnya, dalam forum Art Summit Indonesia, Sardono menampilkan karya semi-sejarah yang spektakuler, yakni Diponegoro, dengan replika transparan lukisan Raden Saleh yang menutup seluruh panggung prosenium Graha Bhakti Budaya di TIM, Jakarta.

Pada tahun yang sama ia merupakan satu-satunya seniman Indonesia yang hadir dalam Earth Summit di Rio de Janeiro, Brasil. Sardono adalah satu di antara sedikit seniman Indonesia yang secara konsisten terlibat dan memikirkan masalah hutan, lingkungan hidup, dan pelestarian bumi. Pada 1997, Sardono kembali menciptakan sebuah karya bertema lingkungan, berjudul Soloensis, yang dipentaskan di tiga negara: Hamburg (Jerman), Seoul (Korea), dan Jakarta, dan yang ditampilkan pada 1999 di Rio de Janeiro, Brasil.

Menutup milenium kedua, nama Sardono W. Kusumo perlu dicatat sebagai seniman tari yang tetap independen. Ia berjasa membumikan kembali dan memodernkan tari-tari tradisi dengan menengok kepada esensi dan memperkenalkannya ke dunia internasional melalui pendekatan kontemporer. Karya-karya Sardono mengingatkan kita kepada fungsi primer tari sebagai santapan rohani yang bernutrisi, sebagai komentar statemen, dan kritik.

Sardono membuat kita sadar tentang kompleksitas tubuh penari, yang bukan saja tersusun dari jasad ragawi, tetapi juga roh atau jiwa, pikir dan rasa, yang semuanya harus dilatih dan diasah secara seimbang.

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/

Leave a Reply