Sastra Brunei, Mencari Tema dan Bahasa Baru

Viddy AD Daery
http://www.infoanda.com/Republika

Saudara! Tangisanmu,
adalah tangisan kami juga
sama-samalah kita meneguk sedu

Kami tahu,
Saudara-saudara adalah bangsa baja
bukan kembang yang mudah layu
walau dalam derita
namun tidak pernah menyerah
…..

Puisi di atas ditulis di kamar Hotel Grand Hyatt Jakarta ketika Tsunami baru dua hari meluluhlantakkan Aceh dan Sumatera, Indonesia. Puisi tersebut ditulis oleh penyair senior Brunei Darussalam, Adi Rumi. Memang, biasanya para seniman Brunei kalau ke Jakarta, hotel favoritnya adalah Grand Hyatt, karena berada di pusat kota, atau Hotel Ambhara karena dekat Blok M.

Memang, GNP Brunei adalah 50 kali lipat GNP Indonesia. Jadi, persoalan menginap di hotel-hotel mewah ya sama entengnya dengan kalau sastrawan Indonesia ingin menginap di losmen melati. Puisi tersebut bersama puluhan puisi lainnya dengan tema Tsunami dibukukan dalam bentuk souvenir book berjudul Episod Tsunami: Peringatan Ilahi. Diterbitkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei, buku tersebut dijual dengan harga kurs sekitar Rp 250.000.

Dari puisi tersebut terlihat, bahwa bentuk dan tema serta gaya bahasa ucap puisi-puisi dan kebanyakan karya sastra Brunei saat ini memang masih sangat konvensional. Menurut sastrawan muda Brunei, Zeffri Ariff Brunei, yang kini sedang menyelesaikan kuliah S-3 di Universitas Malaysia (UM) Kuala Lumpur, sastrawan muda Brunei kini sedang getol mencari bahasa ucap baru. Karena, mereka sudah terlalu lama setiap angkatan sastra dikungkung oleh batasan lama bahasa yang konvensional dan kurang berkembang.

Namun, Zeffri menyadari bahwa pencarian itu tidak gampang, bukan karena sastrawan muda Brunei kurang berani merambah bahasa-bahasa dan tema-tema baru, melainkan karena situasi dan kondisi serta budaya Brunei yang ketat moralnya dan agamis, membatasi pilihan dan keberanian merentasi jalan baru bahasa ucap mereka. Situasi dan kondisi Brunei memang tidak seperti Indonesia yang cenderung liberal dan kurang ketat dalam penerapan hukum agama, karena agama di Indonesia lebih banyak agama formalitas alias agama KTP.

Dalam makalahnya yang dibacakan di Pertemuan Sastrawan Muda Malaysia di Pontian, Johor, Malaysia, baru-baru ini, Zeffri membagi golongan sastrawan Brunei sebagai berikut:
Pertama, golongan Penerima SEA Write Award, yakni Muslim Burmat, Yahya MS, Yura Halim, Adi Rumi, Mussidi, Badaruddin HO, A Hashim Hamid, Jawawi Ahmad, Norsiah MS, Rosli Abidin Yahya dan lain-lain. Kedua, golongan Establish, yakni Adi Misere, Mas Malinja, K Manis, Rahim Dulani, Shawal Rajab, Salmi Mesra, Kiflee Tarsad dan lain-lain. Ketiga, golongan Pelungsur (penggusur atau yang naik panggung), yakni Morsidi Mohammad, Mas Osman, Chong Ah Fok, Pudarno Binchin, Sosonjan Akhan, Aminah Mokmin, Hidop Zin, Julaihi Abdullah, PG Metassan, Yaakob Metali dan lain-lain.Keempat, golongan Peluncur (yang sedang meluncur), yakni Zeffri Ariff Brunei, Nurul Hikam Din, H Mar, Shariani HI, Amelly Ann Kissing, Puasha Kamis, Disa, Faridah Hamid, Filzah Jawawi, dan lain-lain. Kelima, golongan Abad 21 (yang sedang merayap membina nama), yakni Adi Swara, DK Rashidah, Enu Kasi dan lain-lain.

Berdasarkan pengamatan pada nomor-nomor majalah sastra Bahana terbitan Dewan Bahasa dan Pustaka (DBP milik pemerintah kerajaan) Brunei, 98 persen dari nama-nama di atas, baik dari golongan apapun, menulis dalam gaya bahasa konvensional, dengan tema yang hampir 90 persen adalah tema Ketuhanan. Karena itu, kemunculan satu atau dua pembaharu dalam khasanah sastra Brunei pastilah menghebohkan.

Karena itu pula, ketika Mussidi muncul dengan cerpen-cerpen yang karikatural mirip cerpen-cerpen Putu Wijaya di Indonesia, maka hebohlah sastra Brunei dan dengan serta merta nama Mussidi langsung melejit dan kini telah menggenggam penghargaan SEA Write Award dari Kerajaan Thailand sebagai wakil unggulan dari Brunei.

Setelah lama tenggelam lagi dalam kubangan sastra konvensional, dan seakan-akan Mussidi menjadi tokoh kesepian sebagai pembaharu, kini muncul lagi kehebohan dengan hadirnya cerpenis Pengiran Metassan Yahoo Com yang banyak membahas tema-tema kenakalan satu dua orang Brunei yang memanjakan nafsu seks dengan menyimpan isteri kedua di Indonesia.

Gaya bahasa cerpen-cerpen Metassan lucu dan satiris, dan suka menyentil ukuran-ukuran sensualitas dan seksualitas dengan dibandingkan dengan kondisi alam dan sosial politik, sehingga aneh, bombastis dan kocak. Misalnya, buah dada yang besar dibandingkan dengan bola yang diperebutkan di turnamen Piala Brunei.

Maka, sebagian pembaca menyambut kehadiran cerpen-cerpen Pengiran Metassan dengan senyum lucu dan merasa terhibur, namun sebagian besar pembaca melihat hal itu sebagai kejahatan Metassan mengimpor gaya dan kecenderungan sastra seks yang merebak di Indonesia.

Para kritikus mencerca Metassan dan menganggapnya memulai penyebaran virus pornografi dan merusak moralitas masyarakat Brunei. Tetapi sampai kini, majalah sastra Bahana masih tetap getol menyiarkan cerpen-cerpen Metassan yang temanya memang selalu berkisar kepada perselingkuhan dan petualangan seks satu dua manusia Brunei.

Mungkin, bagi redaktur Bahana, apa yang ditulis oleh Metassan adalah sebuah realitas yang tak boleh ditutup-tutupi, dan kalau ingin memberantas, maka yang perlu diberantas adalah kenakalannya, bukan cerpen yang mengungkap realitas itu. Apalagi dibandingkan dengan karya-karya sastra seks Indonesia yang vulgar, karya Metassan hanya sekuku hitamnya saja.

Lagipula, sebuah toko buku di Bandar Sri Begawan, ibukota Brunei, juga menjual buku-buku, koran dan majalah terbitan Singapura, Malaysia dan Indonesia. Harga di situ memang sudah dilipatkalikan dengan kurs yang cukup mahal, namun hal itu tidak menjadi masalah bagi masyarakat Brunei yang pada umumnya rata-rata berkantong tebal, karena pemerintah kerajaan Brunei yang berhasil memperkaya derajat penghasilan rakyatnya. Jadi, kalau membicarakan soal virus, tentunya virus itu sudah disebarkan di toko buku itu pula.

Namun, menurut Zeffri Ariff, gaya bahasa lucah (menyerempet pornografi dari Metassan justru boleh jadi akan menjadi virus yang ditiru oleh para sastrawan remaja yang ingin mencetak nama dengan cepat. Kalau begitu, persoalannya ya sama saja dengan di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *