Sayembara Menulis Surat Cinta

Damhuri Muhammad
http://www.sinarharapan.co.id/

Sebut saja nama lelaki itu MUSTAJAB. Tahun lalu ia telah berhasil meraih gelar sarjana dari sebuah perguruan tinggi negeri di kota ini. Namun, ia belum berkeinginan untuk kembali pulang ke daerah asalnya. Nun di sana, di pulau jauh. Sebuah negeri yang katanya belum tertempuh roda-roda (kecuali roda-roda nasib yang sial), dan belum tertulis dalam peta.

Sebut saja negeri itu Ranah Terandam. Sejauh ini, Mustajab belum menggunakan ijazah sarjananya untuk melamar pekerjaan. Karena tidak ada aktivitas yang berarti, Mustajab lazim disebut pengangguran. ?Pengangguran berijazah? begitu cemooh teman-temannya. Tapi, Mustajab agak keberatan mendengar olok-olok itu. Meski tampak seperti menganggur, ia justru sedang mengerjakan sesuatu. Satu-satunya pekerjaan yang dilakukan Mustajab adalah menulis. Jika menulis dapat disebut ?pekerjaan?, maka pekerjaan Mustajab adalah menulis. Yang ditulisnya bukan puisi atau cerita pendek, tidak juga artikel ilmiah, esai, atau kolom, tapi menulis Surat Cinta.

?Mestinya kamu menulis puisi atau cerpen, lalu kirimkan ke koran-koran, bukannya menulis surat cinta seperti ini.? saran Jarwo, teman dekat Mustajab yang sejak awal memang mengagumi bakatnya.

?Aku yakin cerpen-cerpenmu akan selalu dimuat? tambah Jarwo lagi.

?Mengirim tulisan ke meja redaksi koran itu seperti ?berjudi?, ndak jelas i !? jawab Mustajab santai, sambil terus memencet tombol-tombol keyboard komputernya.

?Apakah pekerjaan menulis surat cinta tidak seperti ?berjudi??? tanya Jarwo agak kesal.

?Ya, tapi setidaknya dalam perjudian ini saya belum pernah kalah. Kamu lihat sendiri kan? Pemesan surat cinta kian hari kian meningkat?.
Jarwo diam dan tak bertanya-tanya lagi.

Selama menekuni ?profesi? sebagai penulis surat cinta, hasil karya Mustajab terbukti telah ?menyelamatkan? hubungan pernikahan seorang eksekutif muda.

Sebut saja namanya Robert. Sudah tak terhitung lagi berapa kali Robert tertangkap basah berselingkuh. Dengan Selvia, sekretarisnya, dengan Sonia, partner bisnisnya, dengan Karin, mantan pacarnya, dan entah dengan perempuan mana lagi. Bagi Robert, perselingkuhan bukan hanya sekadar ?selingan?, tapi sudah menjadi sebuah ?kebutuhan?. Seperti kebutuhan makan, jika tidak terpenuhi berarti Mati. Maka, bilamana Robert tidak meniduri perempuan lain, sama juga artinya Bunuh Diri. Saat itu, keluarga Robert sudah di ambang perceraian. Pasangan suami istri yang belum cukup seumur jagung itu sudah pisah ranjang. Tapi, Robert tak mau kehilangan Annelia, istrinya. Kehilangan Annelia sama artinya dengan kehilangan semua aset usaha yang sedang dikelolanya. Konon, perusahaan yang dipimpinnya adalah hadiah perkawinan dari om Akeng, ayah Annelia. Mertuanya sendiri.

Robert sudah menggunakan banyak cara untuk memulihkan rasa percaya Annelia. Tapi ia masih gagal. Lalu, terlintas di pikirannya untuk menemui seseorang yang disebut-sebut sangat piawai menulis surat cinta. Orang itu tidak lain adalah Mustajab. Robert menceritakan permasalahannya pada Mustajab, dan dalam waktu relatif cepat, Mustajab menuliskan sepucuk surat cinta yang seolah-olah ditulis oleh Robert untuk istrinya. Anehnya, setelah membaca surat cinta bikinan Mustajab, pasangan itu pun kian rukun, hangat, dan harmonis. Mereka tak pernah bertengkar lagi. Annelia makin mempercayai kesungguh-sungguhan suaminya untuk tidak berpindah ke lain hati, meski sebenarnya Robert tak sungguh-sungguh berhenti berselingkuh. Tak berpindah ke lain hati, tapi masih sering berpindah ke ?lain tubuh?.

***
Tidak ada standardisasi tarif untuk setiap lembar surat cinta yang ditulis Mustajab. Biasanya, imbalan jasa hanya tergantung pada ?tenggang rasa? masing-masing pemesan. Jika pemesan merasa berhutang budi, maka ia pasti memberikan imbalan lebih, bahkan kadang-kadang sangat berlebihan. Robert misalnya, karena masa depan hubungannya dengan Annelia ?terselamatkan? oleh jasa Mustajab, di samping memberikan honorarium yang memadai, eksekutif muda itu juga menghadiahi Mustajab sebuah telepon seluler Nokia 9210 sebagai tanda terima kasih. Meski pada akhirnya Mustajab terpaksa menjual barang mahal itu, sebab dua orang adik perempuannya di Ranah Terandam sedang membutuhkan biaya sekolah.

Lain lagi ceritanya dengan tante Astuti. Wanita karier yang menurut perkiraan Mustajab sudah berusia 38 tahun, tapi masih perawan. Mungkin karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, Astuti terlambat mendapat jodoh.

?Bantu saya mas, please??.!? mohonnya pada Mustajab.

?Lho, tante kurang apa? uang berlebihan, rumah di mana-mana, mobil gonta-ganti, performance juga tidak ketinggalan. Kok masih kesulitan?? tanya Mustajab. Heran

?Kalau sekadar mau sih banyak Mas, Sudahlah! Tuliskan sepucuk surat cinta yang ditujukan kepada lelaki itu, saya ?kepingin? ia menjadi suami saya ? bisik tante Astuti.

?Iya , tapi anak itu kan masih muda? Jauh sekali beda umurnya dengan tante,? balas Mustajab.

?Persetan soal umur!? kata tante Astuti, jengkel.

Tante Astuti ?tergila-gila? pada lelaki berusia 23 tahun. Sebut saja namanya Joe. Ia masih tercatat sebagai mahasiswa tingkat akhir sebuah PTS di kota ini. Perawakannya tidak terlalu tampan. Cuma saja, tubuhnya kekar dan berisi, atletis dan tampaknya cukup ?jantan?. ?Ia tipe saya!? puji tante Astuti. Ia sudah menggunakan banyak cara agar Joe mau menerima cintanya. Ditawarkannya berbagai fasilitas pada Joe, mulai dari mobil, kontrakan gratis, bahkan menjanjikan jabatan di perusahaannya setelah Joe menjadi sarjana nantinya. Entah mengapa, Joe tak tergiur. Ia acuh, seolah tak butuh.

Tapi, setelah Astuti mengirimkan surat cinta (yang dipesannya pada Mustajab), tanpa pikir panjang lelaki muda itu menerima cinta yang diusung Astuti untuknya, dan saat itu juga langsung menyatakan kesediaannya menjadi suami bagi perawan tua itu. Tak lama kemudian, mereka pun menikah. Pernikahan yang sangat sederhana. Tanpa upacara, tanpa pesta, tanpa doa dan restu orang tua Joe. ?Ibu saya bisa ?mati berdiri? kalau mendengar kabar saya sudah menikah? begitu kata Joe meyakinkan Astuti, agar bersetia menyimpan rahasia.

***
Dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerdekaan, pemerintahan kota bekerja sama dengan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat menyelenggarakan sayembara. Bukan perlombaan panjat pinang, sepak bola dangdut, pacu goni, makan krupuk, atau tarik tambang, tapi sayembara menulis. Bukan pula lomba menulis artikel ilmiah, tidak juga cipta puisi atau cerita pendek, tapi sayembara menulis surat cinta.

?Apa tujuan penyelenggaraan sayembara ini, Pak ?? tanya seorang wartawati dari harian lokal di kota ini pada ketua panita penyelenggara.

?Kita ingin mengetahui seberapa besar rasa cinta masyarakat terhadap bangsa dan negara? balasnya sedikit berdiplomasi.

?Apa hubungannya cinta Tanah Air dengan surat cinta, Pak??

?Sebelumnya akan kita lihat dulu seberapa dalam rasa cinta warga pada pasangannya masing-masing,? jawabnya.

?Jika rasa cinta warga pada pasangan masing-masing kian lama kian dangkal, maka bagaimana mungkin masyarakat kota ini bisa memperdalam rasa cintanya pada bangsa dan negara? Jadi, kita mau lihat dulu hasilnya. Gitu lho, Mbak!?

?Wah, ini ide bagus Pak! Semoga sukses!? dukung wartawati itu.

Bagi warga kota yang sudah berkeluarga, surat cinta ditujukan untuk istri atau suami masing-masing. Tapi, bagi yang masih single, surat cinta ditujukan untuk kekasihnya masing-masing. Yang belum punya pacar tidak perlu khawatir, tetap bisa ikut dalam kompetisi ini, surat cinta dapat ditujukan pada calon kekasih masing-masing. Bahkan yang belum punya calon kekasih sekalipun, dipersilahkan mengkhayalkan calon pacar dan lalu tuliskan surat cinta pada perempuan atau laki-laki dalam angan-angan masing-masing. Para pemenang akan mendapatkan tropi dan sertifikat penghargaan dari bapak walikota, serta sejumlah uang dari pihak sponsor. Di samping itu juga akan diundang di acara pertunjukan baca surat cinta di balai kota pada jadwal yang akan ditentukan kemudian.

Peserta sayembara berjibun. Para mahasiswa, dosen, wanita karier, karyawan swasta, dokter, pengusaha, sales promotion girls, ibu-ibu rumah tangga, sopir-sopir bis, pedagang-pedagang kaki lima pasar inpres, satpam, kuli-kuli bongkar muat, preman-preman terminal, bahkan para penganggur dan pelacur pun tak mau ketinggalan. Sudah pasti, Robert dan tante Astuti juga ambil bagian. Tapi anehnya, Mustajab, si penulis surat cinta yang sudah kondang itu, justru tidak tertarik untuk ikut dalam sayembara itu.

?Ini kesempatan emas untukmu, Jab! Kenapa ndak ikut?? saran Jarwo, antusias.

?Mengikuti sayembara menulis itu seperti ?berjudi?, ndak jelas!? lagi-lagi Mustajab menjawab seperti itu.

?Menjual jasa penulisan surat cinta menurutmu tidak ?berjudi??? tanya Jarwo, kesal.

?Setidaknya dalam perjudian ini saya belum pernah kalah, Wo!? balasnya, tegas.

?Lagi pula yang diperlombakan kok surat cinta? Siapa yang masih bisa menulis surat cinta ketika semua orang di kota ini tak lagi punya cinta?? tambahnya.

?Lalu apa yang selama ini kamu tulis? Bukankah itu surat cinta?? lagi-lagi Jarwo bertanya.

?Saya tidak menulis surat cinta. Tapi, saya bekerja!?

?Ah, pintar ngomong kamu, Jab!? sela Jarwo, menggerutu.

***
Hari dan tanggal pengumuman pemenang sayembara sudah tiba. Tapi, sekretariat panitia masih terlihat sepi. Tak ada kesibukan yang berarti. Papan pengumuman masih kosong. Para peserta lomba mulai berdatangan memenuhi halaman kantor itu. Mereka tak sabar menunggu keputusan dewan juri perihal siapa yang berhak menggondol tropi dan penghargaan dari wali kota.

Rombongan panitia, wali kota dan beberapa stafnya datang terlambat. Ketua panitia penyenggara bersigegas tampil di hadapan ratusan warga yang berdiri berdesak-desakan. Mereka harap-harap cemas, seolah-olah semua orang yang hadir di sana merasa akan terpilih sebagai pemenang.

?Saudara-saudara sekalian! Dari ratusan naskah surat cinta yang ikut serta pada sayembara ini, ternyata tidak satu pun yang layak menjadi pemenang.?

Suasana yang tadi hiruk pikuk, hening seketika. Beberapa warga seolah tak percaya. Saling melongo, saling melirik, terheran-heran.

?Maksudnya gimana Pak? Tolong lebih jelas!? teriak Robert di barisan paling depan, lantang.

?Sayembara tahun ini dinyatakan tidak ada pemenangnya !? jawab ketua panitia dengan suara tinggi.

?Bagaimana dengan hadiahnya?. ?? tanya Kelik, preman terminal yang setengah mabuk di siang itu.

?Hadiah akan disimpan, dan akan digabung dengan hadiah untuk sayembara tahun depan.?

?Kalau sayembara tahun depan masih belum ada pemenangnya ?? tanya yang lain lagi di kerumunan bagian tengah.

?Akan ditambahkan untuk tahun depannya lagi ?

?Kalau masih belum ada juga pemenangnya??

?Berarti tidak seorang pun warga kota ini yang mampu menulis surat cinta, maka sayembara menulis surat cinta tidak akan kami selenggarakan lagi, titik!? sela ketua panitia setengah membentak.

***
Robert dan Astuti datang menemui Mustajab. Setidaknya mereka ingin bertanya tentang sisi lemah surat cinta yang mereka kirim hingga gagal memenangkan sayembara itu.

?Masa? naskah kami enggak menang, Mas?? tanya tante Astuti, penasaran.

?Iya, Jab! padahal yang saya kirim itu kan surat cinta hasil karyamu, kenapa enggak menang?? sela Robert, lebih penasaran lagi.

?Kalau naskah kami tidak menang, ya enggak apa-apalah, tapi kenapa naskah lain juga tidak menang?? Tante Astuti tak sabar menunggu jawaban Mustajab.

Mustajab menerawang sambil mengepul-ngepulkan asap rokoknya yang hampir memuntung.

?Mestinya Pak Robert dan Tante Astuti ndak perlu ikut sayembara itu!?

?Kenapa Mas?? tanya Tante Astuti lagi.

?Sejak awal saya sudah memperkirakan bahwa sayembara ?aneh? itu tidak akan ada pemenangnya,? balas Mustajab
?La iya, tapi kenapa tidak ada pemenangnya??

?Karena tak seorang pun yang bisa menulis surat cinta?

?Maksudnya ?? Tante Astuti kian nyinyir.

?Warga kota ini sudah tak punya cinta. Jadi, mana mungkin mereka mampu menulis surat cinta? ? ketus Mustajab santai.

Robert dan Astuti terperangah dan serentak mengucapkan,
?Ooooooooooooooo????!!!!?

Yogyakarta, Agustus 2004

Catatan: Sejak itu, tak ada sayembara lagi. Mustajab pun tidak menerima ?order? penulisan surat cinta lagi. Ia beralih menulis cerita pendek. Belum bisa dipastikan apakah Mustajab masih menang dalam ?perjudian? yang kedua ini, sebab sejauh ini saya belum melihat nama Mustajab terpampang di rubrik budaya koran-koran yang terbit di kota ini.

1 Dari catatan penyunting Islah Gusmian untuk buku Islam Borjuis dan Islam Proletar, Nur Kholik Ridwan, (Yogyakarta, Galang Press, 2001).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *