Soal Bali yang Paradoks

Judul buku : Dari Bule jadi Bali
Penulis : Gde Aryantha Soethama
Tebal : 225 hal.
Penerbit : Buku Arti, Cetakan Pertama, Mei 2010
Peresensi : Nyoman Sukma Arida
http://www.balipost.co.id/

BILA Anda menggemari bacaan yang lurus-lurus saja, yang linearitasnya terjaga bak aliran air sungai, mohon jangan baca buku ini! Sebab buku Dari Bule Jadi Bali (DBJB) penuh paradoks tentang Bali yang akan menjungkirbalikkan pemahaman sebagian besar orang mengenai Bali selama ini.

Berbagai fenomena paradoks khas Bali dibabarkan dengan sederhana dalam kumpulan essai ini. Digambarkan misalnya, seseorang yang sangat religius ternyata melanggar ajaran agama dengan berjudi. Atau pendeta yang seharusnya santun dan teduh, menjadi pemarah, egois, dan otoriter.

Pada skala yang lebih luas paradoks itu muncul, misalnya dalam fenomena masyarakat Bali yang terkenal religius dan gemar merawat alam ternyata sering membiarkan perilaku pengrusakan alam terjadi begitu saja. Seperti empat karya Aryantha Soethama sebelumnya Basa Basi Bali (2002), Bali is Bali (2003), Bali Tikam Bali (2004), dan Bolak Balik Bali (2006) buku ini memang lebih banyak berkisah tentang nilai-nilai positif dan potensi manusia Bali sehari-hari.

Kita bisa menemui banyak kisah manusiawi, kebajikan, ketulusan, penyerahan diri pada Sang Pencipta, atau kerelaan berkorban untuk menjaga harmoni alam. Mereka melakukan pengorbanan itu terus-menerus, tak peduli zaman modern berulang menertawakan kebiasaan yang dinilai kolot itu.

Dibandingkan empat buku sebelumnya, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan penulis dalam DBJD jauh lebih menohok. Dalam kumpulan essainya kali ini amat terasa, penulis lebih lugas ketika mempertanyakan berbagai hal yang dianggap ganjil, aneh, dan problematik menyangkut polah, kata, dan pikir manusia berikut segenap problematika yang melingkupi masyarakat Bali.

Ia, misalnya tak sungkan mengajukan pertanyaan manakala melihat tingkah orang suci yang dianggap kurang patut. Atau polah orang Bali yang pemalas, tak tergerak untuk bekerja keras. Simak misalnya waktu penulis mempertanyakan kegiatan pariwisata yang berlangsung di Bali sejak awal masa Orde Baru;

Apakah ada kegiatan pariwisata yang tidak merusak? Adakah pembangunan pariwisata yang tidak “kotor”? Apakah mungkin orang Bali bergiat dalam industri pariwisata tanpa harus menjadi pembohong atau pembual? Mungkinkah tetap menjaga kesucian Bali sementara pariwisata terus dikembangkan?

Serangkaian pertanyaan ini dipungkasi sebuah pertanyaan reflektif di akhir tulisan, “Apakah orang Bali siap dirusak oleh pariwisata?” Dalam tulisan yang berjudul “Bali Sudah Rusak?” pertanyaan ini seolah dilanjutkan dengan serangkaian analisis soal pengaruh pariwisata terhadap ke-ajegan Bali. Secara gamblang Aryantha memaparkan; Industri pariwisata berupaya terus agar Bali selalu menyenangkan.

Ada banyak keinginan, untuk mempertahankan rasa senang dan nyaman itu, Bali harus tetap seperti dulu. Muncul kemudian hasrat, untuk tetap seperti dulu, Bali jangan berubah, karena kalau berubah, Bali akan rusak. Jika rusak tentu ia tak sanggup lagi menjadi tetap menyenangkan. Tapi mungkinkah Bali tidak berubah? Bukankah pariwisata jua yang turut berperan terhadap perubahan-perubahan cepat di Bali. Apa yang harus dilakukan agar perubahan-perubahan di Bali tidak sampai merusak?

Tidak selalu memang pertanyaan-pertanyaan serupa gerengengan (bahasa Bali; keluh-kesah) yang disampaikan bernada serius. Banyak juga pertanyaan bernada canda, nakal, menggelitik, namun tanpa kehilangan daya kritisnya.

Simak misalnya dalam tulisan bertajuk “Dari Bule Jadi Bali” orang Bule yang lama di Bali, bertanya-tanya, jika mereka menjadi orang Bali, memeluk Hindu, kasta apakah berhak mereka kenakan? Bolehkah mereka memasang gelar Anak Agung, atau Gusti, mungkin Ida Bagus, untuk namanya? Apakah ia diperkenankan memilih menjadi triwangsa? Salahkah mereka mereka ketika menjadi orang Bali menetapkan diri sebagai orang yang berkasta sudra? Bagaimana halnya jika ada bangsawan dari kerajaan Inggris ingin jadi orang Bali? Bolehkah ia mengunakan gelar Anak Agung atau Cokorde di depan namanya? Siapakah yang berhak memutuskan? Sungguh, deraan pertanyaan yang amat rumit, bahkan mungkin sebelumnya tiada terpikirkan.

Walaupun dari puluhan tulisan yang tersaji kita terkesan hanya diberikan pertanyaan yang seolah tanpa jawaban. Namun di sinilah sesungguhnya kekuatan buku ini berada. Dengan mempertanyakan penulis setidaknya telah melakukan kerja kecendekiaannya, yakni menggugah kesadaran manusia Bali tentang berbagai hal yang telah mapan selama ini.

Tentang puja-puji pulau Bali sebagai daerah tujuan pelesiran utama dunia, misalnya. Atau tentang kekaguman orang luar terhadap kesenian Bali. Aryantha berhasil melihat sebuah fenomena sosial dan budaya dari sisi yang lain, yang selama luput dari perhatian orang Bali kebanyakan, bahkan dari mereka yang bergelar guru besar universitas sekalipun. Aryantha berhasil menjaga kecurigaannya terhadap segala puja-puji yang dialamatkan terhadap Bali.

Hanya saja ada sedikit kelemahan kecil dalam buku ini, yakni dalam memilih judul buku, yang terkesan kurang garang dan provokatif. Bertolak belakang dengan tulisan-tulisan di dalamnya yang amat subversif dan merangsang kegelisahan. Atau inikah contoh lain dari paradoks itu sendiri. Entahlah?!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *