Tak Mudah hanya Bermodalkan Idealisme

Jurnal “CAK” Terbit Kembali
Nuryana Asmaudi SA
http://www.balipost.co.id/

SETELAH sekitar enam tahun menghilang dari peredaran dan tiada kabar, jurnal CAK (Catatan Kebudayaan) kini hadir lagi. Peluncuran edisi terbaru (Nomor 6 Th. IV Januari – April 2002) diadakan di Kantor Redaksi CAK, di Peguyangan Kangin Denpasar, baru-baru lalu. Berbagai kalangan hadir pada kesempatan itu. Undangan yang hadir boleh dibilang sudah cukup mewakili beragam kalangan mulai dari sastra, seni rupa, musik, seni pertunjukan, budayawan, intelektual, akademisi, kalangan kampus, hingga kalangan jurnalis. Beragam kalangan tersebut, agaknya, mendukung dan menyambut gembira penerbitan kembali CAK. Dalam acara peluncuran tersebut juga ditampilkan musik-musik alternatif karya Wayan Gde Yudane, pembacaan puisi, dan diskusi tentang “Media Alternatif” yang menampilkan Haryo Prasetyo Hartanto.

Jurnal CAK pertama kali terbit pada November 1994, digagas dan diterbitkan oleh anak-anak muda Sanggar Minum Kopi (SMK) Bali. CAK, oleh para penggagasnya — antara lain tokoh-tokoh muda yang kemudian menjadi staf redaksi CAK seperti Tan Lioe Ie, Putu Fajar Arcana, Warih Wisatsana, Putu Wirata Dwikora, K. Landras Syaelendra, serta Putu Satria Kusuma — dimaksudkan sebagai media untuk bertukar pikiran, etalase karya kreatif, dan tentu saja juga sebagai “ladang” persemaian harapan suatu kehidupan kebudayaan yang lebih cerdas.

Sebagaimana diungkap dalam pengantar (“Secangkir Kopi”) penerbitan CAK edisi perdana (No.1/1994), “Awal mulanya, boleh jadi cuma obrolan iseng, percakapan berbau mimpi — kami pemuda-pemudi Sanggar Minum Kopi — untuk memiliki sebuah jurnal, buat menampung karya-karya — puisi, cerpen, esei, liputan kebudayaan dari seluruh tanah air — kami, kemudian menjadikannya sebagai media untuk saling mengasah ketajaman intelektual. Sebab, obsesi kita ternyata tak seluruhnya bisa disalurkan, dan juga ditampung, oleh banyak media massa yang bertebaran di Indonesia. Kerinduan kami seperti kelangenan anak-anak jalanan yang ingin saling ketemu di warung kopi, untuk bertukar gagasan, dan ketika kelangenan itu merangsang kami untuk mengikat janji, kami lalu sepakat untuk membangun semacam terminal buat para seniman.”

Kutipan tersebut — sebuah pengakuan yang jujur, lugu, dan mengharukan — sengaja disertakan dalam tulisan ini, sekadar untuk mengenang kembali, meniti jejak sebelum hilang terhapus kealpaan, bagaimana asal-mula lahir-terbitnya CAK. Jika kini ia terbit lagi, sepertinya ini adalah sebuah reinkarnasi setelah mati. Pun telah berkali-kali dikatakan oleh awak redaksinya, bahwa CAK hidup kembali, bereinkarnasi setelah beberapa tahun mati. Tapi, agaknya akan lebih “menghibur’ jika kata “mati” itu diganti dengan istilah “masa jeda” atau “semedhi/tapabrata” menuju proses reinkarnasi yang lebih sempurna.

Dua Jurnal
Menurut sejarahnya, CAK memang sejak awalnya lahir dari proses reinkarnasi dua buah jurnal sebelumnya yang juga diterbitkan oleh SMK Bali, yakni jurnal Lahar dan Canang. Dua jurnal itu “dilebur”, sehingga jadilah CAK. Dan, seperti sudah jadi suratan, perjalanan CAK memang agak berliku. Ia mesti “berpindah kamar” setelah edisi 1 dan edisi 2 (1995) terbit, dari SMK Bali ke Yayasan CAK. Yayasan ini sempat menerbitkannya hingga tiga nomor mulai edisi 3 (1995) hingga 5 (1996). Para pengelola Yayasan CAK adalah orang-orang SMK juga. Namun belakangan, apa daya, setelah edisi 5-nya, CAK tak kuasa lagi memperjuangkan keberadaannya. Ia tak mampu terbit lagi.

“Tidak mudah memang hanya bermodalkan idealisme semata dan tanpa dukungan finansial yang memadai, sebuah jurnal kebudayaan dapat terus bertahan di tengah kecenderungan masyarakat yang lebih menggandrungi segala sesuatu yang serba instan dan permukaan. Padahal CAK dengan segala keterbatasannya, dikelola dan disikapi justru untuk melawan keverbalan itu,” papar Warih Wisatsana dalam pengantar peneritan CAK edisi terbaru — No. 6 Th. IV 2003.

Kini, jurnal yang sejak awal diformat terbit tiap empat bulan ini, hadir dengan “dilapis” tenaga pengelola baru, para awak redaksi yang berusia muda tapi tetap sama idealisme dan semangatnya sebagaimana para “pendahulu”-nya. Para awak muda yang juga telah punya prestasi, dedikasi, kemampuan, dan tentunya juga pengalaman yang layak untuk diandalkan, khususnya dalam bidang sastra, seni dan budaya. Para awak muda yang kini menerima tongkat estafet “memangku” CAK itu antara lain Wayan Sunarta, Putu Vivi Lestari, Luh Suwita Utami, serta Ngurah Suryawan. Hal yang barangkali harus terus dicarikan jalan keluarnya adalah bagaimana agar CAK tetap bertahan hidup. Oleh karenanya, tentu tidak cukup hanya dengan modal nekat para awak CAK, tapi dukungan yang lebih kongkret pembacanya sungguh sangat dinantikan. Agar jurnal ini bisa terus eksis hadir ke kantong-kantong budaya, tidak hanya sampai ke tangan seniman di tanah air, tetapi juga ke tangan para pemerhati seni dan budaya di seluruh pelosok dunia. Pada edisi terbarunya, pada kolom “Altar”, redaksi menutup kata pengantarnya dengan “Kami sadar, CAK ada dan mengada, bersama Anda.” Nah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *