Ambarwati

Agus Kurniawan
http://www.kr.co.id/

BOTOL ketiga dia buka, setelah isi dua botol yang lain habis dia tenggak. Dituangkannya minuman keras itu ke dalam gelas, diteguknya sedikit demi sedikit untuk menikmati setiap tetes yang mengalir di tenggorokan.

Mukanya sudah memerah. Pandangannya sudah tidak lagi sempurna. Namun kesadarannya masih belum hilang untuk mengenang kisah perjalanan hidupnya yang kelam.

Terbayang dalam ingatannya wajah Emak yang menangis saat melepas kepergiannya. Keningnya dicium, ubun-ubunnya ditiup, dan tubuhnya yang berjongkok dilangkahi tiga kali sebelum dia dilepas pergi.

?Emak tidak bisa memberimu apa-apa. Kalau wajah ayumu pantas disebut bekal, itulah pemberian Emak yang paling berharga. Karena itu jangan kamu sia-siakan,? kalimat itu yang terakhir kali disampaikan Emak sebelum dia pergi. Kalimat yang masih diingatnya hingga saat ini.

Ambarwati kurang begitu faham dengan makna dari kalimat itu. Dia hanya tahu, Emak dulu pernah terkenal sebagai penari tayub karena kecantikannya. Dia hanya tahu, banyak pemuda desa yang berbaik hati pada keluarganya, juga karena kecantikan wajahnya. Mungkin karena itu Emak berkeyakinan bahwa kecantikan dapat mengubah segalanya.

Sayang sekali dunia baru yang diinjak Ambarwati terlalu asing untuk dikenali, untuk dapat cepat diakrabi. Pengetahuannya yang dangkal, serta selembar ijazah SMP membuatnya sulit mencari makan di kota besar, selain dengan menjual harga diri.

Dia menjadi pelacur murahan yang mangkal di stasiun, di alun-alun, dan terkadang di dekat tanah makam. Lelaki yang dilayaninya pun tidak lebih dari buruh-buruh kasar, tukang becak atau pengangguran dengan uang yang pas-pasan.

Hingga pada suatu hari kelebihan tubuhnya dilihat oleh seorang mucikari. Kehidupannya diangkat, ditempatkan di lingkungan yang lebih menghargai nilai sebuah kecantikan.

Dia tidak lagi mangkal dan menjalankan profesinya di sembarang tempat. Night club, cafe, dan tempat-tempat hiburan malam tempatnya mencari laki-laki hidung belang, sebelum diteruskan di kamar hotel atau losmen.

?Aku mendapat order besar, Mbar. Salah seorang kenalanku yang menjadi pejabat daerah memintaku mencari gadis penghibur untuk melayani pejabat-pejabat pusat yang akan berkunjung ke sini. Kamu bisa kan melayani mereka?? kata mucikarinya pada suatu hari.

?Tergantung besarnya bagianku.?

?Tentu saja besar bila pelayananmu memuaskan. Karena bagianmu akan diberikan langsung oleh kenalanku itu, tidak melewatiku. Aku hanya menerima tips darinya.?

Ambarwatipun menyanggupi.

Sesuai dengan waktu yang telah direncanakan, gadis itu di bawa ke sebuah kamar hotel berbintang. Kamar Projo, salah seorang pejabat yang melakukan kunjungan.

Malam itu Ambarwati mengeluarkan seluruh kemampuannya. Kemampuan dalam menghibur dan memuaskan laki-laki. Kemampuan yang dia pelajari selama bergelut di dunia hitam.

Upayanya benar-benar berhasil. Karena tidak hanya imbalan besar yang dia terima, tapi juga janji Projo untuk menemuinya kembali.

?Belum pernah aku menikmati kepuasan sebagaimana malam ini. Sayang masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, Kalau tidak, bisa aku habiskan waktuku selama di sini untuk menggeluti tubuhmu,? kata Projo sambil menatap mesra wajahnya.

?Bukankah masih ada waktu yang lain di luar jam kerja,? Ambarwati menggoda.

?Ya. Bila ada kesempatan, aku pasti menemuimu lagi,? janji Projo.

Janji itu ternyata tidak hanya sekadar pemanis bibir. Sebulan kemudian Projo datang, khusus untuk menemui Ambarwati. Melewati waktu selama satu minggu hanya untuk berdua, hanya untuk bercinta.

?Kamu lucu. Di Jakarta kan banyak gadis-gadis cantik yang bisa memuaskan nafsumu. Kenapa harus terbang ke sini hanya untuk menemuiku?? tanya Ambarwati.

?Karena tidak ada yang seistimewa kamu.?

?Lalu bagaimana dengan pekerjaanmu??

?Itu mudah diatur.?

?Tapi apa akan selamanya kamu terus begini? Pergi jauh meninggalkan pekerjaan hanya untuk bersenang-senang denganku.?

?Tidak kalau kau mau tinggal di Jakarta. Di sana aku akan memberikan segalanya untukmu.?

?Kamu serius??

?Apa kedatanganku ke sini masih belum cukup untuk menunjukkan keseriusanku??

Ambarwati terpaku mendengar kalimat Projo. Dia seolah diingatkan pada pesan Emak saat melepas dia pergi. Pesan untuk tidak menyia-nyiakan kecantikannya.

Mungkin ini yang dimaksudkan Emak, bahwa kecantikan dapat mengubah segalanya, bahwa kecantikan dapat mengubah kehidupannya. Bila memang ini yang dimaksudkan, kenapa mesti dia-siakan?

Maka berangkatlah Ambarwati mengikuti Projo. Terbang ke Jakarta mewujudkan harapannya. Harapan untuk dapat hidup bergelimang harta.

Semua bagaikan mimpi. Dari gadis desa anak penari tayub, kemudian menjadi pelacur murahan, kini menjadi teman tidur pejabat tinggi yang memberinya kemewahan. Mimpipun tak seindah yang dirasakannya saat di Jakarta.

Ambarwati tidak menyia-nyiakan keberuntungan yang dia dapatkan. Perhatian Projo yang berlebihan, melangitkan kemanjaannya. Dia minta apa yang dia suka. Dia minta segala yang menarik perhatiannya. Dan Projo bagai robot, selalu siap menuruti perintahnya.

Cukupkah semua itu?

Tidak!

Ambarwati sadar dia hanya jadi perempuan simpanan. Dia menghendaki lebih dari itu. Dia ingin Projo menikahinya. Agar bila nanti kecantikannya memudar, Projo tidak seenak perut mendepak dirinya.

?Menceraikan istriku? Tidak mungkin, Mbar,? kata Projo saat mendengar Ambarwati menyampaikan keinginannya.

?Kenapa tidak mungkin??

?Aku mempunyai anak.?

?Menceraikan istrimu bukan berarti menelantarkan anak-anakmu. Kamu bisa membawa anak-anakmu ke sini, atau kalau tidak, kamu memasrahkan anak-anak pada istrimu dan kamu mencukupi kebutuhan hidup mereka.?

?Tapi perceraian itu bisa membuat namaku tercoreng di mata masyarakat.

?Persetan dengan nama baik. Toh, selama ini hubungan kita sudah menjadi rahasia umum.?

Ambarwati terus mendesak, terus memaksa. Bahkan dengan berani dia mengancam akan mengundang wartawan untuk mengorek lebih jauh perselingkuhan mereka.

Untuk kesekian kalinya kebenaran pesan Emak terbukti, bahwa kecantikan sanggup mengubah segalanya. Belum genap tiga bulan, Projo datang dengan membawa surat cerai. Ambarwati bersorak dalam hati. Dipeluknya laki-laki itu, dan diciumnya berulangkali. Tanpa sadar kedua bolamatanya berkaca-kaca. Kebahagiaan datang tanpa diundang, sebagaimana rasa cinta yang tiba-tiba bersarang dalam hatinya.

?Kalau begitu, kapan kita akan menikah??

?Terserah.?

?Bagaimana kalau bulan depan??

?Boleh saja.?

Saat itu untuk pertama kalinya Ambarwati merasakan puncak kebahagiaan di sepanjang hidupnya. Dia segera mempersiapkan pernikahannya. Tidak terlalu mewah. Hanya pesta kecil dengan mengundang teman-temannya, juga Ibunya yang masih tinggal di desa.

Semua sudah dipersiapkan. Tinggal melaksanakan. Tapi justru di saat pernikahan tinggal satu minggu, datang berita yang memporak-porandakan segalanya.

Projo ditangkap. Dituduh menggelapkan miliaran uang negara!

Kini, di tengah larut malam yang sepi, tiga botol minuman keras telah tandas ditenggak Ambarwati. Kesadarannya hilang, dan mulutnya terus menggumam tidak karuan!

[Jember]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *