Andrea Hirata, Ingin ‘Sulap’ Tanah Kelahiran Jadi Desa Sastra Pertama

Endro Yuwanto, Neni Ridarineni
http://www.republika.co.id/

Penulis novel ‘Laskar Pelangi’, Andrea Hirata, ingin menjadikan Desa Linggang, di Pulau Belitung, yang merupakan tanah kelahirannya sebagai desa sastra pertama kali di Indonesia.

”Sampai sejauh ini konsep Desa Sastra Linggang merupakan inisiatif pribadi saya saja. Konsep ini sudah lama ada dalam pikiran dan ide saya itu semakin menemukan jalan ketika saya dapat beasiswa sastra ikut International Writing Program (IWP) 2010 di University of Iowa, Amerika Serikat ini. Iowa city ini baru tahun lalu terpilih sebagai Unesco city of literature. Maka saya telah lihat sendiri bagaimana konsep sebuah kota literatur dan bagaimana pengelolaannya,” kata Andrea pada Republika, lewat surat elektroniknya yang dikirim Sabtu malam (24/10).

Menurut Andrea, untuk konsep desa sastra Linggang, pada tahap awal akan diletakkan pada tiga aktivitas pokok yaitu residensi, apresiasi, dan sebagai tempat untuk event sastra . ”Untuk program residensi ini saya sendiri, dengan sumber daya pribadi, telah membangun rumah puisi itu. Di rumah itu saya menyediakan fasilitas cuma-cuma bagi para penulis baik dari dalam maupun luar negeri yang mau berkarya, bahkan ada perpustakannya. Beberapa penulis luar negeri yang saya temui di Amerika telah menyatakan kesediaannya untuk memnafaatkan program residensi itu,” tutur Andrea.

Selanjutnya, untuk apresiasi, kata Andrea, sementara ini masih dalam bentuk Festival Laskar Pelangi yang akan berlangsung tanggal 1-30 November ini. Dalam festival itu ada workshop kepenulisan, disediakan media untuk berekspresi berkenaan dengan karya sastra, mulai dari reading sampai pada penampilan musikalisasi puisi.

Sementara, aktivitas ketiga adalah Desa Linggang diharapkan mampu menyediakan tempat bagi event-event sastra seperti konferensi penulis/sastrawan, serta festival-festival sastra yang bersifat lebih spesifik.

Dia berharap dengan dijadikannya Desa Sastra Linggang dapat mendorong perkembangan dunia sastra dan tulis menulis di dalam negeri, semakin meningkatkan apresiasi pada karya sastra, dan meningkatkan minat baca. Di samping itu juga untuk membangun budaya dan pariwisata Desa Linggang dalam bentuk sebuah desa berkonsep. Diakui Andrea untuk membangun desa sastra yang ideal tentu tidak bisa terjadi sekejap mata dan diperlukan proses yang lama dan komprehensif.

Umumnya pemikiran-pemikiran kreatif amat susah diserap oleh pemerintah daerah setempat, Di Belitong Timur saja misalnya, orang-orang luar menganggap tidak ada konsep yang jelas selama lima tahun terakhir ini untuk menggarap momentum Laskar Pelangi. ”Dinas Kebudayaan dan Pariwisatanya tergagap-gagap. Namun sekarang Belitong Timur baru saja dipimpin oleh kepala daerah yang baru yang memiliki pemikiran progresif , terbuka pada ide-ide kreatif, dan menghargai karya budaya. Mudah-mudahan ide saya ini menemukan jalannya di kampung sendiri,” tegas Andrea dari Iowa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*