INE FEBRIYANTI – HAPPY SALMA Terlibat Teater Akbar Nyai Ontosoroh

Laurentius
http://www.suarakarya-online.com/

Setelah absen selama tiga tahun di panggung hiburan, artis dan presenter Ine Febriyanti kembali ke dunia teater. Tak tanggung-tanggung, ia langsung terlibat dalam pementasan teater akbar, Nyai Ontosoroh. Sebuah pementasan teater yang diadaptasi dari sebuah novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, yang telah disadur ke dalam 40 bahasa.

Sekian lama tak bersentuhan dengan panggung teater, membuat Ine terlihat cukup canggung. Ia terkesan meraba kedalaman karakter Madam Pieters itu. Namun, bisa dimaklumi, membawakan karakter kuat Madam Pieters dengan berbahasa Belanda yang di Indonesia-kan bukan hal yang mudah. “Kita dapat reading hari ini, belum latihan langsung dicoba,” kata Ine di Goethe House, Menteng, Jakarta (15/9).

Sebenarnya Ine mengincar peran Nyai Ontosoroh, namun ia harus rela peran itu jatuh ke orang lain, yakni Happy Salma. “Tokoh Madam Pieters mempunyai karakter sama kuat dengan Nyai Ontosoroh,” ujarnya menjelaskan.

Meskipun gagal mendapat peran sebagai Nyai Ontosoroh, tak ada rasa kekecewaan di dalam diri Ine. Baginya, teater merupakan dialog pembelajaran yang berproses terus-menerus. Karena itu, baginya sangat mengerikan kalau pementasan ini hanya sebagai batu loncatan karier untuk bisa ke sinetron atau film.

Ine selalu mementingkan sebuah proses yang ada pembelajaran secara terus-menerus. Dia membutuhkan wadah eksploitasi karakter beragam. Dan itulah yang membuat ia “kaya”.

Di sisi lain, Ine sangat mengagumi tokoh Nyai Ontosoroh ini. Perempuan yang mempunyai pendirian kuat, ulet, pantang menyerah, melawan kesewenang-wenangan kekuasaan, menyuburkan benih kemandirian dan membakar semangat juang melawan penindasan. “Dia tokoh nasional, sama dengan Kartini maupun Cut Nyak Dhien,” pungkas Ine.

Teater Nyai Ontosoroh dengan sutradara Ken Zuraida rencananya baru dipentaskan April tahun depan. Perguruan Rakyat Merdeka yang didukung oleh beberapa lembaga independent, seperti Elsam, Institut Ungu, Jaringan Nasional Perempuan Mahardhika, JARI, Kalyanamitra, Koalisi Perempuan Indonesia, Komunitas Ciliwung, LBH APIK, Pramoedya Institute, Pantau, Perkumpulan Praxis, Perlumpulan Seni Indonesia, dan Solidaritas Perempuan, akan bertindak sebagai produser dalam pentas teater ini.

Pemain pendukung terdiri dari Happy Salma, Ine Febrianty, Jajang C Noor, Maryam Supraba, Zaenal Abidin Domba, Arswendi Nasution, Edi Haryono, David Chalik, serta beberapa nama yang sudah beken di dunia teater, akan turut dalam pementasan Nyai Ontosoroh di 13 kota di Indonesia.

Kisah Nyai Ontosoroh pertama kali dituturkan oleh Pramoedya Ananta Toer di camp penjara Pulau Buru pada tahun 70-an dalam rangka mengangkat semangat para tahanan yang sedang menderita demoralisasi sesudah terjadi pembunuhan dan siksaan terhadap para tahanan politik 1965.

Kisah tersebut oleh Pramoedya Ananta Toer diangkat menjadi novel dengan judul Bumi Manusia dan menjadi bagian dari tetraloginya dan disadur oleh Faiza Mardzoeki ke dalam naskah drama berjudul Nyai Ontosoroh.

Nyai Ontosoroh adalah Sanikem, salah satu dari jutaan perempuan desa yang tepat pada masa akil baliq-nya “dijual” ayahnya kepada seorang Belanda demi mendapatkan jabatan juru tulis. Dijadikan gundik Herman Mallema, perempuan belia Sanikem justru menempa dirinya menjadi matang dan dewasa, terus-menerus mengolah kecerdasan maupun kebajikannya untuk kedaulatan, tidak hanya dirinya sendiri, tetapi juga anak, keluarga, masyarakat, dan bahkan bangsanya.

Atas dasar tersebut, PRM menyambut gagasan Faiza Mardzoeki untuk menyelenggarakan kegiatan kebudayaan pementasan teater itu. PRM melihat, yang cukup menonjol dari naskah Nyai Ontosoroh adalah proses pembangunan karakter berdaulat yang mampu menghadapi dan melawan kekuasaan dengan tanpa mencabik-cabik integritas perorangan maupun kelas.

Pementasan teater Nyai Ontosoroh ini akan dipersembahkan bagi perayaan hari Hak Asasi Manusia, Hari Perempuan, yang keduanya jatuh pada Desember 2006 serta Hari Kartini pada April 2007.

Pentas yang akan diselenggarakan di 13 kota dengan kelompok-kelompok berbeda, yaitu Padang, Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogya, Surabaya, Denpasar, Pontianak, Mataram, Makassar, dan Kendari.

Masing-masing daerah akan melakukan pementasan pada Desember 2006 hingga April 2007. Sementara pementasan di Jakarta akan diselenggarakan pada April 2007.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *