Ketika Rieke Diah Pitaloka Berpuisi

Benny Benke
http://www.suaramerdeka.com/

RIEKE Diah Pitaloka , perempuan supel yang mengawali karier sebagai artis sinetron, tampaknya semakin serius menggeluti dunia sastra, terutama puisi. Baru-baru ini (20/5), perempuan yang juga sedang tekun berteater itu (kali terakhir ia bermain dalam Ekstrem dan Cairan Perempuan) meluncurkan kumpulam puisi bertajuk Renungan Kloset, dari Cengkeh sampai Utrecht. Antologi puisi itu, berisi 40 puisi bertema kritik sosial, cinta, religiusitas, dan semangat pembelaan terhadap kaum perempuan.

Bertempat di Warung Apresiasi, Bulungan Jakarta, jebolan Fakultas Sastra Jurusan Sastra Belanda Universitas Indonesia itu dengan bangga memperkenalkan buku kumpulan puisi yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Sebelumnya buku itu pernah diterbitkan oleh penerbit Malibas dengan judul Renungan Kloset. Yang membedakan dengan terbitan buku perdananya, buku yang kata pengantarnya ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma itu berisi proses kreatif kreatornya, terhitung sejak 2000 hingga sekarang.

Baca Sajak

Dalam peluncuran yang kemudian disertai dengan pembacaan sajak-sajaknya oleh beberapa rekan Rieke, seperti Rachel Maryam Sayidina, Melly (Angin Malam) Zamry, Nani Wijaya, Harry Roesly, Khofifah Indarparawansa, dan salah seorang penyair papan atas tanah air Sitor Situmorang, itu terjelaskan betapa sajak-sajak Rieke -yang juga sedang merampungkan program pascasarjana Filsafat UI- itu lumayan memenuhi kandungan sastra yang debatable.

Atau paling tidak, kesungguhannya terjun dalam dunia sastra yang sepi publikasi dibandingkan dengan habitat muasalnya, dunia selebritas, patut mendapatkan apresiasi. Tidak mengherankan, jika penyair asal Gubug Purwodadi, Sitok Srengenge, yang hadir bersama cerpenis Djenar Maesa Ayu serta Richard Oh (konseptor Katulistiwa Award) berkomentar lirih perihal kedalaman kandungan nilai sastra dalam puisi Rieke. “Ah, ojo ditakokke!” ujar Sitok.

Ya, memang belum ada yang istimewa dan baru dari syair-syair Rieke, yang juga pernah diundang ke festival sastra bergengsi Winternachten di Belanda itu. Sajak-sajak semacam “Ibu”, “Mempelai Wanita”, “Surat untuk Latifah”, “Di Lapas Wanita Tangerang”, “Menjelang Subuh di Gang Doli” dan “Note”, cenderung bermain pada tataran metafora dan alegoris belaka. Pun pada diksional syairnya, masih rata-rata. Mungkin Rieke sedikit alpa, tidak mudah menjadi penyair dibandingkan hanya sekadar menjadi selebritas. Jalan di dunia kepenyairan masih panjang, Riek… ***