Mengapresiasi Sastra Picisan

Reiny Dwinanda
http://www.infoanda.com/Republika

”Cringgggggg….!!”
Pada saat itulah Sin Liong yang mencelat ke atas itu bergerak cepat bukan main, tubuhnya sudah berjungkir balik, menukik turun dan kedua tangannya menyambar seperti sepasang garuda.
”Plak! Plak!”

Ouwyang Cin Cu dan Kiam-mo Cai-li mengeluh. Kakek itu terhuyung dan memuntahkan darah segar, sedangkan Kiam-mo Cai-li terguling-guling, kemudian meloncat berdiri dengan muka pucat. Baju di pundak kedua orang sakti ini robek terkena tamparan tangan Sin Liong!

Adegan perkelahian di atas dicuplik dari cerita silat (cersil) Bu Kek Siansu bab 19. Cersil karya Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo itu dibacakan dalam acara Lampion Sastra I tahun 2007, di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jumat (16/2) silam.

Tiga cersil lainnya, yakni Membunuh Naga (Ie Thian To Liong Kie) karya Chin Yung, Peristiwa Bulu Merak dan Pendekar Binal karya Khu Lung juga dibacakan di depan publik. ”Ini dia yang kita tunggu-tunggu,” ujar Rieza Fitra Mulyawan, ketua Masyarakat Tjersil.

Kegirangan Rieza bisa dimaklumi. Apalagi, selama ini, keberadaan cersil dalam khasanah sastra Indonesia selalu dikesampingkan. Apa pasal? Genre cersil yang beredar di Indonesia merupakan terjemahan dari bahasa Tionghoa. Pemakaian bahasa Melayu rendah pada cersil membuatnya disetarakan dengan sastra picisan.

Citra tersebut nyatanya tak membuat cerita silat kehilangan pembacanya. Tercatat, 2.800 orang tergabung dalam milis Masyarakat Tjersil. ”Mayoritas berusia lebih dari 40 tahun,” papar Rieza.

Sembari tertawa getir, Rieza memaparkan tak ada satupun anggota Masyarakat Tjersil yang berumur di bawah 20 tahun. Ini sekaligus membuktikan betapa cersil tak mendapat tempat di hati pembaca muda. ”Tantangan terberat kami adalah mempopulerkan cersil pada anak muda.”

Fenomena tersebut terbaca jelas oleh Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Sebagai bentuk dukungan, cersil pun dibacakan di Lampion Sastra. Ini adalah gelaran bulanan DKJ yang dimulai sejak tahun 2006. ”Kami memilih empat karya dari tiga penulis ternama untuk dibacakan kepada khalayak,” ujar Zen Hae, ketua Komite Sastra DKJ.

Komite Sastra DKJ punya alasan tersendiri dalam pemilihan keempat cersil yang dibacakan di Lampion Sastra. Cerita-cerita silat saduran ini dianggap sebagai cikal bakal penulisan cersil di Indonesia. ”Di samping itu, cersil memang bagian dari sastra Indonesia. Ia memberikan alternatif dari kecenderungan umum karya sastra serius,” papar Zen.

Cersil, lanjut Zen, menduduki tempat khusus dalam sastra Indonesia. Pada mulanya, ia hadir bersamaan dengan bertumbuhnya sastra peranakan Tionghoa. Ketika itu, cersil lebih sering diterjemahkan atau disadur oleh para penulis peranakan dari khasanah cerita silat Cina. Seiring waktu, terbitlah sejumlah cerita silat dari pengarang Indonesia. Pengarangnya tak melulu keturunan Tionghoa. Ceritanya kerap memakai latar negeri Tiongkok atau daerah-daerah di Indonesia.

Nur Zen mengakui, beberapa keunggulan ada pada cersil. Utamanya, permainan jurus-jurus silat yang memukau. Di samping itu, bahasanya plastis, sastrawi. Alur cerita cersil, lanjut Zen, bercabang-cabang. Ceritanya bisa dipastikan mengandung ketegangan tertentu yang selalu membetot pembaca untuk membacanya hingga tamat meski berpuluh-puluh jilid. ”Belum lagi, kisah cinta, erotisme, tragedi, intrik politik, pandangan filosofis, hingga ilmu gaib, serta humor yang menyegarkan menjadi bagian yang ikut menjadi daya pikat cerita silat,” urai Zen.

Tampil sebagai pembaca cersil di Lampion Sastra, Putu Wijaya merasa amat terkesan. Terlebih, cerita yang dipilihkan Komite Sastra untuknya adalah Peristiwa Burung Merak. ”Ceritanya bukan cuma silat pedang. Tetapi juga silat batin. Kisahnya berbeda dengan cersil lainnya,” komentar dramawan penggemar cersil itu.

Cersil tertua di Indonesia terbit tahun 1908. Sepanjang tahun 1920 hingga 1970 cersil digandrungi masyarakat baca Indonesia. Popularitasnya makin terdongkrak menyusul penerbitan cersil secara bersambung di surat kabar. ”Pada tahun 1960-an, ketenaran cersil sempat pudar lantaran adanya pelarangan dari pemerintah tentang pemuatan cersil di koran. Menyiasati kekangan seperti itu, cersilpun menyapa masyarakat dalam bentuk buku,” ungkap Rieza.

Sejak tahun 1980, buku cersil tak lagi semarak. Perhatian penggemar cerita silat beralih ke video cersil. ”Cerita silatnya tetap digemari namun bukunya tersingkir,” kata Rieza. Era berganti, segelintir pecinta cersil berupaya melestarikan cerita-cerita silat legendaris. Ada saja yang bersungguh-sungguh mempopulerkan cerita silat. Hingga ke dunia maya, malah.

Coba saja gunakan mesin pencari (search engine). Sederet blog serta milis grup penikmat cersil pun seketika terpantau. Internet memang telah memudahkan komunikasi serta penyebaran informasi antar-sesama penggemar cersil di dalam dan luar negeri.

Masyarakat Tjersil belakangan sibuk menerjemahkan serta mengetik ulang cersil untuk diterbitkan dalam bentuk electronic book alias e-book. Sekitar lima judul cersil tersedia di situsnya. Siapa saja yang tertarik bisa men-download-nya. ”Karena dilakukan secara suka rela, pengerjaannya tentu tidak bisa dipastikan kelancarannya,” papar Rieza. Cersil, lanjut Rieza, tak ubahnya roman kepahlawanan. Ceritanya menarik untuk disimak. ”Sama tebalnya dengan Harry Potter.”