Penulis Sastra dan Kuis Berhadiah

Anindita S. Thayf
http://m.kompas.com/

Tanggal 15 Oktober 2010, saya menerima penghargaan sastra dari Balai Bahasa Yogyakarta. Novel saya, Jejak Kala, dianggap layak disemati julukan sebagai yang “terbaik” dari puluhan karya sastra yang ditulis para penulis Yogyakarta dan diterbitkan oleh penerbit Yogyakarta. Tentu saja saya senang: ada karya saya yang mendapatkan penghargaan.

Namun, sebuah ironi lantas menyeruak bersamaan dengan malam “upacara” penerimaan penghargaan tersebut yang bertempat di arena Jogja Book Fair 2010. Seorang teman berbisik, novel Jejak Kala sudah masuk jajaran novel yang diobral. Dengan kata lain, novel tersebut tidak laku di pasaran.

Memilih menjadi penulis sastra setidaknya membutuhkan dua lapis ketabahan. Pertama, ketabahan ditolak penerbit karena karyanya termasuk dalam kategori “tidak membawa hoki”. Kedua, jika pun diterima dan diterbitkan, harus bersiap-siap menerima laporan royalti penjualan yang angkanya lebih sering berada di bawah standar upah pekerja minimum akibat tidak laku di pasaran.

Memang, ada beberapa novel yang penjualannya mampu menghebohkan pasar, tetapi itu hanyalah “keberuntungan” yang terjadi pada segelintir penulis. Keberuntungan yang mengundang para penulis lain bergegas menirunya secara berjemaah dengan harapan ingin mencecap nasib serupa; hidup kaya dan terkenal pada akhirnya. Tak pelak lagi, rak-rak toko buku pun disesaki berbagai karya epigon. Inilah ironi yang lain.

Karya sastra memang unik. Sastrawan asal Jerman, Gunter Grass, dalam satu wawancara berpendapat, karya sastra bisa mengubah dunia. Menurutnya, sastra bisa menjadi jiwa dari sebuah peradaban. Tentulah kata-kata Grass tersebut mendongkrak posisi sastra hingga menjadi sangat prestisius. Akan tetapi, pada sisi lain, fakta menunjukkan pula, karya sastra tidak mudah diterbitkan. Adikarya James Joyce, Ulysses, berkali-kali ditolak penerbit hingga ditemukan Sylvia Beach, yang mau menerbitkannya dalam bentuk sederhana sebanyak beberapa ratus eksemplar saja. Pun karya Multatuli, Max Havelaar, yang sulit sekali menemui pembaca karena penerbit enggan mencetaknya.

Sebenarnya masih berderet-deret lagi ironi yang harus dialami penulis sastra dan karyanya. Bayangkan saja, setelah sebuah karya berhasil dicetak dan didistribusikan, tanggapan yang diberikan pasar lebih sering menjauhi harapan. Penulis pun kelimpungan karena tidak memperoleh pemasukan. Tak heran dalam kongko-kongko di kalangan penulis masih sering terdengar kabar tentang sastrawan A yang sedang sakit keras tetapi tidak punya dana untuk berobat, atau sastrawan B yang harus berpindah-pindah rumah kontrakan karena harga sewa yang naik tiap tahun, atau sastrawan C yang kesulitan membayar biaya pendidikan anaknya.

Dalam lanskap kapitalisme, keuntungan yang sebesar-besarnya memang merupakan tujuan akhir dari sebuah proses pembuatan dan penjualan suatu komoditas. Jika pun karya sastra bisa disebut sebagai barang komoditas, maka ia akan bertengger di nomor urut terbawah dalam daftar komoditas yang bisa menghasilkan laba. Sebuah novel, kumpulan cerpen, atau puisi yang mampu membuat dirinya laku separuh saja dari jumlah cetakan pertama, dalam rentang waktu satu tahun, sudah bisa dikatakan sebagai jagoan.

Tidak salah jika penerbit menomorsekiankan karya sastra karena tujuan mereka sudah jelas; mencari keuntungan. Ukuran para kritikus atas suatu karya sastra, semisal dianggap mampu mengubah dunia, berestetika tinggi, berkarakter yahud, dan lain sebagainya tidak akan pernah menjadi pertimbangan penting para penerbit.

Ikut kuis

Lantas, kalau situasinya seperti itu, haruskah seorang penulis berhenti memproduksi karya sastra? Jika hal tersebut ditanyakan kepada saya, maka jawabannya tidak. Bagi saya, sastra tetap harus ditulis dalam kondisi dan situasi apa pun karena merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban saya kepada masyarakat. Hanya lewat sastra, saya mampu mewakili zaman (saya) untuk berbicara tentang apa yang tengah terjadi. Ruang dan kesempatan yang belum menguntungkan bukanlah penghalang untuk terus menulis karya sastra.

Dalam kondisi seperti ini, penulis tidak bisa begitu saja menyalahkan penerbit. Sebagai suatu bentuk usaha, mereka sudah pasti selalu memprioritaskan buku-buku yang mampu memberi keuntungan. Pun tidak bisa pula mencaci pembaca dengan berkata mereka hanyalah sekelompok pembaca malas karena enggan menyentuh karya sastra. Untuk menyiasatinya, penulis sastra dituntut lebih kreatif lagi membuat terobosan atau menciptakan celah agar bisa terus berkaya, sekaligus membiayai hidup. Imajinasi tidak hanya dibutuhkan saat menulis, melainkan juga saat kepepet: ketika menghadapi kenyataan bahwa profesi yang digeluti ternyata tidak mampu menghidupi.

Seno Gumira Ajidarma, misalnya, selain dikenal sebagai penulis sastra juga sebagai wartawan dan dosen. Linda Cristanty pun menempuh jalur serupa, menjadi penulis sekaligus wartawan. Sementara seorang penulis dari Yogyakarta, Kris Budiman, setelah novelnya yang berjudul Lumbini terbit, lebih menggiati profesi sebagai fotografer candi, sembari menjadi kurator lukisan dan pengkaji sastra. Ragam profesi tersebut merupakan contoh terobosan yang dilakukan sejumlah penulis sastra demi bertahan hidup, terutama ketika penjualan karya mereka tidak menggembirakan.

Menjadi editor, penulis skenario, pembicara dalam pelatihan menulis, hingga membuka usaha juga merupakan profesi-profesi sampingan yang sering kali dipilih, selain pekerjaan pokok sebagai penulis sastra.

Toh, dengan beragam profesi tersebut, karya mereka tetap oke-oke saja-walaupun ada pula yang dibuat lupa menulis oleh kesibukan pekerjaan sampingannya.

Saya sendiri memilih rajin mengikuti kuis berhadiah, kuis teka- teki silang, undian produk, atau lomba resep masakan sebagai salah satu terobosan. Semisal, sebuah produk minuman mengadakan kuis seputar produknya, maka saya akan mengikutinya. Meskipun hanya mendapatkan berkotak-kotak kopi, misalnya-bukan uang-jika memenangi kuis itu, setidaknya saya bisa sedikit menghemat atau mengalihkan uang “beli kopi” untuk kepentingan lain. Contoh lain, saya juga mengikuti lomba menulis resep berhadiah panci. Bukankah lumayan mendapat panci gratis tanpa membeli?

Saya memilih terobosan tersebut karena tidak terlalu memakan waktu, meskipun terkesan “untung-untungan “-serupa pula dengan kesempatan sebuah media memuat kiriman cerpen saya. Dengan begitu, sebagian besar waktu saya pun bisa digunakan untuk membaca, melakukan riset, dan menulis karya sastra. Saat-saat menggembirakan bagi saya bukanlah pada waktu menerima laporan penjualan dari penerbit-yang umumnya berisi sederet angka dengan nol yang pelit-melainkan ketika tahu telah beruntung memenangi sebuah kuis atau undian. Bukankah menarik menjadi penulis sastra yang rajin ikut kuis?

Semoga terobosan ini bisa menjadi inspirasi bagi penulis lain. Sekarang, sembari menunggu karya saya meledak di pasaran, saya akan menjawab sebuah kuis berhadiah telepon saku tercanggih. Lumayan kalau beruntung mendapatkannya, saya bisa menjualnya kembali dan uangnya untuk menambah dana belanja bulanan.

ANINDITA S THAYF Penulis, Tinggal di Yogyakarta