Puisi di Tanah Perburuan

Musmarwan Abdullah
http://blog.harian-aceh.com/

DAN begitulah kenangan suatu malam bersama Idrus K. Rani buyar karena sayup-sayup saya mendengar suara percakapan dari kegelapan kaki bukit. Kawan-kawan baru keluar dari hutan menuju ke arah saya. Ketika dekat, baru saya tahu, tak satu pun buruan mereka dapat. Mereka kasihan pada saya yang telah menunggu lama. Dan, tentu saya lebih kasihan lagi pada mereka yang telah berlelah-lelah tanpa hasil.

Sekiranya saya tidak terkilir di batu berlumut waktu menyeberangi alur di bawah bukit ini tadi, tentu saya ada bersama teman-teman masuk dan keluar hutan mencari buruan. Malah, seperti kebiasaannya, setiap ada kancil atau napo yang terpelanting-pelanting kena tembakan salah seorang kawan, sayalah yang segera menyembelih kancil itu, menetaskan dadanya untuk mengeluarkan semua isi perut agar dagingnya tidak membusuk hingga esok pagi.

Ah, untuk membelah dada seekor kancil dengan pisau yang tajam dan mengeluarkan semua isi tubuhnya dari usus hingga limpa dengan tangan berlumur darah, membutuhkan jiwa yang tidak terlalu lembut.

Hanya setengah jam sahabat-sahabat saya duduk melepas penat sembari menghirup kopi yang saya tuangkan dari bungkusan plastik ke satu gelas yang kami hirup secara bergiliran, lalu bergerak lagi menuju ke kegelapan hutan sebelah lain bukit, melanjutkan perburuan.

Saya kembali sendirian di atas bukit Blang Mie, di bawah langit Laweueng, Muara Tiga, Pidie, ini menunggu mereka, mungkin hingga subuh nanti. Kembali saya tatap warna remang laut Selat Malaka di sebelah utara dan pernikan lampu Kota Sigli di sebelah timur. Sesekali saya biarkan tatapan terpateri lama pada gelap magis hutan berpohon semak di sekeliling bukit. Dan enam bait puisi karya penyair dari Nagan Raya itu kembali terngiang-ngiang di ruang penghayatan saya.

Tulisnya, ?Ketika diammu mengisyaratkan guris ilalang/ aku terpelanting merengkuh bayangan diri/ engkaukah yang datang dan pergi/ dalam kelam sunyi abadi/ dan tiba-tiba menawarkan nyanyian hutan cemara/ hingga aku tersesat di belantara rasa haru.?

Aduhai, sekiranya yang duduk di atas ketinggian ini di malam bertabur bintang begini adalah bukan saya, tapi Idurs dan Pak Isnu Kembara (Penyair Senior Meulaboh), berjuntai-juntai bait syair akan terangkai dari alam jiwa mereka yang lembut.

Dan ketika hampir subuh kawan-kawan membawa buruan yang sudah siap disiangi di air alur, saya segera menyiapkan api unggun hingga menyisakan bara untuk memanggang buruan.

Seketika saya kembali terngiang nasehat Idrus dalam sebuah pesan pendek (SMS) beberapa waktu lalu, ?Harapan saya semoga Abang sedikit mengurangi aktivitas berburu. Sebab menurut keyakinan saya, bila tajam mata pisau, maka mata batin akan tumpul.?

?Tapi untuk malam ini,? balas saya dalam hati, ?sudahlah Idrus. Sudah terlanjur dapat. Lagi pun kami sudah sangat lapar. Namun jujurnya adalah, kami sudah teramat manja dengan dunia rimba dan kesukaan berburu, dan ketika dini hari lapar menyerang, kami merobek-robek tubuh buruan bagai serigala.?

?Mungkin karena itulah aku tak berhasil jadi penyair. Karena keganasan jiwa tak mungkin kukhianati dalam bait puisi. Maka jadilah aku seperti sekarang, hanya seorang penulis Cerpen. Jika esok-lusa kau masih tetap tak setuju, jangan baca cerpen-cerpenku lagi. Barangkali aku memang ditakdirkan untuk lahir sebagai fatamorganis di kehausan sastrawi para manusia berjiwa singa.?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *