Teknologi, Sprititualitas, dan Kesadaran

Munawir Aziz
http://www.suaramerdeka.com/

PERKEMBANGAN teknologi tak hanya berjejak dalam ruang eksperimen dan penelitian canggih. Gerak cepat kemajuan teknologi bukan semata-mata lahir dari observasi khidmat di laboratorium sunyi dengan perangkat mutakhir. Teknologi yang melesat cepat juga melewati rahim pemikiran, perenungan, dan proses imajinatif ilmuwan, pemikir, dan teknolog.

Di ruang kemajuan zaman, teknologi menempati traktat penting dalam memberikan alternatif fasilitas bagi manusia untuk menikmati hidup, mengendalikan alam, dan mengelola hasrat. Jadi, teknologi membantu manusia menemukan fasilitas kreatif yang mempermudah pekerjaan dan meringankan kesulitan hidup.

Akan tetapi sering kali kemajuan teknologi tak diimbangi keinsyafan manusia menemukan kebenaran dan hikmah yang menyembul di balik kreativitas. Dengan ketajaman intuisi, kecermatan observasi, dan kemampuan kreatif manusia, memungkinkan teknologi berkembang dan berlari kencang.

Pasca-Abad Pencerahan (Aufklarung), teknologi tak lagi dianggap panglima pencerahan, instrumen penting kemajuan peradaban. Akan tetapi kalau tak mampu mengendalikan, teknologi dapat menjadi monster mengerikan. Meledaknya reaktor nuklir Chernobyl merupakan musibah mengerikan yang tak dapat dilupakan dalam sejarah kehidupan manusia. Walau awalnya dapat dikendalikan dengan saksama, lengah sedikit bukan hanya mencederai anggota tubuh, melainkan membunuh jutaan manusia dan mengancam kelangsungan kehidupan.

Kesadaran Teknologi

Perkembangan teknologi di negeri ini belum sepenuhnya memberi angin pencerahan bagi kehidupan warga secara utuh. Teknologi seakan hanya jadi komoditas dari pengusaha, birokrat, dan ilmuwan komersial untuk mendulang profit besar.

Dalam analisis MT Zen (1982), hakikatnya sains dan teknologi tidak berdiri sendiri, tetapi bergerak dalam kerangka sosial. Pertumbuhan dunia kini, terutama pertumbuhan industri yang berlandaskan sains dan teknologi, hanya akibat dari kebijakan ekonomi dengan dorongan motif ekonomi semata-mata.

Desakan pengaruh dari motif ekonomi itulah yang menyebabkan teknologi seolah menjauh dari atmosfer sosial masyarakat. Bahkan dalam lorong kemajuan, teknologi ? meminjam istilah Hudan Hidayat (dalam kamus sastra) ? seolah ?hendak menjauh dari Tuhannya?. Inilah masa krisis teknologi yang mencekam, ketika teknologi menjauh dari kebenaran awal.

Selain krisis jati diri yang menggempur perkembangan teknologi, bangsa ini belum sepenuhnya memasuki gerbang ?kesadaran teknologi?. Artinya, warga negeri ini belum sepenuhnya memiliki kesadaran untuk menggenggam teknologi sebagai alternatif meringankan kesulitan hidup.

Keengganan memahami dan mendekap kemajuan teknologi menjadikan gerak kemajuan peradaban jadi stagnan. Padahal, untuk mengejar kecepatan kemajuan pendidikan, industri, dan perdagangan dari bangsa lain, teknologi menjadi instrumen penting yang harus selaras dengan kebijakan pemerintahan.

Hal itulah yang disesalkan YB Mangunwijaya (1999), yang menyatakan dalam generasi ?pasca-Einstein?, manusia Indonesia harus memanggul teknologi untuk melesat cepat ke arah kemajuan peradaban. Akan tetapi ditemukan paradoks yang berat, yakni kekayaan dan keampuhan matematika, ilmu pengetahuan serumpunnya, dan teknologi sains, di satu sisi membekali generasi muda dengan kepastian serba-eksak, objektivitas, dan daya andalan yang tinggi. Di sisi lain, memberikan kesadaran kenisbian dan alternatif rumit sehingga menggoyahkan pandangan tentang alam semesta, kehidupan, termasuk makna manusia.

Perkara Tuhan

Teknologi yang hendak menjauh dari Tuhan menyebabkan manfaat percepatan sains yang menunjang keterciptaan perangkat teknologi seakan mengering. Padahal, dalam pemahaman teks agama, segala dalil kebenaran termaktub dalam kitab suci. Alquran sebagai pedoman hidup kaum muslim membentangkan beberapa dalil penting untuk membantu profesor dan teknolog dunia menyibak tabir kebenaran dunia.

Teori big-bang, yang jadi misteri besar dalam jagat sains, diterangkan secara gamblang dalam rentetan ayat Alquran. Penciptaan langit, bumi, dan makhluk hidup mendapatkan penjelasan utuh dalam ayat Tuhan. Berpegang dari teori dalam Alquran, misteri kehidupan dan struktur kimia yang masih terselubung kabut akan dapat dipecahkan. Bahkan dengan berpegang pada kebenaran kitab suci, banyak ilmuwan menentang teori penciptaan manusia yang diimani penganut mazhab darwinisme.

Sebagai pelopor perkembangan sains, Einstein pada masa tua juga menjadikan ilmu pengetahuan untuk mendekat pada keagungan Tuhan. Catatan sejarah yang menyatakan spiritualisme Einstein makin berserak. Biarpun melalui observasi rumit untuk menemukan teori relativitas, Einstein menjadikan sains sebagai media penting meraba ketakterhinggaan-Nya.

Teknologi yang senapas dengan kebenaran akan menemukan Tuhan dalam cahaya pencerahan. Kisah ilmuwan yang menjadikan teknologi sebagai entry point meraih kesejahteraan diri menjadi bukti betapa teknologi dan spiritualitas erat berkait. Ilmuwan seperti Bill Gates dan beberapa ilmuwan lain yang jadi konglomerat pada masa tua mengalokasikan profit pengembangan teknologi dalam bidang filantropi dan bantuan kemanusiaan.

Jadi, teknologi yang hendak menjauh dari Tuhan adalah kreativitas semu yang jauh dari misi pencerahan. Jika begitu, zaman kegelapan kembali mengancam peradaban manusia. Teknologi yang insyaf dengan nilai-nilai kebenaran dan spiritualitas akan memberikan manfaat bagi peradaban manusia dalam rengkuhan modernitas di selasar zaman yang berlari kencang ini.

*) Munawair Aziz, esais dan peneliti kelahiran Pati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *