Tentang Sthrimaya Indumaty: Aceh…

Tentang Kekuatan Perempuan (Sentimentalitas Berlebihan)
IBM Dharma Palguna
http://www.balipost.co.id/

KETIKA masih anak-anak, Sthrimaya Indumaty yang lahir di Philippina dibawa bermigrasi ke Amerika Serikat oleh Ibunya. Di sana ia berkembang menjadi orang Amerika keturunan Asia. Ketika saya pertama kali mengenalnya, Sthrimaya Indumaty adalah seorang perempuan 27 tahun, penuh percaya diri, mahasiswi sebuah universitas ternama di Amerika. Cerita awal kehidupannya di Amerika, terutama ketika akhirnya mendapatkan passport Amerika, mengharukan saya. Ia pandai bercerita. Tidak kalah dengan tukang cerita dalam Sastra Melayu. Memang Sastra Melayu adalah bidang yang sedang ditekuninya. Tapi bukan hanya sastra yang senang diomongkannya, juga gender dan seks.

Ia senang berbicara tentang perjuangan perempuan Aceh, seperti Cut Nyak Dien dan beberapa lainnya, melawan penjajahan Belanda. Ia tidak suka berbicara tentang Raden Ajeng Kartini yang dijadikan pahlawan perempuan untuk seluruh Indonesia. Tidak masuk akal, katanya, masak perempuan Papua Barat harus merayakan Hari Kartini tiap 21 April. Masak perempuan Aceh harus tahu Kartini, sementara di Aceh sendiri banyak pahlawan perempuan. Ia berpendirian, Kartini adalah ciptaan pemerintah kolonial Belanda untuk membuktikan kepada rakyat Belanda di negeri Belanda, bahwa kehadiran mereka di Jawa adalah mendidik dan memajukan penduduk pribumi. Menurut keterangannya, konon Ibu Tien Soeharto marah besar ketika ada seseorang intelektual Indonesia, bernama Harsja Bachtiar, mengritik Kartini dengan argumentasi seperti itu.

Paling sering Sthrimaya Indumaty berbicara tentang orang-orang Timor Timur yang dalam istilah ”dijajah” oleh Indonesia. Ia tahu banyak kehidupan orang Timor-Timur di perantauan. Masak Timor Timur dikatakan bagian dari kerajaan Majapahit? Begitu sering kali ia memprotes dengan sengit. Saya duduk dan mendengarkan dengan baik tiap kali ia bercerita tentang Jose Ramos Horta yang dikenalnya sangat dekat. Ia bangga dan mengagumi lelaki ”pejuang” itu.

Saya menduga Sthrimaya Indumaty senang berbicara dengan saya, justru karena saya tidak pernah membantahnya. Paling tidak, saya tidak menempatkan diri berseberangan dengan pendapatnya, baik yang berhubungan dengan pengetahuan akademis, maupun tentang para ”gengster akademis” yang menguasai kehidupan universitas. Saya mengakui Sthrimaya Indumaty perempuan yang cerdas, pandai berbicara, dan kadang-kadang lucu.

”Ke mana pun saya pergi, saya merasa menemukan jodoh saya di sana,” katanya sambil tertawa. Itulah ucapannya yang terus saya ingat, karena bagi saya itu lucu, dan mengejutkan.

Itulah sedikit yang saya kenal tentang Sthrimaya Indumaty, seorang housemate sekitar Agustus – Desember 1995. Ketika itu saya sedang berada di Belanda untuk menyelesaikan studi. Selama empat bulan lebih Sthrimaya Indumaty melakukan penelitian perpustakaan dan arsip di Belanda. Ia dan saya kebetulan tinggal di sebuah rumah bersama beberapa orang lainnya.

Di Ledien sangat biasa kita melihat ”insan akademis” datang dan pergi. Sama seperti melihat datang dan perginya turis di Bali. Saya mengenal beberapa orang seperti Sthrimaya Indumaty yang datang, dan pergi. Tapi tidak banyak di antara mereka yang ingin saya tulis. Khusus Sthrimaya Indumaty, dari dulu saya ingin menuliskannya. Karena ada yang khas pada dirinya. Bukan kepintaran akademisnya, bukan cita-citanya menjadi profesor di sebuah universitas terkenal, bukan pula gagasannya tentang perlawanan terhadap penindasan. Gagasan besar seperti itu memang menarik, tapi tidak khas. Yang khas pada Sthrimaya Indumaty adalah ”kekuatannya” yang sering berubah menjadi sentimentalitas berlebihan. Ia bisa berbicara sebagai perempuan matang, tapi tiba-tiba menjadi remaja tujuh belasan tahun. Semacam itu. atau, barangkali tidak seperti itu. Saya tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya dengan lebih tepat. Akan lebih bagus bila saya menceritakan apa adanya.

Tidak gampang menjadi seorang pendengar yang baik bagi seorang pembicara seperti Sthrimaya Indumaty. Misalnya, dengan mantap ia berbicara tentang bagaimana menjadi perempuan yang kuat dalam menghadapi dominasi laki-laki. Tapi sesaat kemudian ia jatuh dalam sentimentalitas.

”Kelak kalau Timor-Timur sudah merdeka, Jose ingin mengajak saya hidup di sebuah pantai Timor Timur yang indah dan alami!” Begitu katanya suatu hari dengan penuh perasaan dan mata berkaca-kaca. Perkataannya itu menutup semua pembicaraan sebelumnya dengan mendadak. Saya mendengarnya seperti sebuah lompatan kesimpulan yang tidak relevan dengan topik yang dibicarakan sebelumnya. Tapi, seperti kata saya tadi, saya sama sekali tidak membantahnya.

Itu baru satu contoh kejadian apa yang saya sebut khas. Ada contoh kejadian lain, dan banyak lagi, yang tak perlu diceritakan di sini.

Pada waktunya Sthrimaya Indumaty kembali ke Amerika. Saya kehilangan seorang teman yang khas. Setelah itu saya tidak pernah lagi melihatnya. Saya pernah menerima telefon, beberapa hari setelah ia kembali di Amerika, katanya ia sedang sakit demam. Dan saya juga menelefonnya, mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru 1996. Pada 10 Januari 1996, dalam salah satu file saya menulis seperti ini:

”(…). Hari ketujuh 1996 Sthrimaya Indumaty berangkat menuju Aceh. Pada hari keenam, malam, ia menelefonku dari San Francisco, mengucapkan selamat ulang tahun, selamat berpisah, dan mohon doa. Sekarang ia mungkin masih ada di Jakarta, mengurus izin penelitian dan tetek bengek lainnya. Hari ini aku berkali-kali memikirkannya. Ia memang pantas dipikirkan. Karena ia telah menjadi bagian hari-hari(…)”

TIGA BULAN kemudian, 19 Maret 1996, saya menerima surat yang dikirimnya dari Banda Aceh. Ia memberitahu telah menemukan jodohnya, seorang pemuda Aceh, dan dirinya secara resmi telah dilamar. Sthrimaya Indumaty kemudian masuk Islam. Dalam surat itu ia menulis, sebagai orang Islam ia hanya boleh kawin dengan orang Islam. Surat itu saya terima pagi-pagi sebelum berangkat ke tempat kerja. Ketika berita itu kusampaikan kepada seorang teman baiknya, teman itu berpesan agar menyampaikan salamnya bila aku membalas suratnya. Isi salamnya itulah yang aneh: ”kapan cerai?”

Ketika saya ketik tulisan ini, siang hari, saya ada di Tabanan Bali, tahun 2003. Timor-Timur sudah lama merdeka. Sekali dua kali saya lihat wajah Ramos Horta di televisi. Ia menjadi salah seorang petinggi di Republik Timor-Timur. Sementara di Aceh status darurat meliter masih diberlakukan. Saya tidak tahu, di mana dan bagaimana Sthrimaya Indumaty sahabat saya.

Ketika saya koreksi tulisan ini, saya ada di Ampenan, Mataram, akhir Juli 2005. Balai Tsunami telah meluluh -lantakkan Aceh tahun yang lalu. Bagaimana Sthrimaya Indumaty dengan suaminya, dan mungkin juga anaknya, kalau sudah punya anak? Apakah mereka masih hidup?

Ketika akhirnya saya putuskan mengirim tulisan ini ke Bali Post, 2006 akhir, saya ada di Banda Aceh. Saya tidak tahu, apakah ia dan keluarganya selamat dari Tsunami?