Kisah Mangir dalam Sastra Basa

Wisnu Kisawa
http://www.suaramerdeka.com/

KISAH Ki Ageng Mangir Wanabaya selama ini dikenal menyimpan banyak nilai kemanusiaan. Lantas menjadi seperti apa, jika lakon yang penuh dengan human interest itu dibawakan oleh para ahli sastra seperti para dalang?

Teriakan Ki Ageng Wanabaya yang begitu keras membuat Pamikatsih harus mundur beberapa langkah. Air pun kemudian menetes dari kedua kelopak matanya. Namun toh air mata sang istri itu tetap saja tidak menyurutkan amarah Ki Ageng yang memang tengah begitu meledak.

”Setan alas, wong Metaram ngirim satru sekti. Yen ngono kowe kuwi panjalmaning mungsuh,” begitu ungkapan amarah Ki Ageng Wanabaya kepada Pamikatsih.

Ki Ageng memang pantas marah. Istrinya yang sebelumnya dia kenal sebagai seorang ledek tayub, ternyata adalah Pembayun Putra dari Panembahan Senopati. Padahal, antara dirinya dengan Raja Mataram tersebut saling berseteru akibat isu kraman yang tengah berhembus saat itu.

Itulah mungkin, salah satu puncak alur dramatik dari lakon ketoprakKi Ageng Mangir Wanabaya yang dipentaskan di rumah dalang kodang Ki H Anom Suroto, Kebun Seni Timasan, Kelurahan Makamhaji, Kecamatan Kartosura, Kabupaten Sukoharjo, belum lama ini.

Nilai Kemanusiaan

Dalam khasanah cerita ketoprak, lakon Ki Ageng Mangir Wanabaya memang banyak mengungkap nilai-nilai kemanusiaan yang begitu menyentuh. Baik itu tentang nilai kepahlawanan, kesetiaan, dan pengorbanan.

Pentas ketoprak tersebut boleh jadi memang cukup istimewa. Bukan saja karena panggung tobongnya yang sedemikian megah, hingga karena besarnya ukuran lebih mirip bentangan rigging panggung musik saja. Namun, yang juga perlu mendapat catatan adalah keterlibatan para dalang, waranggana, dan niyaga dari Amardi Budaya Dadi Indah (ABDI).

”Hampir seluruh dalang di wilayah Karesidenan Surakarta turut tampil dalam pementasan kali ini,” kata Ki H Anom Suroto.

Seperti diketahui, dalang dan waranggana serta para niyaga adalah orang-orang yang bisa dikatakan ahli sastra (Bahasa Jawa). Paling tidak, setiap melakukan pekerjaannya, mereka hampir selalu nggegulang tentang hal tersebut.

Maka, bukan hal yang berlebihan jika saat mereka berperan sebagai pemain ketoprak, adegan-adegan yang menyentuh bisa diterjemahkan dengan begitu apik. Kisah Ki Ageng Mangir Wonoboyo dalam pentas ketoprak malam itu adalah salah satu buktinya.

14 Juni 2005