Memberangus Cinta

Imron Rosyid
http://www.tempointeraktif.com/

Lusinan orang bak sepasukan kerajaan dengan hiruk-pikuk sorak sorai pembangkit semangat berbaur dengan suara entakan kaki-kaki tanpa sepatu. Mereka berlari dan jalan tanpa alur, mengikuti irama yang mereka buat sendiri. Mereka berputar-putar mencari arah meninggalkan dua sosok lelaki dan perempuan yang duduk berhadap-hadapan.

Di bawah bentangan garis tambang yang nyaris terputus di tengahnya, mereka beradu pandang dan melempar senyum. Di depan mereka, masing-masing teronggok sebuah pot dengan tanaman yang terlihat baru hendak tumbuh. Kemudian kelebatan bayangan merenggut paksa dan melenyapkan tanaman yang mereka jaga.

Adegan itu menjadi pembukaan pentas teater-tari berjudul Ki Ageng atau Killing Me Softly yang digelar Studio Taksu, Solo, Minggu dan Senin malam lalu, di Gedung Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Solo.

Sang sutradara, Djarot B. Darsono, mengatakan lakon pertunjukannya itu bersumber dari naskah drama Mangir karya Pramoedya Ananta Toer. Tapi Ki Ageng atau Killing Me Softly bukanlah bukanlah pemanggungan dari naskah tersebut. Djarot menjadikan lakon tersebut sebagai pintu masuk untuk membicarakan soal cinta kasih dan kesetiaan. “Moral cerita Mangir adalah cinta dan kesetiaan yang terabaikan, ini yang saya ambil,” kata Djarot.

Djarot menganggap cinta dan kesetiaan adalah sesuatu yang tanpa batas, tidak mengenal strata sosial apalagi sikap politik ataupun ideologi. Putri Pembanyun dalam drama itu, yang ditugasi ayahnya, Panembahan Senapati, menginfiltrasi kekuasaan Ki Ageng Wanabaya di tanah pardikan Mangir, justru jatuh hati pada musuh politik sang ayah.

Cinta pun bersemi dan tumbuh di antara Pembanyun dan Wanabaya tanpa ada yang bisa menghalangi. Tapi kemudian Panembahan Senapati memutuskan bahwa kebahagiaan mereka harus diakhiri demi sistem politik kekuasaan Mataram. “Sebuah potret yang kontekstual saat ini. Begitu banyak cinta anak manusia dibumihanguskan oleh kekuasaan politik, ekonomi, atau ideologi,” kata Djarot.

Namun, lakon yang penuh dengan intrik dan kekerasan itu ditampilkan tanpa letupan. Djarot memilih simbol-simbol yang biasa dijumpai dalam ketoprak atau wayang orang untuk menunjukkan peperangan serta penumpasan dengan wirengan, sebuah bentuk tari yang menggambarkan adu tanding kekuatan.

Dalam pertunjukan ini, sulit untuk merunut jalan cerita Ki Ageng Mangir. Bahkan, dalam penokohannya, Djarot dan kawan-kawannya tidak terpaku pada satu-dua pemain. Pemeran tokoh Ki Ageng, Pembanyun, atau Panembahan Senapati, yang menjadi tokoh sentral, bisa dimainkan oleh beberapa aktornya sekaligus.

Djarot, yang dikenal sebagai aktor kawakan kelompok Teater Gapit, seperti ingin membuat pementasan yang didanai Yayasan Kelola itu sebagai pertunjukan kolosal. Tidak kurang dari 25 pemain terlibat sekaligus membuat arena panggung terasa penuh sesak. Semua pemain mengenakan kostum yang aneh, berwarna-warni dan berlapis-lapis. Penari perempuan berkalung uleg-uleg.

“Pementasan ini seperti sebuah stimulus bagi penonton untuk menciptakan imajinasi mengenai sebuah peristiwa yang memang banyak versinya ini,” kata Djarot. Teknis garapan pementasan itu terlihat sederhana. Dan Djarot tidak menghadirkan gerakan-gerakan baru.

Kekuatan pertunjukan ini lebih pada simbol-simbol yang dihadirkan di atas pentas. Sayangnya, gagasan sang sutradara itu kurang disambut oleh pemainnya sendiri. Tengok saja pada adegan penutup ketika Panembahan Senapati menikmati kejayaan setelah berhasil membunuh Wanabaya, yang hanya diekspresikan dengan adegan orang yang menikmati cerutu.

31 Agustus 2007