Memoar sang Bunga Sakura

Dewi juga merupakan jembatan dalam peta politik Indonesia-Jepang yang tengah menyelesaikan pembahasan tentang pampasan perang.

Judul : Ratna Sari Dewi Sukarno; Sakura di Tengah Prahara
Penulis : M Yuanda Zara
Penerbit : Ombak, Yogyakarta
Terbit : I, Februari 2010
Tebal : xvi + 263 halaman
Harga : Rp 60.000,-
Peresensi : Supriyadi
http://www.koran-jakarta.com/

Bunga sakura adalah bunga khas Jepang, yang memiliki keelokan dan keindahan yang luar biasa. Bunga sakura, dalam hal ini, digambarkan sebagai sosok perempuan Jepang yang cantik jelita.

Adalah Naoko Nemoto, sang Bunga Sakura atau seorang perempuan cantik Jepang yang berhasil memikat hati seorang tokoh besar Indonesia, yakni sang Proklamator Kemerdekaan RI, Presiden Soekarno .

M Yuanda Zara dalam Ratna Sari Dewi Sukarno, Sakura Di Tengah Prahara, menguraikan kisah sang Bunga Sakura tersebut sebagai seorang tokoh yang dalam kehidupannya harus melewati lika-liku kehidupan.

Naoko Nemoto yang kemudian menjadi Ratna Sari Dewi merupakan seorang tokoh perempuan yang berpengaruh dalam sejarah Indonesia.

Naoko Nemoto merupakan seorang perempuan yang berkebangsaan Jepang. Semasa kecilnya, kehidupannya sungguh memprihatinkan. Naoko berasal dari keluarga yang kurang berpunya.

Sumber penghasilan keluarganya hanya mengandalkan dari pekerjaan sang ayah sebagai tukang bangunan. Karena parasnya yang cantik, Naoko pun bekerja sebagai pramuria di klub malam. Karena membutuhkan banyak uang, Naoko pun berpetualang dari satu klub ke klub yang lainnya guna menambah penghasilan.

Hingga akhirnya Naoko berjumpa dengan presiden pertama RI, Soekarno, yang kala itu sedang berada di Jepang karena suatu kepentingan.

Presiden Soekarno sangat tertarik terhadap seorang pramuria yang cantik jelita tersebut, begitupun dengan pramuria itu yang juga terpesona akan kegagahan dan karisma besar sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia itu. Akhirnya, hubungan antara keduanya pun berlanjut hingga jenjang pernikahan.

Setelah menikah, nama Naoko Nemoto pun berganti menjadi Ratna Sari Dewi. Setelah menikah dengan Soekarno, Naoko Nemoto atau Ratna Sari Dewi yang akrab dengan sebutan Dewi, tidak lantas mendapatkan kebahagiaan.

Telah diketahui bersama bahwa Soekarno adalah seseorang yang sudah beristri lebih dari satu ketika menikah dengan Dewi.

Sikap saling cemburu di antara istri-istri Soekarno pun dirasakan oleh Dewi. Dalam aspek yang lebih luas, pernikahan Presiden Soekarno-Naoko ini sebenarnya sangat berbau politis.

Melihat konteks akbar yang melingkupi mereka berdua, khususnya pasang surut hubungan Jepang-Indonesia menyangkut masalah pampasan perang, bisa dikatakan bahwa Dewi berfungsi untuk mengikat kedua negara dalam satu jalinan persahabatan

Di saat kedua negara memiliki ideologi dan kepentingan sendiri yang terkadang membuat hubungan menjadi buntu, di saat itulah mereka membutuhkan penyeimbang dan pengurang tekanan. Dialah Dewi, meski ia sendiri baru sadar di tengah “permainan” (hlm 30).

Tidak hanya itu, posisi Dewi juga sangat berpengaruh bagi para pengusaha Jepang yang ingin menanamkan usahanya di Indonesia. Dengan demikian, selain sebagai seorang istri dari Presiden Indonesia, Dewi juga dimanfaatkan oleh pihak Jepang. Ketika antara tahun 1963-1964 Dewi mendapatkan pantauan dari Jepang.

Bagi Jepang, Dewi adalah sebuah aset yang sangatlah penting. Bukan hanya karena Dewi memainkan peranan bisnis Jepang di Indonesia, akan tetapi Dewi juga merupakan jembatan dalam peta politik Indonesia- Jepang yang tengah menyelesaikan pembahasan tentang pampasan perang.

Begitulah Dewi ketika menjadi istri sang Presiden. Pembaca diajak untuk mengulas biografi Ratna Sari Dewi yang dalam perjalanan hidupnya dipenuhi oleh berbagai lika-liku dari masa kanak-kanak, ketika menjadi istri Soekarno, hingga setelah menjadi janda muda dengan seorang buah hatinya. Dari bio grafi itu, banyak pelajaran yang dapat diambil.

Selain itu, para pembaca juga akan dikenalkan dengan sejarah Indonesia yang dibaca dari sisi Ratna Sari Dewi sebagai pemeran utamanya.

*) Pengamat Sosial pada Fakultas Tarbiyah & Keguruan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.