Menelanjangi Benny Arnas

Ellyn Novellin
Judul : Bulan Celurit Api
Penulis : Benny Arnas
Tebal : 130 halaman
Edisi : cetakan I, 140 mm x 210 mm
Oktober 2010
Penerbit : Koekoesan

Ada pikiran menggelitik ketika saya membaca judul buku ini. Bulan Celurit Api, semacam sarkasme yang manis, atau, absurditas yang unik, atau apalah yang bisa mewakili ?misteri? dari judul tersebut.

Saya tidak ingin mengunggulkan sang penulis ataupun mengkritisinya. Sebab, selain tidak memiliki teori/kajian/ilmu tentang bagaimana menilai karya, bukan juga karena Benny adalah sahabat saya. Tetapi saya hanya mengungkapkan pendapat sebagai pembaca biasa. Dan pembaca biasa umumnya hanya mengandalkan rasa dalam menikmati sebuah karya.

Gaya tutur narasi yang dihadirkan (sebagian besar berupa puisi liris) dan khas melayu memberi kekuatan tersendiri dari karakter yang dimiliki Benny. Benny menarikan kata seelok gemilau seorang perempuan muda. Pesan lain yang saya baca, Ia berhasil mengangkat ?harta terpendam? daerahnya menjadi sesuatu yang tak bisa dibiarkan hilang begitu saja. Nuansa lokal yang merupakan budaya daerah, wajib kita lestarikan.

Di beberapa cerpennya, seperti Percakapan Pengantin, Tukang Cerita, saya mendapati ending ?misterius?. Meninggalkan kesan yang tak sudah-sudah. Keliaran Benny saya dapati juga di Malam Rajam, Perkawinan Tanpa kelamin, dan Dua Beranak Temurun. Gojlokan (gurauan)Satire Benny sampaikan dalam Bulan Celurit Api, Percakapan Pengantin, Hari Matinya Ketib Isa, dan Di Larang Meminang Gadis Berkereta Unta. Selain usaha ?mendongkrak? pandangan dalam Tentang Perempuan Tua dari Kampunng Bukit Batu yang Mengambil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan (Duh, Mas Benny.. panjang banget judulnya?), Bujang Kurap, Kembang Tanjung Kelopak Tujuh, dan Sajak-sajak yang Mengantarmu Pulang. Walau saya akui saya tidak bisa memetak-metak (karena memang tak ada pemetakan dalam karya sastra)cerpen mana yang menyajikan konflik sosial, mana yang menyajikan konflik/pergolakan batin, dansebagainya, saya berani mengatakan apa yang saya tulus tersebut di atas, itulah yang saya rasakan.

Sebuah firasat, atau yang lebih sering dikenal dengan insting_Semua orang pernah mengalami itu dan semua orang juga memiliki hal tersebut. Sebuah pertanda akan terjadinya sesuatu sebelum kita mengalaminya. Seperti itulah yang dialami Mak Muna tentang kehidupan zaman sekarang yang (maaf) amburadul ketimbang saat Mak Muna muda dulu. Meski Mak Muna tak menyentuh langsung bagaimana hiruk pikuk dan kegaduhan zaman, tetapi Mak Muna tahu, bahwa polah tingkah anak-anak muda(zaman sekarang) mengkhawatirkan dan rawan terhadap konflik. Sebuah pembelajaran bahwa, modernitas tak harus dilakoni dengan meninggalkan unsur-unsur kebaikan yang dibawa dari masa lalu.

Anda tahu bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan menggunakan berbagai cara dan alat? Ya, saya yakin Anda semua menjawab sama, ?Ya, saya tahu.? Secara kasat mata memang kita hanya memiliki indera pengucap(lidah_mulut) dan gerak sebagai alat stimulus untuk mendapatkan tanggapan/respon dari yang lain. Kita tahu, bahwa ucapan bisa dilakukan lewat pandangan mata, serta perkataan batiniah atau semacam telepati yang kita ?isyaratkan? sebagai bentuk ?take and give? dalam berkomunikasi. Dan, hal semacam itu coba diangkat Benny dalam Percakapan Pengantin. Sepasang yang cacat dan miskin yang (tentu saja) mendapat perlakuan yang tidak adil dalam hidupnya(ini bukan gejala, tetapi sudah menjadi tradisi bagi masyarakat saat ini yang lebih berfokus pada pola pandang Independent_Individualitas dalam hidupnya). Seruan untuk mencermati kehidupan sepasang pengantin ini (dan orang-orang yang memiliki nasib serupa dengan mereka)agar tak kita siakan sebelah mata, karena mereka memiliki hak yang sama sebagai manusia dan hamba Tuhan. Berhak mendapatkan kesetaraan perlakuan yang sama dan layak di masyarakat. Sama seperti kita.

Kebersihan hati dan kesabaran yang tangguh adalah senjata yang ampuh dalam menghadapi ?kekejaman? dunia. Tentang Perempuan Tua dari Kampunng Bukit Batu yang Mengam bil Uang Getah Para dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer ke Pasar Kecamatan. Memberi pelajaran, bahwa seberat apapun beban kehidupan, hendaknya kita tak melupakan ?radar? yang dititipkan Tuhan dalam hati kita. Tetap menjaga hati dari dendam, kecewa, amarah, dan putus asa. Cerpen yang sangat mendidik.

Bujang Kurap dan Kembang Tanjung Kelopak Tujuh, membuat saya menjadi tahu tentang ?pesan daerah? Lubuk Linggau yang tak pernah saya tahu sebelumnya. Benny berhasil mengangkat mitos masyarakat setempat(atau bahkan di luar Lubuk Linggau) dan usaha ?melunturkan ketakutan? yang ditanam secara mentradisi oleh masyarakat setempat.

Sampai dimana kita memaknai cinta dan kasih sayang jika hal itu kita maharkan pada terenggut tidaknya keperawanan dari perempuan yang kita gadang menjadi teman hidup. Kesucian tidak terletak dari bagaimana kondisi fisik(maaf, bukannya saya mengamini orang-orang yang sengaja memberikan kesuciannya secara sengaja), tetapi lebih dari bagaimana ikhwal muasal, atau bagaimana penerimaan kita atas apa yang sebenarnya tak bisa kita terima. Bagaimana kita menyikapi sesuatu yang di luar kehendak manusia.

Benny berhasil ?plin-plan? dalam Dua Beranak Temurun. Selain itu, dia bisa ?mengacau? pikiran pembaca pada saat mengikuti alur ceritanya. Di satu sisi menjadi tokoh A, di sisi lain menjadi tokoh B, dan yang saya sebut ?berhasil mengaduk? adalah bagaimana ia mempertemukan dua tokoh dalam suasana ?intern? masing-masing penokohan dalam satu tempat, namun tetap bisa menyajikan suasana kedua tokoh sedang ?bercakap?. Kontemplasi tentang kehidupan yang dramatis, sebenarnya tak lepas dari lajur-lajur yang kita lalui setiap harinya.

Selebihnya, saya hanya bisa menyarankan Anda, segeralah mendapatkan buku cerdas dan mendidik ini. Banyak hal yang kita temu dan pelajari untuk dijadikan sebagai bahan renungan. Realis yang Surealis,juga, Surealis yang Realis. Cerpen-cerpen yang hebat.

Babat, Desember 2010
*) Peresensi ini sebelumnya memakai nama pena “Lina Kelana” tanah kelahirannya di daerah Babat, Lamongan, Jawa Timur.