Pukul Sebelas Malam

Saut Poltak Tambunan
http://www.suarakarya-online.com/

PUKUL sebelas malam, supir tergesa membukakan pintu. Langfkah Asikin terhenti, matanya nyalang mencari-cari sesuatu yang sudah lama hilang dari rumah ini. Di garasi hanya ada mobil isterinya, mobil si kembar Wandi dan Winda tak ada. Begitu pula sepeda motor Ato.
Asikin melangkah ke teras. Tiwi, pembantu menyambut dengan pintu lebar, selebar senyumnya.
“Ibu mana?” tanya Asikin.
“Di kamar, Pak,” sahut Tiwi. “Istirahat.”

“Anak-anak?” tanya Asikin lagi. Pertanyaan retorik, tak perlu berjawab sebab ia sendiri sudah lihat kendaraan mereka tak ada di garasi.
“Pergi, Pak,” tambah Tiwi sigap. “Bapak mau minum apa? Makan malam sudah saya siapkan di meja.”
“Ya, ya, saya sudah makan. Bantu Nana saja ke mobil.”

Tiwi bergegas ke garasi, menurunkan tas, koper, box kardus dan entah oleh-oleh apa lagi. Selalu begitu setiap kali Asikin pulang dari kunjungan bisnis ke luar kota atau luar negeri.

Rumah ini tiba-tiba seperti tak berpenghuni. Sepi. Asikin tidak segera menemui isterinya di kamar, malah duduk di ruang makan. Pulang dari studi banding seminggu ke luar negeri, pulangnya tak bersambut. Tak ada lagi isteri tergopoh-gopoh menyongsong ke mobil. Tak ada cium di pipi. Tak ada anak-anak berebut untuk menggelantung di lengan, lalu ramai-ramai membongkar oleh-oleh. Padahal tadi malam dari hotel ia sudah telepon memberi tahu akan pulang malam ini. Hanya Nana – supir yang datang menjemput ke bandara. Hanya Tiwi yang menyambut dirumah, pembantu setia yang sudah belasan tahun ikut di sini. Hambar. Ia merasa isterinya nyaris tak pernah bisa membuat suasana semarak di rumah itu. Hanya kemewahan. Setiap hari, ada saja barang mewah bertambah.

Di semua ruangan tampak barang pajangan bersesak. Keramik, kristal, batu mulia, elektronik sampai ukiran kayu. Apa yang hari ini diklankan di tivi, bisa jadi besok pagi sudah ada di rumah ini. Tapi di mana Leila, isteriku?
Di mana anak-anakku?

“Hmm, di luar sana kau pengusaha yang sukses dengan segala cara. Dihormat orang. Tapi di rumah ini, siapa kau?” tanya Asikin dalam hati pada diri sendiri. “Isterimu sudah mendengkur.
Lelah seharian melanglang jalanan ke rumah teman-temannya. Anak-anakmu entah ke mana.”

Tv flat besar seri terbaru, alat musik, home theater, internet. Semua ada. Tapi anak-anak lebih suka menonton siaran sepak bola di rumah teman-temannya. Isteri hanya suka menonton iklan dan infoteinmen supaya tidak ketinggalan gossip dengan teman-teman.

Asikin ingin menghempaskan semua kesal dari dadanya. Ia beranjak menuju pintu kamar. Lewat ruang tengah, di layar televisi tampak presenter Choky Sitohang membawakan acara Take Me Out Indonesia. Kasihan presenter ganteng ini, pemirsanya cuma sepasang anjing keramik oleh-oleh dari China.

Di ruang makan lain lagi, tv sedang menyiarkan perang di Timur Tengah. Hampir semua tv nyala, tak ada yang menonton.
Tiba di pintu kamar, langkah Asikin terhenti. Perang di tv itu tidak lebih dahsyat dari perang di dadanya. Berjuta pertimbangan kembali menggoyah putusan yang sudah bulat sejak dalam penerbangan dari Singapura tadi. Tapi ia sudah bertekad tak akan surut lagi:
“Harus malam ini! Harus berterus terang pada Leila!”

Asikin masuk kamar. Benar, isterinya tidur bergelung seperti tenggiling. Asikin sengaja menutupkan pintu agak keras, membuat dengkur isterinya tercekat. Lalu mendusin bangun.
“Eh, jam berapa sekarang?” isterinya mengucek-ucek matanya, masih tetap berbaring.
Asikin tidak menjawab. Memang tak perlu, sebab isterinya sudah melirik sendiri ke arah jam dinding.
“Lembur lagi?” tanya isterinya dengan kantuk beratnya.

“He-eh,” Asikin menjawab dengan lenguhan pendek saja. Kesal dia. Dalam kantuk beratnya, isterinya bahkan lupa kalau dia kalau dia sudah seminggu bepergian, mewakili asosiasi bisnis untuk mendampingi anggota DPR studi banding ke Eropa, lalu mampir ke Singapore. Bukan lembur di kantor.

“Makan sendiri saja, ya? Aku ngantuk sekali,” tambah isterinya lagi lalu meneruskan tidurnya. Isterinya, jika sudah sempat tidur, susah untuk bangun lagi.

Asikin geleng kepala. Semua kata-kata yang tersusun di benaknya sejak dalam pesawat terbang, makin sempurna oleh kesal dan kecewa. Tanpa ganti baju, ia keluar lagi. Ia ingin menenangkan hatinya dulu. Hal penting seperti ini tak baik dibicarakan dengan suasana hati penuh amarah.

Dari ruang belakang terdengar Nana tertawa cekikikan dengan Tiwi. Hmm, mereka mulai lagi. Padahal Nana itu sudah punya isteri.

Asikin duduk di muka televisi, pikirannya melayang ke kamar tidur. Di sana ada isterinya tidur melingkar. Leila nama perempuan itu. Tidurnya bergelung. Asmuni membayangkan tenggiling, tetapi gemuknya Asmuni ingat kuda nil.

Masih jelas dalam ingatan ketika Asikin menikahinya duapuluh tahun lalu. Leila hanya seorang gadis kampung pinggiran Jakarta yang lugu. Tubuhnya semampai, rambutnya panjang hingga pinggul. Bagi Asikin ketika itu Leila adalah perempuan yang paling tepat untuknya.

Saat itu Asikin hanya seorang pegawai negeri golongan rendah, kos di rumah petak murah milik orang tua Leila. Asikin sendiri merantau dari Kisaran ke Jakarta. Awalnya keluarga Asikin tak suka. Kata mereka Leila itu gadis kampungan. Memang lahir dan besar di Jakarta, tapi pinggiran.

Bukan tak ada gadis lebih cantik dari Leila. Tapi Asikin tahu diri. Gajinya kecil tak akan cukup beli bedak anak gadis orang kaya. Ia butuh perempuan sederhana saja, tidak materialistis dan tidak konsumtif. Untuk pegawai rendahan, tentu gadis seperti Leila itulah yang sepadan.

Roda kehidupan berputar cepat. Sambil bekerja Asikin kuliah, bahkan dapat beasiswa untuk studi di Inggeris. Pulang dari Inggeris, Asikin malah membelot pindah perusahaan swasta. Biaya ikatan dinas dia kembalikan.Tak puas dengan gaji besar di perusahaan swasta. Beberapa temannya ketika bersama-sama di Inggeris sudah menjadi pejabat dan anggota DPR. Mereka mendorong Asikin untuk membuka perusahaan sendiri. Sukses. Sekarang memborong proyek jalan tol pun ia sudah berani. Belakangan ia sibuk mengejar obsesinya yang baru, partai politik. Ia ingin merebut satu kursi di gedung perwakilan rakyat.

Duapuluh tahun lebih berjuang jatuh bagun, inilah hasilnya. Rumah besar, fasilitas dan sejumlah aset lainnya. Hari-harinya sibuk berinteraksi dengan orang-orang penting. Bicara tentang hal-hal penting. Semua berubah. Asikin berubah sepat seperti deret ukur, sementara Leila lamban seperti deret hitung dalam angka kecil.

Kesederhanaan Leila sudah lenyap, berganti dengan kesenangan mengumpulkan barang-barang mewah dan fancy barang mahal yang dikiranya akan membuatnya terhormat. Di rumah, Guilty pleasure-nya tidak berubah. Ia lebih suka rujak beubeug daripada salad mahal di restoran mewah. Ia lebih suka urap kangkung daripada spaghetti yang disuguhkan ketika menghadiri resepsi di kedutaan Itali. Keju oleh-oleh dari Belanda sudah sebulan masih utuh di kulkas, berjajar di samping tape dan bengkoang.

Leila betah semalaman menghadiri pernikahan orang sekampungnya, karena di sana ada dangdut. Lain halnya jika diajak menonton orchestra di gedung kesenian. Tertawanya masih ngikik keras. Keluar masuk berbagai kursus, mulai dari kursus kecantikan, ketrampilan, fitness sampai kursus kepribadian. Hasilnya nihil, kebiasaan lama tetap dipelihara dan tubuhnya pun berubah tambun.

Jika bepergian, dadanannya mencolok. Perhiasan bergelantungan bagai toko berjalan. Sementara sepatu dan pakaian importnya selalu tampak tidak serasi.

“Apa lagi?” Asikin masih terus menginventarisasi satu persatu kekurangan dan ‘kelebihan’ isterinya. Ia butuh semua itu untuk menyempurnakan alasan dan tekadnya untuk bicara terus terang nanti.

Belakangan Asikin jarang membawa isterinya. Kalaupun ada acara penting ke luar kota, Asikin lebih suka membawa sekretarisnya. Atau Fina, janda pengusaha yang beberapa jam lalu masih bersamanya bergenggam tangan sepanjang penerbangan pulang dari Singapore, relasi bisnis yang listick-nya minggu lalu nyaris kepergok Leila membekas di dasi Asikin. Lengkap, bulatlah sudah tekad Asikin. Harus memberi tahu Leila sekarang, sebelum Leila mendengarnya dari pergunjingan orang lain. Asikin mengatur langkah, masuk ke kamar. Leila masih tidur. Tiba-tiba Leila mengigau, menunda niat Asikin untuk membangunkannya.

Asikin berdiri di samping tempat tidur, menatap sendu tubuh isterinya. Oh, jauh benar bedanya dengan Fina. Meski sudah hampir empatpuluh umurnya, tampilan Fina masih duapuluhan. Giras-cerdas, smart dan punya reputasi di kalangan bisnis. Dan, pusaran tatap mata Asikin kemudian terhenti pada sebuah foto besar berbingkai di dinding, foto pernikahannya puluhan tahun lalu. Ia melihat dirinya begitu culun di foto itu. Rambut cepak, jas pinjaman yang kekecilan, lengan tangannya ngatung. Tiba-tiba ia melihat foto diri sendiri seakan menatap tajam padanya dan berteriak. Sungguh, suara itu bergaung dengan eskalasi setara petir menggempur pikirannya: Apa kau lakukan ini!? Asikin terkesiap. Ia melihat foto dirinya itu berubah menjadi seseorang yang lain. Tatap matanya begitu tajam, senyum pengantin lugu yang malu-malu itu kini berubah menjadi seringai sinis.
“Oh, Tuhan, apa ini?” jantung Asikin berdebar keras seperti akan tercerabut dari dadanya.

Sejuta rasa ngilu menerkam ulu hatinya. Ia menatap Leila, bergantian dengan foto pernikahan di pelaminan sederhana itu. Leila, perempuan ini telah memberiku tiga anak manis. Ia bersamaku merangkak hingga bisa berdiri seperti sekarang. Leila dengan segala kelebihan dan kekurangannya telah menginspirasi aku untuk melangkah jauh ke depan, bersamanya aku sudah meraih posisi yang bahkan tak pernah kuimpikan.

“Lelaki apa kau?” foto di bingkai itu seakan berteriak lagi. Asikin terkejut, pikirannya kini bersimpang-simpang. Ia terhuyung mundur hingga tersandar ke lemari pakaian. Tekadnya yang utuh sejak siang tadi kini berubah bumerang. Haruskah aku lukai hatinya?

Masih berberapa menit Asikin terpaku menatap tubuh isterinya. Dengkur Leila yang halus, berubah menjadi gemuruh yang memporakporandakan tubir keangkuhan di relung hatinya. Sudah puluhan tahun dengkur itu meninabobokkan Asikin ke dalam tidur yang lelap. Bau khas keringatnya kendati di kamar ber-AC yang sering menjadi bahan gunjingan itu, adalah sihir yang membuat Asikin sering terlambat bangun pagi.
Ya, Allah! Berdosa benar aku memburuk-burukkan isteriku sendiri!

Asikin akhirnya keluar dari kamar. Duduk di ruang tamu, ngungun mengunduh berbagai peristiwa dari masa lalunya. Jatuh bangun bersama Leila, adalah sejarah yang tak tergantikan dengan sukses apa pun. Sampai menjelang si kembar anak pertama lahir, Leila menambal gaji kecil Asikin dengan berjualan nasi uduk. Kendati sudah diganti, rumah petak warisan Leila pernah tergadai untuk biaya kuliah Asikin.

“Lelaki macam apa kau!?” kini ia ikut memaki dirinya sendiri. Ada yang pecah di matanya, mengalir hangat ke pipinya. Dengan tangan gemetar ia mengeluarkan HP-nya. Mulai mengetik sebelum terhasut untuk berubah pikiran:

Fina yang baik, bukan aku tak sayang kamu. Tapi demi Allah, ternyata aku tak bisa mengkhianati Leila. Untuk semua yang kita rencanakan, aku tak bisa. Maafkan aku. Ask Klik! Delivered. ***