Menyalakan “Pelita Seni” dalam Jiwa Anak-anak

Nuryana Asmaudi SA
http://www.balipost.co.id/

BANYAK orangtua/guru yang gelisah ketika anaknya hendak mengikuti lomba baca puisi. Mereka berusaha mencari pelatih yang bisa mengajari anaknya cara membaca puisi yang baik dan “benar”, agar anaknya menang dalam lomba tersebut. Kegelisahan dan usaha orangtua/guru tersebut wajar karena menginginkan anak atau muridnya meraih prestasi.

Namun, ada juga orangtua/guru yang menempuh jalan pintas, misalnya “mendekati” calon juri dan meminta agar anak/muridnya diajari baca puisi. Permintaan (KKN terselubung) itu tentu ditolak oleh calon juri, karena melanggar etika penjurian. Apapun alasannya, seorang calon juri tidak elok melatih seorang atau sekelompok calon peserta lomba yang akan dia nilai, karena akan mempengaruhi objektivitas pejurian, juga menimbulkan kesan negatif. Orangtua tersebut masih menawar: minta anaknya dilihat latihannya dan diarahkan saja, agar nanti bisa tampil bagus. Permintaan tetap (dan memang wajib) ditolak oleh calon juri tersebut, sambil menjelaskan keberadaan, tanggung jawab, dan kridibilitas juri, agar orangtua tersebut sadar.

Dulu, pernah juga ada orangtua/guru yang mendekati juri -saat lomba sedang berlangsung- sambil berbisik: titip anaknya, peserta nomor sekian. Juri tersebut menjawab, bahwa semua peserta memang dititipkan dan “diamanatkan” kepada juri untuk dinilai dengan baik dan jujur. Siapa yang tampil paling baik, itulah yang akan jadi juara. Ada juga teman atau kenalan, yang kebetulan tahu nomor handphone juri, mencoba KKN lewat sms: “Tolong bantu nomor sekian”. SMS itu baru dibaca oleh juri setelah hasil lomba diumumkan, sehingga juri tersebut terkekeh-kekeh menertawakan teman yang kirim sms norak dan menggelikan tersebut. Pada saat lomba sedang berlangsung juri sebaiknya menonaktifkan HP-nya, supaya tak terganggu telepon maupun sms masuk, agar lebih konsentrasi menilai lomba; HP baru diaktifkan seusai mengumumkan hasil lomba.

Perlu disadari, juri adalah pengemban amanat yang harus dilaksakan dengan jujur, objektif, tidak berpihak (amanah), dan tentu memiliki kemampuan dan berkapasitas untuk menjadi penilai lomba: tanggung jawab dunia-aklhirat yang tak bisa ditawar-tawar. Tentang hasil kejuaraan yang kurang memuaskan peserta yang tidak jadi juara, itu tentu relatif dan wajar. Semua peserta, terutama orangtua/guru peserta, yang tidak jadi juara pasti “kecewa”, karena mereka beranggapan dirinya/anaknya/muridnya-lah yang tampil paling bagus. Tak sedikit orangtua/guru yang dengan nada jengkel menggerutu: “Gimana sih, kok murid/anak saya kalah, padahal dia tampil bagus?”. Bahkan, ada orangtua dengan agak emosional meminta (melalui panitia) ditunjukkan belangko penilaian juri, menanyakan anaknya “rengking” berapa dalam lomba tersebut, kok kalah, sambil meninggalkan kartu nama -dengan memamerkan seabrek titel-gelar-profesi (eksak) dan jabatan pada kartu nama tersebut. Ha-ha-ha. Bayangkan, seandainya puluhan orangtua/guru dari peserta lomba bersikap seperti itu, minta anak atau muridnya jadi juara, sedangkan juara lomba hanya dipilih untuk tiga orang saja?

Kesadaran Diri

Kasus seperti itu, memang hanya dilakukan (secara langsung) oleh beberapa gelintir (sebagian kecil) orangtua atau guru dari anak-anak peserta lomba. Masih banyak orangtua atau guru yang memiliki kesadaran dan bersikap dewasa, bisa menerima hasil lomba yang diikuti anak/muridnya.

Catatan ini sengaja dibuat untuk berbagi pengalaman, juga untuk menjadi renungan bersama. Bagaimanapun, kita semua perlu memiliki kesadaran diri dan bisa memahami keberadaan orang lain. Orangtua/guru punya tugas untuk mendidik, membimbing, mengarahkan, dan mengantarkan anak dalam mengembangkan bakat dan kemampuannya, terurama dalam menumbuhkembangkan bakat kreativitas seni, lewat cara-jalan yang benar dalam meraih prestasi. Sementara, tugas juri menjalankan amanat sebagai penilai, membantu semua peserta lomba dengan penilaian yang objektif dan jujur. Karenanya, seusai lomba -saat hendak mengumumkan juara- biasanya ada evaluasi dari para juri sebagai pertanggungjawaban atas lomba yang dinilai; serta memberi arahan seperlunya untuk perkembangan pembelajaran bakat anak ke depan.

Kesadaran untuk saling menghormati pada posisi dan tanggung jawab masing-masing penting diperhatikan. Tak boleh ada yang “menginterfensi”, berbuat “curang”, memanipulasi, atau upaya lain, yang merugikan pihak manapun. Tak boleh seorang pun dirugikan, baik oleh orangtua/guru peserta, maupun oleh juri yang menilai lomba. Kalau ada juri yang terpengaruh pihak tertentu, dan dengan sengaja merugikan/mengorbankan salah seorang peserta, maka ia tak layak menjadi juri, karena “tidak amanat”. Salah satu syarat menjadi juri, di samping berkemampuan yang sesuai bidang yang dinilai, tidak berpihak dan tidak sentimen, teliti, tidak abai, juga harus amanat (jujur, objektif, bisa dipercaya). Hasil lomba seni memang tidak pernah memuaskan semua pihak kalau yang dijadikan ukuran adalah juara. Yang juara pasti jumlahnya lebih sedikit dibanding yang tidak juara, dan itulah yang membuat orang yang tidak juara “kecewa”. Bagaimana mungkin semua (puluhan) peserta dijadikan juara: 1, 2, 3?

Beberapa tahun lalu, ketika hendak mengumunkan hasil lomba baca puisi anak-anak SD di Wantilan Gedung DPRD Bali, saya menanyakan pada para peserta: siapa yang ingin jadi pemenang? Semua mengacungkan tangan. Lalu, saya bilang, semua peserta jadi pemenang. Mereka kaget. Kemudian saya jelaskan, bahwa semua peserta yang telah tampil adalah pemenang, karena sudah mengikuti lomba dengan rasa senang, berani tampil di depan umum, berhasil meredam rasa takut dan grogi, telah menanamkan jiwa seni pada diri, juga telah menundukkan ego masing-masing. Tidak ada yang “kalah” dalam lomba seni. Yang ada adalah “belum meraih juara”, karena belum berhasil tampil lebih bagus dari yang lain. Tapi, di antara semua peserta yang “memang” tersebut, ada yang meraih juara, karena berhasil tampil “lebih baik” dari peserta yang lain. Anak-anak peserta lomba puisi tersebut memahami; mereka pun tidak terlalu kecewa ketika tidak jadi juara.

Rata-rata anak-anak ikut lomba dengan rasa senang. Mereka juga bisa menerima kenyataan jika dirinya tidak juara. Yang sering “tidak bisa menerima” kenyataan biasanya justru orangtua atau guru pembinanya, karena ambisi dan egonya yang berlebihan; karena menganggap anak atau muridnya yang paling bagus. Sehingga akhirnya anaknya jadi terpengaruh dan ikut-ikutan “kecewa”. Sikap orangtua atau guru itu sebenarnya “membunuh” jiwa anak/murid sendiri.

“Kemenangan” yang dimaksudkan di atas itulah yang lebih penting dalam lomba seni. Sebab, seni lahir dari kedalaman dan kejujuran jiwa, sekaligus menjadi pengasah batin, serta menjadi “pelita” bagi jiwa. Anak yang telah berani ikut lomba seni berarti telah menyalakan pelita dalam jiwanya. Pelita itu akan menjadi penerang ruangan dan perjalanan serta cermin jiwanya di tengah kegelapan hati dan pikiran, sehingga memungkinkan ia bisa melihat dirinya, juga orang lain di sekitarnya. Dari sanalah anak bisa belajar. Belajar melihat kekurangan (koreksi) diri, dan belajar melihat kelebihan yang lain. Menyadari kekurangan diri, dan mampu melihat serta mau mengakui kelebihan orang lain, adalah modal untuk maju. Itulah yang perlu disadari para orangtua/guru dalam membina anak-anaknya. Menanamkan jiwa besar pada anak didik, agar kelak memiliki mental dan jiwa yang kuat, dengan menekuni kegiatan seni yang bisa dijadikan pelita dan cermin jiwa, juga sebagai pelatihan memperhalus perasaan dan budi pekerti untuk memperindah hidupnya.

Lomba Puisi Lautan

Lomba baca puisi adalah salah satu dari sekian jalan pengembangan bakat dan jiwa seni. Kejuaraan juga bukan menjadi tujuan utama. Kalau menjadikan anak sebagai juara sebagai target utama oleh para orangtua atau guru -apalagi kalau sampai menempuh cara yang tidak etis- sesungguhnya ia telah “gagal” sebagai pendidik, karena kesenian hanya dijadikan ajang untuk meraih kepentingan sesaat, demi prestise, gengsi, dan kebanggaan orangtua, guru, dan sekolah.

Lomba Baca Puisi Lautan 2010, untuk murid SD dan SMP se-Bali, yang diadakan oleh Teater Angin SMAN 1 Denpasar, di Wantilan Taman Budaya Bali, pada 18 Juli lalu, penting dijadikan gambaran untuk membuat catatan ini. Sebab, masih ada orangtua atau guru yang bersikap “ironis” seperti digambarkan di atas. Sikap itu memang manusiawi. Kami (saya, Pranita Dewi, dan Eksa Agung Wijaya, yang diberi amanat menjadi juri), bisa memahami dengan rasa prihatin. Di sisi lain, juga bisa kami jadikan cermin diri. Siapa tahu, di luar kesadaran dan kelemahan kami sebagai manusia yang tak luput dari khilaf, hasil kerja kami membuat kecewa sebagian guru atau orangtua peserta, meski kami telah berupaya melaksanakan amanat secara maksimal.

Lomba baca puisi Lautran 2010, untuk tingkat SD diikuti oleh 16 peserta. Rata-rata peserta tampil cukup bagus, masih polos, dan belum terkotaminasi. Juga nampak asyik, bisa menikmati puisi dan mengikuti lomba dengan rasa senang. Mereka bahkan mampu membawakan puisi wajib tulisan orang dewasa, “Tanah Bali 4”, karya Oka Rusmini, serta puisi pilihan -yang sebagian ditulis oleh anak seusia mereka- dengan baik dan menghibur.

Sementara, untuk tingkat pelajar SMP, rata-rata peserta sudah terkontaminasi gaya pembacaannya. Kebanyakan peserta, yang membawakan puisi wajib “Dendang Denpasar” karya Made Adnyana Ole, dan beberapa puisi pilihan lain, lebih mengutamakan teknik dan gaya baca (penampilan), tapi melupakan dan mengabaikan penghayatan atas puisi yang dibawakan, sehingga tampilan mereka jadi hambar, datar, kurang unsur rasa, tak ada greget, bahkan terlalu didramatisir. Dengan kata lain, mereka lebih menonjolkan penampilan fifik yang canggung, tanpa unsur rasa, kurang menghayati isi dan pesan puisi yang dibawakan, sehingga jiwa dan roh puisi tidak terangkat.

Meski begitu kami memberi penghargaan yang tinggi kepada semua peserta, karena telah berani tampil mengikuti lomba dengan penuh semangat. Mereka telah menyalakan pelita, juga menanam investasi cultural dalam jiwanya, yang bermanfaat bagi masa depan. Penghargaan dan rasa hormat juga perlu disampaikan pada para orangtua dan guru yang membimbing dan mendukung anak didiknya dengan tulus. Pun untuk panitia, anak-anak Teater Angin SMAN 1 Denpasar, yang menggelar lomba tersebut.

Yang tak kalah penting lagi, kita semua sama-sama harus terpanggil, dan ikut bertanggungjawab, untuk menumbuhkembangkan jiwa dan bakat seni pada anak-anak. Membantu menyalakan -menjaga tetap hidupnya- pelita seni dalam jiwa anak untuk penerang, teman perjalanan menuju masa depan yang lebih cerah dan indah. Membantu mengisi minyak secukupnya -sesuai kapasitas- pada bejana pelita tersebut, agar tetap menyala. Jangan sampai memercikkan atau menyiramkan minyak pada nyala pelita, sehingga berkobar dan menjadi bara yang bisa membakar, bahkan menghanguskan jiwa dan pikiran anak-anak kita, dengan perilaku yang tak etis sebagaimana tergambar di atas.