Metafora, Sebuah Tanda Bayangan Selembar Nyawa

IBM. Dharma Palguna
http://www.balipost.co.id/

SAYA tidak tahu sudah berapa jumlah orang yang mati hanyut di sungai Ho. Babad tidak bertutur tentang korban seperti itu. Karena Babad adalah tempat orang bertutur tentang para pelaku kebesaran dan keluhuran sejarah mereka.

Bukan salah Babad, bukan pula salah orang yang mati hanyut di sungai Ho. Karena bahkan pada zaman sekarang pun tidak ada orang atau lembaga yang menyempatkan diri untuk menghitung-hitung jumlah pelaku penyeberangan yang kemudian menjadi korban oleh deras arus sungai di musim penghujan.

PENGETAHUAN KITA tentang Yeh Ho belum semaju itu. Dan pelajaran Yeh Ho memang tidak diajarkan dalam kurikulum sebagai muatan lokal. Sekolah lebih fasih mengajarkan nama-nama sungai besar di benua-benua yang jauh, entah di mana dalam bayangan anak-anak desa.

Tapi kita tidak menuntut apa-apa pada lembaga dan juga pada zaman. Dan kita juga cenderung tidak lagi percaya isi sejarah, isi statistik, isi kurikulum. Sebaliknya kebanyakan masih sangat percaya pada isi Babad, justru karena pada Babadlah kebanyakan orang merasa menemukan ”kebesaran” dan ”keluhurannya”.

TIDAK KITA HERAN kalau banyak orang sekarang berperilaku meniru tokoh-tokoh Babad yang terlanjur menjadi idola mereka. Kebanyakan di antara kita seakan berlari menyongsong masa depan dengan menggendong Babad di punggung. Dalam bayangannya kelak mereka akan menjadi persis seperti tokoh-tokoh dalam Babad itu: sakti, bijaksana, pintar, suci, dan penuh dengan keajaiban, dan berbagai kualitas unggul lainnya.

SEKALI LAGI, bukan salah Babad, bukan salah orang yang menganut Babad, dan bukan salah orang yang mati karena terseret arus deras sungai Ho. Kita tidak lagi mencari kesalahan. Karena terbukti kita juga selalu gagal mencari kebenaran.

UNTUK APA MENCARI kesalahan bila toh tidak bisa mendapatkan kebenaran?

Makanya ada yang menawarkan semacam Jalan Tengah. Maksudnya, kita terima saja bahwa sungai dan zaman itu sama-sama tidak lurus jalannya. Begitu bunyi salah satu bacaan suci tentang nasihat-nasihat hidup dan mati.

Di dalam sungai tentulah ada air.

DAN TANPA BERTANYA pada buku suci pun kita tahu bahwa air juga tidak berjalan lurus. Mata kita menyaksikan air bergerak dari tempat yang lebih tinggi menuju tempat yang lebih rendah.

DAN KALAU AIR ITU sering menjadi metafora ilmu pengetahuan, kita pun seakan diberitahu bahwa ilmu pengetahuan itu juga tidak lurus jalannya.

Tapi banyak orang akan menyangkal habis-habisan. Karena kebanyakan di antara kira telah puput diajarkan bahwa orang yang berpengetahuan itu adalah orang yang berjiwa lurus, hidup lurus, mati lurus. Tidak boleh ada yang bengkok kecuali akar pohon dan cara berjalannya ular.

Lurus memang bertetangga dekat dengan kaku. Kalau begitu sekarang kita balik saja pertanyaannya, apa yang jalannya tidak kaku?

SALAH SATU JAWABANNYA adalah air, atau sungai. Pertanyaan itu sendiri dapat dibaca sebagai sebuah tanda, bahwa sebaiknya kita jangan berpikir bahwa pikiran kita telah dipuput oleh tradisi dari masa lalu. Banyak permasalahan belum selesai di masa lalu.

BABAD SEJATINYA belum mencapai ending. Bila pikiran itu diibaratkan sebuah upacara, maka Upacara Pikiran sejatinya sedang dan masih berlangsung. Kita tidak perlu sulinggih untuk memuput Upacara Pikiran ini. Ini upacara sangat pribadi dan rahasia.

Sunga Ho masih mengalir. Sungai Ho masih diseberangi oleh para pelintas tepian. Cerita tentang sungai itu belum puput. Pelaku dan korban hanya dipisahkan selembar nyawa. Setipis bayangan wajah kita di air. Oh Ho!