Mochtar Lubis 80 Tahun

H. Rosihan Anwar
http://www.gatra.com/15 Maret 2002

WARTAWAN Mochtar Lubis merayakan hari ulang tahun ke-80 di auditorium Perpustakaan Nasional, Jakarta, 9 Maret 2002. Selama acara dua jam, saya duduk di sampingnya. Secara fisik, Mochtar Lubis (ML) oke, memang agak kurus dan wajahnya menua. Kalau bicara, suaranya kurang jelas. Dia ketawa-ketawa kecil, tanda dia mengikuti dan memahami sambutan 10 pembicara, dari Jakob Oetama hingga Taufik Abdullah. Tahu-tahu, tangannya mengusut-usut punggung saya sebagai ekspresi kemesraan dan persahabatan. Kadang-kadang pandangannya sayu, memperlihatkan suatu kehampaan, sepertinya dia sendirian terkurung dalam dirinya. Sejak istrinya tercinta Halimah, 77 tahun, tutup usia pada 27 Agustus 2001, Mochtar kesepian. Teman setia yang biasa dia ajak bicara tidak ada lagi. ML jadi pelupa. Penampilan fisiknya sehat saja, tapi kondisi batinnya mulai mundur. Melihat itu, lidah saya kelu. Saya terharu, tak tahu ngomong apa, padahal biasanya saya orang yang bicara bijak.

Dalam acara, saya memberikan doa sahabat seperjalanan. Saya katakan, mencapai umur 80 tahun adalah karunia, anugerah Ilahi tanda belas kasih. Dalam sebuah hadis qudsi Allah berfirman, “Apabila hamba-Ku telah mencapai umur 80 tahun, maka dicatat semua amal kebajikannya dan dihapus semua dosa-dosanya sebagai suatu pemutihan.” Mochtar Lubis adalah wartawan, sastrawan, budayawan, dalam satu kemasan, yang tiada taranya, tersohor sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred) Harian Indonesia Raya, tercatat sebagai “the crusading journalist”.

Tentu kita bisa bicara banyak tentang perjuangan ML di masa silam, tapi saya memilih memandang ke depan. Diilhami oleh ucapan Bung Karno, kita boleh bilang, “For a fighting journalist there’s no journey’s end”, namun menurut kodrat Ilahi dan hukum alami, perjalanan pasti akan terhenti. Siapa takut? ML dahulu tidak takut pada siapa pun, tapi kini dia takut pada Tuhan Maha Pengasih Maha Penyayang. Seorang sufi perempuan di Baghdad beberapa abad yang lalu berucap, “Ra’sul Hikmah makhafatullah.” Kearifan yang setinggi-tingginya adalah takut kepada Allah. Pada usia 80 tahun, setelah melalui kebahagiaan dan kedukaan, sampai pada keadaannya seperti sekarang, Mochtar niscaya telah memiliki kearifan. Kita berharap, dia akan menempuh sisa kehidupannya dengan aman sentosa, diberkati Allah Ta’ala. Sebagai sahabat seperjalanan yang sebaya, saya doakan bagi Mochtar dalam langkah-langkahnya selanjutnya: Zahab fi amanillah, berjalanlah dalam keamanan Allah, Go with God, Vaya Con Dios.

Mochtar Lubis lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922. Ayahnya pegawai pangreh praja atau binnenlands bestuur (BB) pemerintah kolonial Hindia Belanda yang ketika pensiun pertengahan 1930-an menjabat sebagai Demang atau Kepala Daerah Kerinci. Demang Pandapotan itu digantikan oleh ayah saya, Demang Anwar Maharadja Soetan. Setelah tamat sekolah dasar berbahasa Belanda HIS di Sungai Penuh, ML melanjutkan pelajaran di sekolah ekonomi di Kayutanam yang dipimpin S.M. Latif. Seperti sekolah INS di bawah pimpinan Mohammad Sjafei yang juga ada di Kayutanam adalah sekolah partikelir, bukan sekolah gubernemen (pemerintah), sekolah ekonomi yang sederajat dengan SMP mampu menghasilkan pelajar-pelajar yang berjiwa mandiri. Pendidikan formal ML tidak sampai pada taraf AMS atau HBS, namun hal itu tidak mencegahnya menjadi guru sekolah sebentar di Pulau Nias, sebelum pergi ke Jakarta. Pembentukan intelektual ML terutama hasil belajar sendiri. Ia rajin membaca buku. Seorang otodidak sepanjang hayatnya.

ROSIHAN ANWAR Pada zaman Jepang, ia bekerja sebagai anggota tim yang memonitor siaran radio Sekutu di luar negeri. Berita yang didengar lalu dituliskan dalam laporan untuk disampaikan kepada Gunseikanbu, kantor pemerintah bala tentara Dai Nippon. Demi sekuriti dan agar berita radio itu tidak tersebar ke dalam masyarakat, tim monitor tinggal terpisah dalam kompleks perumahan di Jalan Timor, di belakang hotel milik Jepang di Jalan Thamrin sekarang. Dalam tim itu terdapat Dr. Janssen mantan pegawai Algemene Secretarie di Bogor yang paham bahasa Jepang, J.H. Ritman mantan Pemred Harian Bataviaasche Nieuwsblad, Thambu mantan wartawan Ceylon yang melarikan diri dari Singapura setelah kota itu jatuh ke tangan Jepang, dan Mochtar Lubis. Pada masa itulah, akhir 1944, ML menikah dengan gadis Sunda, Halimah, yang bekerja di Sekretariat Redaksi Harian Asia Raja.

Baru setelah proklamasi kemerdekaan dan kantor berita Antara yang didirikan tahun 1937 oleh Adam Malik dkk muncul kembali, ML bergabung dengan Antara di mana dia, karena paham bahasa Inggris secara aktif, jadi penghubung dengan para koresponden asing yang mulai berdatangan ke Jawa untuk meliput kisah Revolusi Indonesia. Sosoknya yang tinggi 1.85 meter merupakan pemandangan familier di tengah war correspondents yang bule-bule. Menjelang penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia Serikat (RIS) 27 Desember 1949, ML bersama Hasjim Mahdan mendapat ide untuk memulai surat kabar baru, maka lahirlah harian Indonesia Raya dengan Mochtar Lubis sebagai pemrednya. Ketika pertengahan 1950 pecah Perang Korea, ML pergi meliput pertempuran di Korea Selatan dan ia pun terkenal sebagai koresponden perang. Pada parohan pertama dasawarsa 1950, ketika di zaman liberal, demokrasi parlementer, sangat dominan adanya “personal journalism”, maka ML adalah identik dengan Indonesia Raya, begitu pula sebaliknya. Surat kabar dikenal oleh yang memimpinnya: B.M. Diah di Merdeka, S Tasrif di Abadi, Rosihan Anwar di Pedoman.

Sebelum dikenai tahanan rumah pada 1957 yang kemudian berupa tahanan penjara selama sembilan tahun sampai 1966, ML membikin masyarakat gempar dengan beberapa cerita/berita, yang disebut “affair”.

Pertama, affair pelecehan seksual yang dialami Nyonya Yanti Sulaiman, ahli purbakala, pegawai Bagian Kebudayaan Kementerian P & K. Bosnya di bagian itu bernama Sudarsono tidak saja berusaha merayu, melainkan juga mengeluarkan kata-kata seks serba “serem”. Tidak saja Indonesia Raya, melainkan juga Pedoman yang saya pimpin berhari-hari menyiarkan cerita asyik tentang sang Don Juan Sudarsono.

Kedua, affair Hartini ketika terungkap hubungan Presiden Soekarno dengan seorang wanita di Salatiga yang mengakibatkan Nyonya Fatmawati berang dan kemudian meninggalkan istana.

MOCHTAR LUBIS Ketiga, affair Roeslan Abdulgani. Pada 13 Agustus 1956, CPM menangkap mantan Menteri Penerangan dalam kabinet Burhanuddin Harahap, Syamsudin Sutan Makmur, dan Direktur Percetakan Negara, Pieter de Queljoe, karena urusan korupsi yang melibatkan Lie Hok Thay yang lebih dulu ditahan. Hok Thay mengaku memberikan uang satu setengah juta rupiah kepada Roeslan Abdulgani yang berasal dari ongkos mencetak kartu suara pemilu. Akibatnya, Roeslan yang telah menjadi Menteri Luar Negeri dalam kabinet Ali Sastroamidjojo hendak ditahan oleh CPM dua jam sebelum keberangkatannya tanggal 14 Agustus ke London untuk menghadiri konferensi internasional mengenai Terusan Suez. Presiden Mesir Nasser baru saja menasionalisasikan Suez. Berkat intervensi PM Ali dan Kepala Staf Nasution, penangkapan dibatalkan, dan Roeslan bisa berangkat ke luar negeri.

Dapat dimengerti apabila Presiden Soekarno yang tengah mewujudkan konsep politiknya –kelak menjelma sebagai demokrasi terpimpin Orde Lama– marah-marah terhadap ML dan Indonesia Raya. Kolonel A.H. Nasution menjadi sekutu terpercaya Soekarno. Di musim gugur 1956, International Press Institute menyelenggarakan pertemuan para editor Indonesia dan editor Belanda di Zurich, Swiss, untuk mendiskusikan hubungan kedua negara. Sehari sebelum keberangkatan para editor, Mochtar dan saya diinterogasi oleh CPM selama delapan jam di markasnya mengenai “sesuatu pemberitaan”. Kami diminta untuk stand by terus, namun tidak kami indahkan.

Keesokan harinya, Mochtar dan saya serta Diah, Tasrif, Wonohito, Adam Malik naik pesawat KLM dari Kemayoran. Lebih dari sebulan kami berada di luar negeri menunggu situasi aman di Tanah Air. Kemudian kami kembali dan di bandara diberitahu, kami tidak akan ditangkap oleh Jaksa Agung. Saya memang tidak diapa-apakan, tetapi Mochtar tidak lama kemudian dikenai tahanan rumah. Ia mencoba memimpin Indonesia Raya dari rumah, tapi makin hari makin sulit situasinya. Pada 1961, ML dipindahkan ke penjara Madiun dan di sana ditahan bersama mantan PM Sjahrir, Mohammad Roem, Anak Agung Gde Agung, Sultan Hamid, Soebadio Sastrosatomo, dan lain-lain. Keadaan di Tanah Air kacau. Peristiwa PRRI-Permesta menggoyahkan stabilitas. Kebebasan pers sirna. Indonesia Raya, Pedoman, Abadi dilarang terbit oleh Soekarno-Nasution.

Selain sebagai wartawan, ML juga dikenal sebagai sastrawan. Ia pandai pula melukis dan membuat patung dari keramik. Mulanya dia menulis cerpen dengan menampilkan tokoh karikatural si Djamal. Kemudian dia bergerak di bidang penulisan novel. Di antara novelnya dapat disebut: Harimau, Harimau!, Senja di Jakarta, Jalan Tak Ada Ujung, Berkelana Dalam Rimba. Dia memperoleh Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusastraan.

Setelah tahun 1968 Indonesia Raya diizinkan terbit kembali, ML melancarkan “perang salibnya” terhadap korupsi di Pertamina. Bos perusahaan negara itu, Letnan Jenderal Ibnu Soetowo, disorot dengan tajam, namun sia-sia belaka. Ibnu boleh mundur sebagai Direktur Utama Pertamina, akan tetapi posisinya tetap kokoh dan harta yang dikumpulkannya tidak dijamah. ML memang menjadi “hero” di pentas jurnalistik, itulah yang amat disukainya. Apakah soalnya menyangkut pencemaran lingkungan hidup atau pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM), bisa dijamin ML ada di sana sebagai pembela perjuangan untuk yang benar dan adil. “Hero-complex”-nya menjadi motor pendorong dan motivasi penting dalam tindak-tanduknya.

MOCHTAR LUBIS Ketika terjadi peristiwa Malari Januari 1974 dan para mahasiswa beraksi mendemo PM Tanaka dari Jepang, kebakaran terjadi di Pasar Senen, disulut oleh anak buah Ali Moertopo, Presiden Soeharto jadi gelagapan. Ia instruksikan membredel sejumlah surat kabar, di antaranya Indonesia Raya, Pedoman, dan Abadi. ML sendiri ditahan selama dua bulan. Setelah bebas lagi bergerak, seusai ambruknya Orde Lama Soekarno dan timbulnya Orde Baru Soeharto, Mochtar banyak aktif di pelbagai organisasi jurnalistik luar negeri seperti Press Foundation of Asia. Di dalam negeri, dia mendirikan majalah sastra Horison dan menjadi Direktur Yayasan Obor Indonesia yang berprestasi menerbitkan buku-buku bermutu, baik yang dari luar negeri maupun domestik. Usaha penerbitan itu bisa tinggal landas lantaran yayasan ini memperoleh dana dari luar, seperti Ivan Kats dari Asia Foundation. Sesungguhnya, salah satu ciri khas ML ialah PR (public relations) yang kuat, keluwesan bergaul, antusiasme terhadap sesuatu cause seperti ekologi, demokrasi, keadilan, dan hukum. Pintu yang diketoknya menjadi terbuka dan soal pendanaan tak jadi masalah.

Pada dasarnya HUT ke-80 Mochtar Lubis, seorang pembicara dari LIPI, yaitu Dr. Mochtar Pabottinggi, menamakan Mochtar “person of character”, insan nan berwatak. Di negeri kita sekarang, makin langka “person of character” itu. Bung Hatta di zaman Pendidikan Nasional Indonesia awal 1930-an suka menyerukan agar tampillah manusia-manusia yang punya karakter. Ibu Pertiwi tetap mengharapkan dan memerlukan banyak “person of character”. Maka, dalam cahaya, kita menghormati wartawan Mochtar Lubis yang sudah sepuh. Sudah saatnya dia dianugerahi tanda kehormatan Bintang Mahaputra oleh Presiden RI.

H. Rosihan Anwar, Wartawan senior
[Kolom Gatra Nomor 17 Tahun ke VIII, Beredar 11 Maret 2002]