Penulis Vs Selebritis

Cipto Wardoyo
http://www.kompasiana.com/cipto-wardoyo

Kali ini aku mencoba menulis tentang dunia kepenulisan di Indonesia yang cukup menarik untuk dibahas. Saat ini menurut ku dunia kepenulisan di tanah air, termasuk sastra dan sebagainya itu benar-benar sedang dalam masa-masa yang bisa dibilang “sangat memprihatinkan”. Kita tahu sekarang ini karya-karya sastra kuno di Indonesia banyak yang telah lenyap entah kemana, sangat sedikit yang mau mempedulikannya. Belum lagi kini setelah meninggalnya tokoh-tokoh sastrawan yang sebelumnya sangat peduli akan jagad sastra Indonesia, seperti WS Rendra. Kondisi sastra Indonesia semakin memprihatinkan.

Menurut aku salah satu factor yang menyebabkan terpuruknya jagad sastra di Indonesia sekarang ini adalah karena dipicu oleh krisisnya penulis di Indonesia. Masih banyak orang-orang yang malas menulis, atau menjadi seorang penulis. Bahkan kini siswa, mahasiswa hingga guru dan dosen sekalipun banyak yang “malas” menulis. Sedikitnya orang yang tertarik menggeluti dunia kepenulisan juga sebagai dampak adanya anggapan masyarakat yang sering kali meremehkan profesi seorang penulis. Banyak yang beranggapan “apa sih untungnya jadi seorang penulis?”.

Tentu ini sangat memprihatinkan. Profesi penulis nampaknya masih kalah tenar dengan profesi seorang artis sinetron, masih kalah cemerlang dengan anak-anak band, masih kalah pamor dengan penyanyi-penyanyi ibukota, masih kalah menarik dengan para pesulap “street magic”. Tiga kata saja, tragis dan ironis! Padahal jika kita mau merenung dan mencermati, sejatinya ilmu pengatahuan dan perkembangan teknologi yang kian pesat saat ini juga tidak terlepas dari jasa seorang penulis. Memang banyak orang-orang cerdas di negeri ini, tapi masih sedikit sekali yang mau menulis. Alasan klise yang selalu ada di benak mereka yaitu “malas”.

Tidak bisa dipungkiri menulis itu bisa dibilang mudah, tapi juga banyak yang menganggapnya susah. Untuk menjadi seorang penulis “yang baik” tidak cukup sekali atau dua kali berlatih menulis, lantas jadilah seorang penulis. Namun untuk menjadi seorang penulis yang sungguh-sungguh mumpuni butuh ribuan hinngga jutaan kali menulis. Bahkan para penulis yang kini sudah terkenal pun masih terus belajar menulis. Karena dunia kepenulisan itu memang dinamis, selalu berkembang. Maka dari itu sudah selayaknya kita hargai profesi seorang penulis. Tanpa jasa seorang penulis tak mungkin jadi sebuah buku yang memenuhi rak-rak perpustakaan, tak mungkin pula ada komik, novel, hingga banyak pula karya tulisan yang difilmkan.

Realita yang ada di masyarakat kita saat ini amat jauh berbeda. Aku melihat masyarakat masih sangat kurang dalam menghargai profesi seorang penulis. Masyarakat kita lebih menghargai artis sinetron dari pada penulis. Padahal sinetron pun berawal dari ide cerita yang diangkat oleh seorang penulis. Masyarakat khususnya generasi muda lebih nge-fans sama anak-anak band ketimpang terhadap seorang penulis. Kita tahu betapa antusias anak-anak muda Indonesia ketika melihat pertunjukan atau “show” music yang menampilkan anak-anak band ataupun penyanyi. Sekali mereka menyanyi atau manggung, gak usah ditanya berapa honornya. Wuih luar biasa, banyak banget boz. Sampai-sampai banyak yang ngantri pingin jadi penyanyi terkenal hingga apapun dilakukan.

Tapi bagaimana sikap anak muda Indonesia terhadap para penulis yang sangat berjasa menorehkan pemikiran dan ide-ide demi kemajuan bangsa. Jujur saja, banyak anak muda Indonesia yang kini meremehkan terhadap profesi seorang penulis. Lihat saja saat ada acara workshop jurnalistik, diklat menulis, launching dan bedah buku, atau lomba menulis. Masih sangat sedikit sekali anak muda Indonesia yang tertarik mengikutinya, jangankan mengikuti dengar kata “menulis” saja banyak yang tiba-tiba terserang “sindrom”(hehe). Realita ini berbeda jauh dibandingkan ketika ada penampilan sebuah band atau penyanyi, walau harus berhimpit-himpitan hingga terinjak-injak pun tetap dijalani. Tragis dan ironis!