Muchtar Lubis, Adam-Hawa, dan Manusia Indonesia

Jemie Simatupang
http://www.kompasiana.com/jemiesimatupang

DUA ORANG sosiolog terlibat dialog sengit. Soalnya: dari bangsa manakah Adam dan Siti Hawa—manusia pertama itu?

Sosilog pertama bilang: ”Pasti orang Mesir!”

”Goblok kamu! Mesir waktu itu belum lahir,” bantah sosiolog kedua.

”Kalau bukan, berarti Orang Yahudi!”

”Mana bisa,” bantah sosilog kedua lagi, ”Yahudi itu ada dengan Nabi Ibrahim!”

”Hm, kalau begitu saya yakin berarti mereka Orang Indonesia?”

”Loh, kok bisa? Dasarnya?”

”Yah, coba lihat mereka—Adam dan Hawa—hanya punya sebuah Khuldi, seekor ular, tak punya rumah, bahkan tak punya baju dan celana, tapi tokh mereka merasa tinggal di sorga!”

Ya manusia Indonesia itu banyak yang (di)miskin(kan) tapi merasa bahagia—merasa tinggal di surga. Dininabobokan berbagai takhyul-takhyul yang dibuat penguasa atau yang mereka buat sendiri.

Dialog itu saya ambil dari buku ”Manusia Indonesia” karangan Muchtar Lubis—yang awalnya merupakan ceramah Muctar Lubis di Taman Ismail Marzuki tahun 1977. Salah satu buku yang sudah menjadi klasik tapi tetap diperbincangkan orang di negeri ini. Dalam ”Manusia Indonesia” Muchtar Lubis menjelaskan apa-apa saja yang menjadi ciri atau sifat Manusia (Orang) Indonesia itu. Dan karikatural Adam-Hawa adalah prolognya menuju sifat-sifat Orang Indonesia yang lain.

Manusia Indonesia itu, menurut Muchtar Lubis: (1) Hipokrit atawa munafik, sehingga senang bikin gerakan ABS—Asal Bapak Senang (2) Enggan bertanggung-jawab atas kesalahan yang diperbuat (3) Berprilaku feodal (4) Percaya takhyul (5) Berbakat artistik [nyeni] (6) Lemah watak dan karakternya.

Mendapat stereotipe miring begini, banyaklah ”Manusia Indonesia” itu yang protes. Isu ini sempat menjadi polemik dan mencuat di korang nasional—termasuk Kompas. Yang kontra bilang—salah satunya—tidak semua Orang Indonesia begitu, Muchtar Lubis telah mengenalisir, atau ada yang bilang Muchtar Lubis sangat subjektif, menyimpulkan ciri orang Indonesia hanya berdasarkan pengamatannya saja, bukan melalui cara-cara ilmiah, dan lain-lain (polemik ini dimuat dimuat dibagian akhir buku itu).

Tapi lepas dan pro-kontra, saya pikir ada benarnya juga Muchtar Lubis ini. Bahkan setelah lebih dari 20 tahun buku itu ditulis. Buku ini bisa menjadi bahan refleksi. Lihatlah misalnya apa yang terjadi di negeri ini: bagaimana orang saling lempar tanggung-jawab saat bail-out century merugikan triliunan uang negara beberapa waktu lalu, atau yang lagi hangat: berani bikin film porno tapi tak mengakui kalau mereka aktor-artisnya. Inikan sifat tak berani bertanggung jawab?

Atau soal percaya takhyul, lihatlah banyaknya layanan diTV yang menawarkan jasa meramal (sekaligus merubah jalan hidup) hanya dengan mengetik Reg spasi Ramal kirim ke sekian…sekian… Atau bagaimana belum lama ini orang berduyun-duyun meminta air celupan tangan Ponari, diminum, konon biar sembuh dari beragam penyakit.

Lagi pula Nyi Roro Kidul, penguasa pantai selatan itu telah lama dipercayai sebagian besar orang. Padahal menurut Pramoedya Ananta Toer, itu adalah mitos yang sengaja diciptakan oleh penguasa, agar mereka tetap yakin bahwa lautan tetap dikuasai, setelah kalah dengan pasukan-pasukan laut lain waktu itu (Spanyol dan Portugal).

Atau kalau kita tak mau melihat kesalahan orang lain, coba saja lihat Manusia Indonesia dalam diri sendiri. Saya sendiri membaca buku ini kadang cengar-cengir sendiri: ”Loh kok Muchtar Lubis tahu ya kalau saya ini kadang percaya takhyul, atau loh kok saya ini juga suka bikin gerakan ABS!”

Atau apesnya: ”Walah, ternyata saya munfik juga!” Merasa diri paling peduli pada sesama–terlebih ke orang-orang termarginalkan–padahal kebanyakan hanya di kata-kata saja. Saya kutip Bang Charil Sani lagi, lain kata sama perbuatan. Tak klop!

Begitulah. Manusia Indonesia adalah cermin dari Muchtar Lubis. Kita lihat bayangan buruk pada cermin itu. Lantas apakah buruk rupa cermin dibelah? [*]