Puisi-Puisi Ahmad Syauqi Sumbawi

kr.co.id 24 May 2003

MARI MENYANYI

mari bernyanyi
di antara langit dan bumi
tembang cinta yang terlupa
yang menjadi candu
ketika gigil rembulan
mengurai air mata

mari bernyanyi
bersama mahatma gandhi
ahimsa yang terluka
di bukit senja

krapyak, 03

AHIMSA
* in memoriam mahatma gandhi

ia berjalan, memutar
di tengah-tengah palagan
dalam genggamannya
ahimsa berkibar senantan
redam letusan dua senapan
dari peluru-peluru berdesing
menembus dada sena yang sifir
terduang oleh tahta yang rangah

ia bersimbah darah
namun, ahimsa tegak menancap bumi
kibar bersama angin
bernafas dalam sukma
meski nafsu serakah menyiapkan
air sembilan kematiannya
selamanya

krapyak, 03

DIKEBIRI

kita telah dikebiri
bayang tak dikenal
menikam setiap gerak
detik demi detik
dan sepanjang itu
kelahiran bayi yang suci, murni
tak akan pernah terjadi
di atas bumi

kita telah dikebiri
tapi,
waktu ingin berputar kembali
agar bayi yang suci, murni
terlahir di atas bumi

krapyak, 03

_____________________
Ahmad Syauqi Sumbawi, sastrawan kelahiran Lamongan 28 April 1980. Menulis cerpen, puisi, novel, esai, kritik, dll. Sebagian karyanya dipublikasikan di media massa. Puisi-puisinya terkumpul dalam antologi: Dian Sastro For President; End of Trilogy (Insist, 2005), Malam Sastra Surabaya; MALSASA 2005 (FSB, 2005), Absurditas Rindu (2006), Khianat Waktu (DKL, 2006), Laki-Laki Tanpa Nama (DKL, 2007), Gemuruh Ruh (2007), Kabar Debu (DKL, 2008), Tabir Hujan (DKL, 2010), Darah di Bumi Syuhada (2013), Pesan Damai di Hari Jumat (2019), Menenun Rinai Hujan (2019). Dan beberapa cerpennya dapat dibaca pada kumpulan: Sepasang Bekicot Muda (Buku Laela, 2006), Bukit Kalam (DKL, 2015), Di Bawah Naungan Cahaya (Kemenag RI, 2016).
Sementara antologi tunggalnya: Tanpa Syahwat (Cerpen, 2006), Interlude di Remang Malam (Puisi, 2006), dan #2 (SastraNesia, Cerpen 2007). Novel-novelnya yang telah terbit: Dunia Kecil; Panggung & Omong Kosong (2007), Waktu; Di Pesisir Utara (2008), dan “9” (2020). Sedangkan bukunya dalam proses cetak ulang “#2,” dan Limapuluh (kumpulan puisi) segera hadir. Selain menulis, juga berkebun, dan mengelola Rumah Semesta Hikmah, dengan kajian dibidang sastra, agama dan budaya, di dusun Juwet, Doyomulyo, Kembangbahu, Lamongan.