Puisi-Puisi Akhmad Muhaimin Azzet

http://www.suarakarya-online.com/
Pesta Kembang Kertas

taman malam begitu dingin,
tapi engkau membaris
lilin hitungan usia
yang semakin saja bergemetar
kembang-kembang kertas
bertebaran hingga dada
menjadikan makna perjalanan
terkikis oleh embun
dan ciuman membara
di kolong yang telah buram

jangan lagi percaya
kepada khutbah para pendosa
katamu, tetapi betapa berlari itu
meledakkan api
yang engkau mengabadikan baranya
di pesta-pesta
kapan lagi duhai,
bukan semata mimpi kedalaman
bukankah telaga kita
betapa pernah bersaksi cinta

Seusai Melukis di Pinggir Kali

berbaringlah kekasihku,
menuntaskan segala warna
senyampang yang mengalir
masih kebeningan
dan melati betapa bertebaran menguar wangi
agar tak lagi nanar tatap ini,
hanya sekedar lekuk
berkali degup jantung
membisikkan silau cahaya

berbaringlah kekasihku,
meredam gejolak mempurba
sebagaimana saat mengalirkan
segala amsal gelisah
dalam aliran hari-hari,
yang senantiasa gemerisik
anggaplah, duhai,
percintaan air dan batu-batu kali
bukankah dendam juga
menghanyutkan gemetar hati

Tentang Kepentingan Siapa

anak-anakku kini telah tidak belajar lagi
mengeja tentang kepentingan siapa, berbusa
mulutnya dan berbaru anyir entah karena apa

seorang tetangga bilang sebab televisi
yang menayangkan berita, para pembicara

anak-anakku kini belajar membungkam
mulutnya, dan hanya mau membuka mata
melihat kenyataan
tentang kepentingan siapa

Sepotong Daging di Perjamuan

jangan lagi atas nama cinta,
siapa yang berburu
saat kegelisahan sebenarnya lindap
di perjamuan
maka sepotong daging apalah artinya,
dijajakan
dan betapa lalat berhamburan
sepanjang temaram
lantas di manakah perbedaan
selembar kain yang
mewangi, atau justru
sepotong daging membusuk
padahal janji juga telah dibacakan, telanjur batu
lihatlah ketakutan seperti
mengiris jantung sendiri

Kembali Bersujud

akankah kebusukan ini dipestakan
dengan umpatan
dalam perhelatan agung,
berjubah kata atas nama
meski diam-diam pelacur pun bisa bertanya
sebenarnya lapar ditahtakan demi kepentingan
siapa, namun jangankan kembali
bersujud membunga
yang sungguh dirindu pesona dan wanginya
bersedekap saja kita kerap enggan:
sebab nyatanya
kembali bersujud, katamu,
menatap ada dusta!

Mematung di Ujung Hujan

segalanya telah basah dalam pertikaian ini
memahamimu sahabat, seperti mematung di ujung hujan
siapa yang bisa memastikan
datangnya angin reda
apabila rahim waktu,
masih sembunyikan orok dendam

kemarau yang berlalu
memang bukan wujud kutukan
membangun poranda ini sahabat,
padahal kita bersedekap
negeri ini dalam banjir sarat beban keseharian
belum lagi mulutmu berbusa,
menghujat sialan

Tentang Penulis
Akhmad Muhaimin Azzet, kelahiran Jombang, Jatim, 2 Februari 1973 enulis puisi di sejumlah media cetak daerah dan nasional. Beberapa puisi terangkum dalam antologi puisi Tamansari (1998), Embun Tajalli (2000), Lirik Lereng Merapi (2001), Filantropi (2001), Malam Bulan (2002) dan Sajadah Kata (2002). Alumnus IAIN Yogyakarta ini juga aktif menulis cerpen, esai budaya, dan naskah drama.