Sutawijaya Mbalela (2)

Sastraadiguna
http://www.kompasiana.com/sastraadiguna

Pakuwon Randulawang

ki Juru Martani sedang mengatur strategi bersama Senapati ing Ngalaga, “ Jebèng Sutawijaya, kadya paran ing karsanira, tan wurung aprang klawan ramanta Sultan Pajang sayekti pira dohé mung let iku sadhidhik kali Opak, wengi iki bénjing aprang pupuh, manira kelakung merang mulat mantri Pajang yekti yèn tempuh ngawaki yuda, déné bapa mungsuh siwi rebut nagri aprang pupuh “ (anakku Sutawijaya, bagaimana pendapatmu, kini mau-tidak mau akan terjadi pertempuran melawan Sultan Pajang, wadyabala Pajang sudah dekat, dan jaraknya hanya diseberang kali Opak, malam inilah penentuannya, kalau besuk pagi akan terjadi perang besar dan tentu banyak korban, aku dapat meyaksikan pertempuran yang luar biasa antara ayah melawan anaknya hanya berebut soal tahta).

Senapati menjawab :” Kadospundi paman, manira inggih anurut karsa jengandika “ (menurut paman juru bagaimana baiknya, aku ikut saja).

“ yèn sembada lawan karsa, para dhingin semayan Raja dèwi, sedheng tinagih ing kèwuh, manira ya semayan Panembahan Gunung Mrapi ing nguni wus sumanggup “(jika memang tidak ada pilihan lain, maka kau hubungi dulu Nyi Ratu Kidul, yang katanya dulu pernah berjanji akan membatumu jika terjadi kesulitan. Aku sendiri akan menghubungi panembahan Gunung Merapi, yang dahulu pernah menjanjikan akan siap membantu kalau aku memintanya).

Senapati ing Ngalaga, beranjak dari tempat duduknya dan keluar di pelataran pamagangan, kemudian ia duduk bersila sedhakep salugu juga, hanutupi bah-bahan hawa sanga, maladik maladihening, tumenga ing tawang, jroning nala andhodhog korining kedhaton Segara Kidul, anjelih marang Ratu Mas, sinedya énggal prapta (kedua tangan menyilang didepan dada, memusatkan pikirannya pada satu titik, kepala menengadah kelangit, dalam konsentrasinya Senapati memanggil penguasa Laut Selatan) kemudian dari arah selatan muncul awan hitam bergulung-gulung yang mengeluarkan suara gemerincing, angin bertiup kencang dan diiringi hujan. Angin topan mengguncangkan pepohonan besar dan tumbang berhamburan. Derai tawa dan sorak sorai prajurit lelembut dan bekasakan dari Laut selatan mengawal perjalanan Nyai ratu Mas penguasa Laut Selatan.

Sementara dari arah utara gemuruh angin bertiup kencang , awan hitam menggulung, hujan abu, puncak Merapi memuntahkan lahar dingin mengalir kearah tenggara menerjang pakuwon Prambanan. Malam itu merupakan malam yang menyengsarakan bagi wadyabala Pajang, mereka lari tunggang langgang mencari hidup.

Sultan Pajang jatuh sakit

Sultan Pajang dengan kadang sentana dan para nayaka mantri berkumpul di tempat yang agak tinggi. Kemudian seluruh wadyabala yang masih selamat, diperintahkan untuk bergerak menuju keutara dan makuwon di wilayah Tembayat. Maksud sultan Pajang sekalian untuk melakukan ziarah pada Sunan Bayat. Kemudian Sultan Pajang mendorong pintu makam, tetapi tidak bisa dibuka.

Kemudian ditanya sang juru kunci; ” hèh kunci apa karsanya, déne sun sorog tan kena “(juru kunci, apa sebabnya, pintu aku dorong tidak bisa terbuka).

Juru kunci menjawab pelan;” inggih sinuhun tan winenang Hyang Widhi, tinampik déning kang tinunggu, wong mati prak ing sukma cahya nurbuwat sampun ngalih, dhumateng rajèng ing Mataram” (ya tuanku, memang tak dikehendaki oleh Hyang Widhi, kedatangan paduka memang sudah ditolak karena wahyu kedaton sudah berpindah ke Raja Mataram).

Sultan Pajang menjadi lemas tubuhnya, setelah mendengar penuturan ki Juru Kunci makam Sunan Tembayat. Karena sudah penat, Sultan Pajang tidur di Bale Kencur, baru kali ini sang Prabu merasakan nikmatnya tidur. Seluruh kadang sentana tidurnya bergantian, para prajurit juga bergantian istirahat.Keesokan harinya mereka sudah merasa bugar kembali, Sultan Pajang memerintahkan kepada segenap wadyabala dan sentana nayakapraja untuk kembali ke Pajang. Sultan Pajang naik Gajah, dalam perjalanan kearah timur di pertigaan jalan kearah Pajang, Sultan jatuh dari tunggangannya. Kemudian para prajurit, mengangkat Sultan Pajang ke dalam tandu.

Senapati ing Ngalaga mendengar laporan dari prajurit sandi tentang perjalanan Sultan Pajang ketika di makam Sunan Tembayat hingga perjalanan pulang dan jatuh dari tunggangannya. Senapati ing Ngalaga dengan dikawal 40 prajurit pinilih, bergegas menyeberangi kali Opak untuk menjenguk ramandanya yang menderita sakit.

Sementara itu wadyabala Mataram membubarkan diri dari Pakuwon Randulawang, dan bergerak kearah utara membuat baris pendhem mengepung pasukan Pajang. Hal ini berjaga-jaga jika keadaan menjadi semakin memburuk. Para nayakapraja dan kadang sentana Pajang sama sekali tidak menduga jika Senapati akan menyusul secepat itu.

“ inggih punika pun kakang Senapati, nusul lan wadya tut pungkur antawis kawandasa, yèn suwawi ing karsa paduka, pan pinethuk winangsulan, déné wadyanipun sakedhik. Amba purun methuk yuda, déné wadya paduka kathah “ (ini kakang Senapati datang beserta 40 pengawalnya, jia baginda mengijinkan kan amba hadapi seluruh prajuritnya agar kembali ke Mataram. Hamba juga bersedia bertempur dengannya, mereka itu hanya sedikit, sedangkan kita banyak). Usul Adipati Tuban yang sudah berkali-ali menginginkan untuk bertempur melawan Senapati.

Sultan Pajang bersabda;” ya kabèh putraningwang, aja sira wani andon yuda mring kakangmu Senapati ing Ngalaga, minangka gegantiningsun yèn lalis. Sadulur tuwa sinembah, awit kakangira Senapati sayekti abanget tresna maring sun, iku angater maring wang saking mirma wruh lamun gerah ingsun, gumati marang wong tuwa, bektènira angluwihi. Mbesuk ing sapungkuring wang, yèn sun lalis poma dèn atut sami kalawan kakangirèku (semua anakku, jangan ada yang berani melawan kakakmu Senapati ing Ngalaga, kakrena dialah kelak yang akan menggantikanku ketika aku telah meninggal. Sebagai saudara yang tertua maka ia wajib dihormati, kakakmu Senapati itu karena sangat sayang padaku, maka kedatangannya itu untuk mengantarkan aku, agar tak terjadi benturan dengan pasukannya. Kelak sepeninggalku jika aku sudah meninggal supaya kalian menurut pada kakakmu Senapati).

Pangeran Benawa setelah mendengar ramandanya menasehati dengan suara yang lirih, dalam hatinya menangis. Para pangeran dan putra sentana menangis terisak-isak dalam perjalanan. Singkat cerita perjalanan Sultan Hadiwijaya telah sampai di kerajaan Pajang. Setelah sang Prabu masuk ke dalam kedaton, Senapati ing Ngalaga beseerta 40 pengawalnya melanjutkan perjalanannya menuju kearah desa persembunyian Tumenggung Mayang.

Sultan Pajang di bunuh makhluk halus

Sultan Pajang menerima laporan bahwa Senapati ing Ngalaga tidak singgah di Pajang, tetapi melanjutkan perjalanannya untuk menemui saudaranya di desa Mayang. Kemudian Sultan Pajang mengutus wimbasara untuk memanggil Senapati masuk ke dalam istana (perjalanannya tidak diceritakan)

Wimbasara ;” jengandika tinimbalan mring kadhatun, dening ramanta nJeng Sultan “ (kanjeng Senapati, paduka diminta untuk menghadap di istana oleh baginda Sultan) “ katanya pelan dan sambil bersembah.

Senapati ;” hèh dhuta sira matura mring njeng Rama, lenggana ulun iki amit mulih nging tan mantuk angantos karsaning hywang” (wahai utusan, katakanlah pada ayahanda, aku menyadari bahwa sebenarnya sudah pamit meninggalkan Pajang, tetapi menunggu kehendak Hyang Widhi).

Wimbasara yang diutus meninggalkan desa Mayang dan melaporkan kepada Sultan bahwa Senapati minta maaf karena sudah minta diri meninggalkan Pajang, tetapi menunggu waktu kehendak dari Yang Maha Kuasa. Setelah Baginda mendengar laporan Wimbasara, dalam hati mengatakan; “ terlalu berani anak ini”.

Dalam pada itu yang sedang singgah di desa Mayang, tengah malam tatkala kokok ayam pertama, udara semakin dingin, keadaan di dalam istana menjadi hening, suara cengkerik, gangsir dan orong-orang yang memecah kesunyian malam. Senapati ing Ngalaga keluar dari rumah, kemudian berdiri di tengah pelataran dan tak seorangpun yang melihatnya. Datanglah Juru taman (utusan Nyai Rara Kidul), setelah memberikan sembah kemudian menundukkan badannya yang sebesar bukit itu, tengkurap di hadapan Danang Sutawijaya.

“ adhuh Gusti manawi darbé karsi angrabasèng rama Prabu, kawula kang lumampah, pejah gesang kawula katur sang Ulun panduka akantuna wirya “(tuanku, jika menginginkan mengalahkan ayahanda Sultan Pajang, maka hambalah yang akan melaksanakannya, mati hidupku sudah aku baktikan kepada tuanku).

“ Ki Juru taman sun tarima prasetyamu marang ingsun, sayekti ingsun datan darbé kayun, apa sakarepira “ (Juru Taman, aku berterima kasih, niat baikmu aku terima, tetapi aku tidak punya keinginan apa-apa, terserah kamu saja).

Kemudian Jurutaman memberikan sembahnya dan keluar menuju ke dalam istana , Sultan Pajang pada waktu itu sedang duduk bersama para putra sentana dan Pangeran Benawa. Mendadak sang Prabu jatuh pingsan tanpa sebab. Dalam pada itu setelah Juru taman meninggalkan desa Mayang langsung menuju ke dalam istana dimana sang Prabu berada, kemudian mencekik leher Sultan Pajang sampai pingsan. Tentu saja tidak ada yang mengetahui keberadaan Jurutaman, karena Jurutaman memang bukan golongan manusia, ia adalah orang kepercayaan ratu Kidul yang di abdikan kepada Senapati Ing Ngalaga. Sultan Pajang keadaanya semakin menghawatirkan para putrasentana dan isteri. Keluarga dekat sahut menyahut menangis, sehingga menjadikan suasana bertambah mengharukan.

Tiga hari tiga malam, Senapati berada di desa Mayang, kemudian meninggalkan desa Mayang dan kembali ke Mataram kemudian memerintahkan kepada seluruh kerabat Mataram untuk membeli bunga telasih dan di tumpuk di jalanan menuju ke pura Pajang.

Kejadian ini tentu membuat sentanadalem ing Pajang menjadi terkejut, siapa yang telah meninggal dunia. Sultan memang sakit tetapi mengapa jalan yang menuju ke Pura Pajang dipenuhi tumpukan bungan telasih? Maka Pangeran Benawa masuk kedalam istana dan menghadap Sultan Pajang . “ Rama Sultan, putra pukulun kakang Senapati saha tiyang Mataram kinèn mundhut sekar telasih tinumpuk lawang sedami “ (rama Prabu, putra baginda kakang Senapati menyuruh orang-orang membeli bunga Telasih dan ditumpuk dijalanmenuju ke Istana, apa maksudnya).

“ kakangira Senapati Mataram, sanget bektiné marang ingsun, anggoné duwe wong tuwa, pratandha sih waspada kakangirèku, wruh ingsun yèn mèh praléna, pracihna iku gumanti” (kakakmu Senapati Mataram, itu sangat berbakti pada orang tua, ia memang waskitha, mengetahui bahwa aku hampir meninggal, dan ia akan menggantikannya).

Beberapa hari kemudian Kanjeng Sultan Pajang wafat (1583 M), para putra Pangeran, kadang sentana dan nayaka praja, gandhèk bupati lengkap hadir. Juga beberapa isteri para ponggawa, Tumenggung, pecat tandha, rangga demang, dan ngabèhi menangisi kepergian sang Prabu.

Kemudian Pangeran Benawa, mengutus ki Patih dan beberapa sentana dalem untuk memberitahukan kepada Senapati ing Ngalaga, bahwa Sultan Pajang telah meninggal dunia. “hèh paman Patih lawan sira lurahing tamtama, padha sun tari ing rembag, ingsun kinèn atut dhingin wewelingé rama Prabu kang swarga, marang kakang Senapati Mataram, pan punika kadang sepuh. Kanjeng rama wus séda , prayoga kakang Senapati ingaturan weruh, nadyan miyang ta miyanga kadang ingsun tuwa, yekti gegentiné kanjeng rama, ing dunungé sembah ingsun sayekti” (paman Patih beserta para komandan pasukan, aku minta kepda kalian untuk mengikuti wasiat dari Rama Prabu almarhum, untuk memberitahu kakang Senapati Mataram, betapapun ia adalah saudara tua, karena kini ramanda Prabu sudah wafat, maka sebaiknya kakang Senapati diminta hadir dalam pemakaman nanti, sebagai ganti orang tua, entah nanti berangkat atau tidak berangkat itu tidak menjadi masalah yang penting sekarang ini, kalian harus melihat bahwa mereka adalah saudaraku tertua.

Dalam pada itu ki Patih sudah sampai di Mataram dan menemui Senapati ing Ngalaga, dengan penuh rasa hormat ia berkata;” inggih amba dhinuta tur udani ing rayi paduka tuhu njeng Pangéran Benawa, ing paduka mangké , rama njeng Prabu Sultan Pajang aséda, panduka dipunaturi, ingantos anyiramana ing layoné rama panduka Aji maksih gilang-gilang tuhu (hamba diutus oleh adik tuan, Pangeran Benawa untuk memberitahukan, bahwa saat ini ayahanda paduka Sultan Pajang telah wafat, tuan hamba ditunggu kehadirannya untuk memandikan jenazahnya).

Senapati ing Ngalaga setelah mendengar penuturan utusan dari Pajang, matanya berlinang air mata, akan menangis tetapi ditahannya, tetapi dalam hati tetap menangis, kemudian mengambil kuda dengan sekali sentak maka kuda melesat kearah Pajang. Dalam perjalanannya tidak diceritakan, Senapati telah sampai di pura kasultanan Pajang, setelah menambatkan kudanya, segera menuju ke rumah peristirahatan, di pringgitan timur.

Danang Sutawijaya langsung mendekati jenazah almarhum Sultan Hadiwijaya, dalam hati menangis tak jauh beda ketika Sultan masih hidup. Pemberian penghormatan yang terakhir dilakukan setelah memandikan jenazah, kemudian ia menyolatinya. Setelah selesai selanjutnya jenazah di kebumikan di desa Butuh. Para pelayatpun datang dari berbagai penjuru, kemudian selama 40 hari 40 malam diadakan majlis doa, yang dilakukan oleh para santri dari Kudus, Giri dan juga dari Tembayat..

ooo..suremsurem diwangkara kingkin lwir manguswa kang layon….ooooo ilang kang memanise..oooo wadananira layu kumel kucem rahnya maratani….oooo kawangwang ing gegana..bang sumirat….oooo

Sindoro Sumbing, 7 Juni 2010,
Sumber; Babad Demak