Sutawijaya Mbalela (1)

Sastraadiguna
http://www.kompasiana.com/sastraadiguna

Pengasingan Tumenggung Mayang

Tumenggung Mayang dan isterinya setelah menyaksikan mayat anaknya yang di buang di sungai Lawéyan, dalam hatinya merasa terharu dan menyesal atas perlakuan pada putranya sendiri. Namun demikian, se jahatjahat orang tua tidak mungkin sampai hati melihat anaknya dianiaya oleh orang lain, téga larané ora téga patiné . Kemudian memerintahkan beberapa orang untuk merawat jenazah Pabelan, dan di kebumikan dengan sebaik-baiknya.

Kemudian Tumenggung membuat nawala, untuk disampaikan kepada Senapati ing Ngalaga di Mataram, ia menulis sebagai berikut; “ kangmas bekti kula katura panduka yekti, wiyos kula, kangmas atur upeksi, putra tuwan pun Pabelan pinejahan Kanjeng Sultan Pajang wonten jroning pura nalika lambang asmara kaliyan dyah retna Murtèningrum inggih sekar kedhaton “ (Kanda Senapati, sebah baktiku, memberitahukan bahwa anakmu si Pabelan telah dibunuh oleh Sultan Pajang, di dalam kaputren, ketika sedang bercinta dengan putri sekar Kedaton).

Perjalanan utusan ke Mataram tidak diceritakan; setelah membaca surat dari Tumenggung Mayang, Senapati ing Ngalaga hatinya tertegun, dalam hati mengatakan akan melakukan pemberontakan pada Pajang, lagipula sudah beberapa pisowanan memang tidak pernah hadir. Kemudian Senapati minta nasehat ki Juru Martani. Ki Juru yang sudah waskita ing semu, mengetahui apa yang ada dalam pikiran Senapati ing Ngalaga, maka Jurumartani dengan pelan memberi nasehat.

“ nggèr jèbèng Senapati, kagagas ing nalanira apan sumedya wani, sasolahé masang, amrih nuli katura mring kanjeng Sri Narapati, karya jalaran Sultan wus owah ing janji” (Senapati, aku tahu yang ada dalam hatimu yaitu kamu berniat berani menentang Sultan Pajang, tetapi kalau kau bergerak setiap gerakmu telah terdeteksi jadi bukan dengan cara itu, tetapi buatlah masalah yang menjadi kelemahan Sultan, yakni telah Sultan telah ingkar janji).

Operasi pembebasan

Kita tinggalkan dahulu Senapati ing Ngalaga dan ki Juru Martani, kembali lagi kita ke Pajang, peristiwa eksekusi pada Raden Pabelan tidak hanya sampai disitu. Kini Tumenggung Mayang dipanggil ke Bale Manguntur, tidak hanya kena marah kanjeng Sultan, tetapi di adakan sidang darurat kode etik yang dipimpin langsung oleh Sultan Pajang.

Keputusan Sultan, bahwa Tumenggung Mayang dicopot pangkat dan jabatannya, dan dicabut semua haknya di Katumenggungan, kecuali itu di buang ke Alas Roban bersama isterinya, dan tidak boleh kembali ke Pajang lagi. Tumenggung Mayang menerima perlakuan kehinaan akibat dari ulah putranya, tetapi nasi telah menjadi bubur, manusia harus menjalani takdirnya.

Selesai di eksekusi (1582 M), Tumenggung Mayang dengan dikawal seribu prajurit dari Pajang mengawal keberangkatan Tumenggung Mayang ke Semarang, untuk di buang ke Alas Roban. Sebelum berangkat nyi Mayang menyuruh abdi dalem katumenggungan untuk menyampaikan nawala ke Mataram kepada Senapati Ing Ngalaga.

Ringkas cerita utusan nyai Tumenggung sudah sampai di Mataram, surat telah dibaca oleh Senapati ing Ngalaga;” katuring sembah bekti, dhuh kangmas Senapati, kawula atur upeksi rayi paduka samangkin angsal deduka saking kanjeng Sultan, binucal mring Semarang, mantri pamajegan cacah sèwu ingkang kinèn rumeksa kanan lan kèring. Kangmas karebata ingkang rayi, sampun sanès kang darbèni, kaabdèkna wonten ing Mentawis. (salam hormatku kanda Senapati, memberitahukan bahwa adikmu Tumenggung Mayang menerima hukuman dari Sultan Pajang, dan kini dibuang ke Semarang, mohon kanda rebut, jangan sampai dimiliki oleh kadipaten lain, jadikanlah sebagai abdi di Mataram).

Senapati ing Ngalaga setelah membaca surat itu, menjadi marah yang tak terkendali. Kemudian berteriak memanggil teman-temannya.” Hèh mitraningsun pamajegan sun jaluk karyanèki mantri kawandasa, lah rebuten dèn kena, pan iya sadulur mami Tumenggung Mayang, metu Kedhu aglis lah rebuten ngendi anggone kecandhak” (hai saudarasaudara-ku dari pasukan khusus, aku minta bantuan kalian sebanyak 40 orang untuk merebut kembali adikku Tumenggng Mayang yang kini di buang ke Semarang, kau hadang di tlatah Kedu, usahakan berhasil, berangkatlah segera).

Keempat puluh orang terpilih itu sudah berkumpul, senjata, kuda telah disiapkan, kemudian Senapati membagi-bagikan uang dan perhiasan kepada keempat puluh orang pasukan Khusus. Bagi yang menerima sangat senang sekali karena mendapat harta yang cukup banyak. Bagi Senapati ing Ngalaga itu sebagai dana krama (danakrama=membeli jiwa) .

Dalam hatinya, mereka sudah dapat menduganya ;” inilah harga sebuah kepala kami untuk dipersembahkan pada pemimpin kami, tetapi semoga Hyang Widi memberikan keselamatan ”serentak menyampaikan sembah sebagai penghormatan terakhir. Keempat puluh pasukan khusus dari Mataram melesat kearah utara menerobos Krendhawahana dan mendahului pasukan Pajang menunggu di seputar wilayah Kedu. (Lama perjalanan dari Pajang tidak diceritakan).

Ketika sampai di desa Jatijajar lereng barat gunung Merapi, pasukan berkuda dari bumi Mataram bertemu dengan rombongan pengawal terpidana Tumenggung Mayang. Pasukan pengawal Tumenggung Mayang yang ada di depan diterjang pasukan dari Mataram menjadi bubar.
40 orang pasukan berkuda dari Mataram, merupakan orang-orang yang yang telah terbiasa melakukan pertempuran, dan tanpa rasa takut. Pengawal yang berjumlah seribu orang karena memang tidak dipersiapkan dari awal untuk bertempur, maka ketika mendapat serangan mendadak, tak bisa berbuat banyak.

Pasukan dari bumi Mataram setelah mengetahui sasarannya, yakni seorang lelaki yang diikat kedua tangannya, jelas bahwa itulah yang harus diamankan. Maka empat puluh orang berkuda menerjang ke depan Tumenggung Mayang ditarik keatas kudanya dan dibawa kabur kearah selatan, dan diikuti oleh teman-temannya yang lain.

Pajang menyerbu Mataram

Pasukan dari Pajang sudah kocar-kacir, ada yang luka, kemudian semua kembali kearah semula melaporkan kejadiannya ke Sultan Pajang. Semua peristiwa yang terjadi di desa Jatijajar dilaporkan kepada Sultan Pajang.

“ pejah gesang katura Gusti Nata, tiwas rumeksèng dasih pun Tumenggung Mayang, rinebat ing dusun Jatijajar déning tiyang kawandasa cacahipun saking Mataram “ (hidup mati hamba kami srahkan kepda Sultan, tawanan ki Tumenggung Mayang, telah direbut oleh 40 pasukan dari Mataram, ketika kami sampai didesa Jatijajar).

Sultan Pajang ketika mendengar laporan komandan Pasukan, dengan suara keras bersabda:” wis nyata yèn Sénapati wis cetha ing pambalikira, déné wis wani murwa aprang, lah payo padha dilurugi Senapati, kabèh prajurit pada dandana aglis” (sudah jelas sekarang ini Senapati ing Ngalaga melakukan pembelotan, dan bahkan sudah berani mendahului perang terbuka, Patih, segera kumpulkan para prajurit kita menuju ke bumi Mataram).

Sultan Pajang meninggalkan bale Manguntur , dan masuk ke istana untuk berganti busana prang. Semua piyandel disiapkan untuk menghadapi lawan yang tangguh. Seluruh pasukan tempur kerajaan disiapkan untuk menghantam pasukan Mataram, pasukan dipimpin langsung oleh Kanjeng Sultan Hadiwijaya.

Ini jarang terjadi seorang raja memimpin perang sendiri, padahal banyak para Panglima muda yang sakti mandraguna. Tetapi pertimbangan Sultan Pajang berbeda, karena yang dihadapi adalah anak angkatnya sendiri, Danang Sutawijaya.

Aba-aba pemberangkatan prajurit diiringi kendang, bende yang dipukul bertalu-talu gong maguru gangsa, gaung gong memberi isyarat berkumpulnya para wadyabala. Sultan mengenakan busana kapraboning prang dengan mahkota emas bertatahkan intan berlian. Dengan letusan meriam sekali, sebagai pertanda pasukan bergerak, suara gemuruh pasukan diiringi tambur dan terompet.

Jika dilihat dari kejauhan keberangkatan wadyabala Pajang itu bagaikan sekarsetaman, pasukan berkuda bagian depan mengenakan seragam kuning, di belakangnya pasukan pemanah mengenakan seragam hitam. Pada pasukan bersenjata pedang mengenakan seragam merah, singkat cerita perjalanan prajurit Pajang tidak dikisahkan, tetapi sudah makuwon (berkemah) di perbatasan Bumi Mataram, di alas Prambanan

Kita tinggalkan dahulu yang sedang membuat perkemahan, di tepis wiring Perdikan Mataram, Senapati ing Ngalaga sebenarnya jauh sebelumnya sudah melakukan barispendhem di sekitar perbatasan di desa Randhulawang. Pasukan Pajang tidak mengetahui sama sekali bahwa mereka sebenarnya sudah berada di mulut singa.

Ketika matahari sudah melaju ke ufuk barat, di langit merah membara, bunyi walang conggeret bersahut-sahutan menandakan musim kemarau. Matahari semakin meredup, tujuh orang andalan Senapati ing Ngalaga memukul bende kyai Bicak, suaranya menggema.

Di lereng gunung Merapi bagian selatan terdapat tumpukan kering yang banyak memanjang kearah timur, kemudian sepasukan kuda betina dan jantan dikumpulkan kemudian dicambuk kuda terdepan melompat seketika, suaranya gemuruh. Bende kyai Bicak dipukul terus suaranya semakin menggaung mengepung seluruh penjuru. Prajurit Pajang melihat kearah selatan ada kebakaran, sementara itu seluruh pasukan merasa telah terkepung oleh pasukan berkuda.

Kemudian Adipati Tuban maju menghadap Sultan Pajang;” dhuh sang Nata, ngajrihi tiyang alit, yèn ngandika sang Prabu terkaning tyas kawula, taksih purun ulun aben prang pupuh kaliyan kakang Senapati, nadyan ngabena kasektèn, lan abdi dalem wadyabala Tuban ulun bekta mapagaken ing ajurit, samya sekti teguh timbul, nyepenga nggih kuwawa, mejahana mring Senapati Mataram, tiyang kawan dasa kelar” (baginda, situasinya menakutkan pada rakyat kecil, ijinkan baginda memerintahkan kami untuk menghadapi Senapati ing Mataram, hamba masih berani tarung satu lawan satu untuk mengadu kesaktian dan pasukan hamba dari Tuban cukup 40 orang mampu untuk menghabisi wadyabala Mataram).

Sultan Pajang yang sudah tanggap ing sasmita , berkata lirih ;” sutèngsun dipati Tuban, aja sira agé awani-wani mungsuh Sénapati. Iku wruhanira wus teka janji, cahya Nurbuwat wus ngalih, iku kawengku Sénapati ing Tanah Jawa sumiwi mbésuk ing Mataram“ (anakku Adipati Tuban, jangan gegabah untuk melawan Senapati ing Ngalaga, ketahuilah bahwa sebenarnya wahyu kedaton sudah berpindah, dan kini sudah di kuasai oleh Senapati ing Tanah Jawa kelak akan memimpin Mataram).

Sindoro Sumbing, 6 Juni 2010
Sumber : Babad Demak II (GPH.Buminoto,1937)