PUSARA MASA LALU

M. Luthfi Aziz

Prolog:
Entah sihir atau wahyu yang membuatku selalu terbangun dalam mimpiku di siang bolong, di bawah kolong-kolong langit langkahku selalu diikuti gelombang gelisah mengenai sebuah gelisah; aku mengingat dan menyebut namanya, bayangan dirinya menari tepat dimataku tanpa mampu ku mengusirnya, tiba-tiba tangan dan kepalaku bergerak teratur bersama ritmis alam, menari di antara ekstase ketidak sadaran dan ruh yang masih terbawa di alam nyata. Nama, wajah, dan dirinya sempurna berpusara di dalam benakku. Tanpa mampu menolak aku berusaha melawannya yang berujung pada keputusan keputusasaan untuk dapat melepasnya, walau sesaat. Sementara dia mahluk asing berupa bayangan nyata yang selalu menguntit dunia riilku. Kini dia nyata hanya imaji kosong, namun aku masih berjuang untuk menghapusnya dalam kehidupanku, apakah aku bisa?
***

Aku bertemu dengannya dalam sebuah acara pada salah satu dunia imaji ilmiah. Sebuah seminar yang menghadirkan pembicara terkemuka. Oleh panitia aku diminta menjadi salah satu pembicara pada acara yang bergengsi dalam dunia imaji ilmiah itu. Dia hanyalah seorang peserta yang sama dengan peserta lainnya. Namun di mataku memang dia tampak berbeda. Dia memiliki kecantikan yang khas kejawa-jawanan. Gerak-geriknya lembut seperti tari-tarian mistis yang memagnet mataku untuk memandangnya secara mencuri-curi atau terang-terangan tanpa rasa sungkan. Dan rasanya aku pernah mengenalnya.

Dia duduk di deretan paling depan dan tampak sangat antusias mengikuti perjalanan forum. Gaya berbicaranya lembut dan sangat mengikat. Kata-katanya tertata rapi seperti barisan pasukan memiliki kekuatan memaksa untuk menyimaknya. Pertanyaan dan pernyataannya merupakan air deras yang mengalir dan dapat diikuti sampai ke muara.

Bagiku dia adalah gambaran seseorang yang hanya pernah aku temui dalam suatu cerpen. Sebuah cerpen yang membuatku terpesona dengan jalan ceritanya. Di dalam cerpen itu dituliskan cerita tentang perempuan yang memiliki spirit yang sangat tinggi untuk mengetahui dan berbagi tentang dirinya; “keperempuanannya”. Dia selalu memiliki pandangan mata dan pandangan pemikiran yang teduh. Dia memiliki ketinggian kualitas dalam ukuran fisik, namun juga perilakunya juga menyampaikan bahwa dia memiliki karakter yang tinggi. Dan dia memiliki fisik yang tak pernah ku lupa bayangan kelembutannya. Aku adalah lelaki, mahluk kasar yang selalu merindukan kelembutan dari lawan jenisku.

Agar aku tidak hanya cerita tentang kegilaanku kepadanya, sebaiknya aku teruskan ceritaku dengannya. Mungkin anda yang membaca cerita ini perlu perlu tahu bahwa sebelumnya aku mengabaikan sms masuk yang tidak penting ke dalam inbox message-ku. Tetapi kali ini mulai lain. Dia seringkali sms hanya untuk mengingatkan agar aku tidak lupa sarapan, makan siang, makan malam, dan beristirahat jika payah. Bagiku sms seperti ini tiba-tiba menjadi penting, bahkan menjadi urgen dan selalu ku nantikan. Ketika aku berada dalam kalut, suntuk, dan capek, dia selalu dapat menemaniku untuk berdialog walaupun dalam pandanganku bahasanya sangat sederhana dan pandangan yang sederhana pula. Entah kenapa, aku rasa dia tahu aku sering berfikir sesuatu yang rumit sehingga dia memilih yang sederhana untuk “menghadapiku”.

Aku berpikir keras. Jauh hari-hari sebelumnya aku lebih suka menghabiskan hari-hari dengan kesendirian, hanya bergumam melalui catatan-catatan kaki dan buku-buku referensi yang kadang terbawa dalam mimpiku. Mimpi-mimpi Plato, bayang-bayang kebijaksanaan Sokrates, harapan materialism Marxis, sampai harmoni konfusianisme atau filsafat jawa yang juga tidak semuanya dapat kufahami sepenuhnya dengan baik. Aku pun heran bagaimana mereka dapat menciptakan semua imaji itu. Aku menikmati bayangan-bayangan indah dan mimpi-mimpi sempurna para tokoh-tokoh besar persilatan pemikiran itu.

Waktuku habis untuk membaca segala sesuatu yang aku juga tidak sepenuhnya tahu untuk apa semua itu ku baca. Memang ada setitik keyakinan bahwa dengan mengayakan pandangan terhadap dunia, aku akan menjadi lebih bijak menghadapi berbagai peristiwa. Aku menghamburkan waktuku untuk perenungan panjang yang sebelum-sebelumnya menjadi pekerjaan para pemikir, sedangkan rasanya aku hanyalah orang yang dipermainkan oleh pikiranku sendiri. Aku hanya mencoba merangkai hasil pemikiran mereka untuk memandang realitas yang sedang terjadi. Setidaknya itulah kemampuan utamaku sebagai pekerja di dunia imaji ilmiah. Itu pun kata salah seorang teman jauhku. Katanya juga tidak begitu penting kemampuan yang ku miliki itu. Tapi masa bodoh “the show must go on” kata teman dekatku. Dan aku tanpa berfikir panjang mengamini kedua kata itu.

Selebihnya aku habiskan waktuku dengan berbagai perdebatan dan diskusi yang mempertahankan argumentasi-argumentasi akademik dan ilmiah. Media yang kugunakan juga bermacam-macam, dari mailing list, facebook, blog yang kuciptakan secara khusus untuk berbincang-bincang dengan komunitas dunia mayaku, serta pertemuan-pertemuan yang mengambil tema seminar, sarasehan, diskusi ilmiah, dan sebagainya sampai café dan warung lesehan tidak lepas dari kejaran imaji ilmiahku.
***

Berbicara tentang perempuan yang dapat mengisi hatiku sudah lama mati, aku memutuskan tidak memiliki harapan untuk dapat bersanding dengan salah seorang perempuan yang dikategorikan sangat cantik sekalipun, bahkan seandainya Dian Sastra, yang katanya kecantikannya masih khas alami nusantara dan belum terdegradasi dengan unsur-unsur luar dan asing, mau denganku sekalipun, aku berani memastikan bahwa aku tidak akan menerimanya. Itu tidak mungkin, tetapi jika mungkin sekalipun aku akan memilih larut di dalam duniaku sendiri, karena sejujurnya aku masih mengharapkannya.

Masa pubertas – dahulu – sebagai jeda dalam hidupku sebelumnya, memungkinkanku untuk mengalami impian tentang cinta yang indah kepada seorang gadis manis dan pandai dari teman kelasku. “Aku memujamu dalam kata dan doa”. Itulah kalimat yang sangat dia suka dan mengalir keluar dari mulutku. Dia menjadi medan magnet yang selalu ku ikuti, begitu juga dia kepadaku. Aku selalu ingin di mana ada dia, aku selalu berada di sampingnya, begitu juga dengannya seringkali dia “semacam” cemburu jika melihatku dengan gadis lainnya, meskipun dia tahu itu hanya seorang teman, dengan cara membuatnya cemburu aku sering menggodanya.

Waktu itu malam Minggu menjadi akhir pekan yang begitu memesona dalam pandangan kami untuk bersama, di rumahnya, alun-alun kota, atau tempat-tempat lain di mana kami bisa bersama. Berangkat ke sekolah menjadi aktifitas rutinku dengan selalu menjemputnya. Ulang tahun selalu kami rayakan bersama. Valentine, tahun baru dan sebagainya menjadi hari-hari berlalu dengan cepatnya. Sampai akhirnya detik-detik sesudah kelulusan SMA memisahkan kami. Aku melanjutkan study jauh di timur dari kotaku dan dia jauh di barat. Cinta masa pubertas tidak dapat dipertahankan. Dia menyerah pada jarak jauh yang tidak terjangkau. Aku mencoba tetapi sia-sia.

Sesudahnya aku menghabiskan waktuku untuk orientasi studyku, lalu kerjaku part time. Tak ada lagi cerita tentang gadis-gadis yang menjadi bahan pembicaraan kecuali sekedarnya. Tak ada yang bisa menggantikan kedudukannya dalam hatiku. Mungkin benar “first love’s never die”. Meskipun begitu aku tidak lagi memedulikan itu semua. Aku memilih “cuti” sangat lama dari urusan “dunia buaya”. Bagiku mimpiku adalah Allisa yang telah “mati” sejak malam perpisahan itu. Aku telah membunuhnya dengan merayu rasaku untuk melebihi diriku sendiri dari pada perasaanku kepadanya.

Namun keanehan kurasakan berikutnya, tiba-tiba aku benar-benar heran dengan diriku sendiri, tepatnya di medium waktu saat ini “apakah sebenarnya yang terjadi padaku saat ini?”, bibirku bergumam dan aku tidak percaya dengan yang terjadi. Aku tersadar dari lamunanku ketika melihat serakan daun terbang ditiup angin pembawa hujan sebelum akhirnya aku bergegas memunguti baju jemuran yang belum kering karena panas yang tertutup mendung dari pagi.
***

Waktu terus mengejar harapan dan cita-cita manusia. Sementara aku masih tidak bisa atau tidak mau mengatakan rasaku walaupun untuk sekedar jujur pada diriku sendiri. Dia, masih Allisa yang tidak pernah canggung untuk mengganggu jam-jam kesibukanku. Dan aku sadar bahwa aku selalu menanti gangguan darinya, senyumnya yang sekilas berkesan mengejek tapi menjadikannya tampak manis, renyah tawa, lesung pipi, dan bicaranya yang gurih di dengar, sampai seakan-akan dunia tiba-tiba senyap bila dia telah pergi.

Dialah yang kemudian meyakinkanku secara pelan-pelan tentang keindahan yang sebenarnya tidak berada dalam lukisan ataupun yang terlukiskan dalam kata dan bahasa, keindahan sebenarnya ada dalam hati, memenuhi ruang-ruang yang tidak tersentuh materi. Aku sulit memahaminya, setidaknya mengaplikasikan di dalam hati dengan menginstallnya menjadi salah satu soft ware di hati, kemudian mengaplikasikannya dalam program-program kehidupan. Bagiku itu terlalu sulit untuk diakal. Mungkin karena terlalu banyak virus yang menyerang system hatiku. Sedangkan dia sudah sangat akrab dengan dunia ironi materi ini.

Suatu ketika dia mengajakku ke rumahnya sendiri, lingkungannya yang asri dan indah dengan taman bunga yang tertata secara rapi di sebelah depan kanan rumah. Ada air mancur mini yang menghiasi salah satu sisi taman, bunga mawar bermacam warna, melati, kamboja dan dan beberapa bonsai. Di antara unsur-unsur taman yang indah ada terdapat background lukisan dalam bentuk relief panjang yang ironis dengan tampilan yang ada di depannya. Sebuah lukisan tanah kering dan retak serta ranting-ranting kering yang berserakan di sana sini dan berwarna hitam gelap. Ada juga sesosok iblis bercula terbang bersampingan dengan dewi bersayap putih di atas tatanan mendung hitam dan putih. Di ujung paling timur sana ku melihat pohon yang menjulang sampai menyentuh langit biru.

“Inilah keindahan sesudah kita mengetahui apa di balik keindahan di dalam hati kita” katanya sembari menemaniku berdiri memandangi taman dengan paduan relief yang belum pernah ku temui bentuk yang sama sebelumnya. Dia mengatakan bahwa dia sendiri yang menyeting dan membuat taman itu.

“Ini adalah ilham yang ku dapatkan tentang dunia ini, ayo masuk, kamu pasti belum lupa pintunya… dan isinya” kemudian tertawa kecil dan aku pun mengikutinya masuk ke rumah yang dulu pernah akrab denganku.

Dengan suguhan teh hangat sore hari, aku berbincang-bincang dengannya dan bercerita perjalanan hidup masing-masing sesudah lama berpisah. Yang jelas aku dan dia sangat berbahagia bisa bertemu dan bersama lagi. Dia mengenalku dengan baik, begitupun aku kepadanya. Semua yang selama ini tertutupi sedikit demi sedikit terbuka dengan kata-kata yang terurai di antara kami. Ada senyum, tawa, dan ritmis tangisan kecil menyertai cerita-cerita kami. Ternyata dia tak pernah meninggalkanku, itu yang ku tahu, aku ragu, namun aku tak bisa mengambil bukti kebalikannya. Aku senang sekaligus sedih karena akulah yang meninggalkannya.
***

Waktu yang lain sesudah itu dia mengajakku pergi bertamasya alam ke suatu pegunungan yang tidak jauh dari tempat di mana kami tinggal. Sebelumnya aku tak pernah melakukan tamasya alam ke mana pun atau lebih tepatnya aku tak pernah bisa menikmati sepenuhnya pemandangan alam dan menghayatinya sedahsyat cara Allisa memandang keindahan alam.

Ketika kami berdiri di samping jurang, dia kemudian mengambil kamera kecil dari sakunya. Dengan latar pohon kering yang menghitam dan dibelakangnya jurang yang curam serta tembok alam yang menjulang di seberang, dia memintaku untuk mengambil fotonya. Kemudian dia mengambil diri pada posisi dan pose-pose yang variatif, dia selalu dapat mengambil sisi yang berbeda dengan motif yang sama, tembok alam yang terjal menjulang, jurang curam, barisan pohon yang tebal dan menjadi gugusan warna hijau kebiruan dari kejauhan, asap dan mendung tebal yang dapat tak dapat ku bayangkan ketika tiba-tiba runtuh menimpa bumi, sementara kecantikan Allisa yang alami tercetak dalam gambar dengan begitu kontrasnya.

“Keindahan dapat diambil dengan media gambar, tetapi tidak bisa menggantikan sepenuhnya keindahan yang sebenarnya, dia terletak di hati” katanya ketika aku di sampingnya melihat Allisa mengutak-atik foto-foto dari kameranya dalam sebuah notebook.

“Iya, siapa yang tahu di balik keindahan alam pegunungan ini juga menyimpan kengerian yang tak terbayangkan ketika tiba-tiba bergemuruh dan mengeluarkan letusan yang dahsyat”.

“Aku tidak bermaksud membicarakan sisi kemarahan alam, begitu kata orang-orang”
“Lalu maksud kamu, alam memiliki cara untuk berbicara kepada kita semua?”

“Alam adalah diri kita ini, seperti kita merasakan adanya ikatan diri kita terhadap alam, demikian alam juga merasakan memiliki ikatan dengan diri kita”.

Aku benar-benar menikmati keindahan Allisa dengan seluruh latarnya. Dia mempersembahkan senyum dengan mantra yang menjinakkan hasratku terhadap lainnya. Dia menghadirkan kata dan sikap sejuk seperti aliran danau dan aku tenggelam di dalamnya. Segala gerak-geriknya merupakan persembahan tarian alam yang selalu dapat kunikmati hingga ekstase karena demikian indah. Aku rasakan setiap pertemuan kami adalah jeda kebahagiaan yang demikian memesona. Aku dan dia larut ke dalam medium-medium yang ku miliki. Dan setiap perpisahannya menjadi medan magnet yang selalu tarik-menarik karena pesona.
***

Kali ini dia datang dengan mata basah yang menutupi sebagian besar aura cerah di wajahnya. Senyumnya tidak ku lihat, renyah tawanya seperti telah habis, gurih bicaranya seperti melempem, dan lesung pipinya hanya tampak ketika isakan tangisnya menyelingi ucapan-ucapannya. Sementara aku tidak melakukan apa-apa selain hanya mendengarnya sampai tangisnya usai nanti. Sembari dalam hati ku berharap akan mendengar dan melihat lagi cerah auranya sesudah tangisnya nanti. Hanya itu yang ku harapkan tidak lebih, batinku lirih tapi tajam berunjuk rasa besar-besaran melawan suatu keadaan kontras yang tiba-tiba datang.
Sesudah hari itu, waktu itu, aku merasa ada yang benar-benar hilang dari hidupku. Suara kicau burung pagi, kokok ayam jantan dan alarm yang selalu membangunkanku, tak lagi ku dengar, semilir angin, dinginnya embun pagi tidak lagi ku rasa, gerahnya udara siang, dan teriknya matahari, tak mampu membakar kulitku walau semakin menghitam. Dan tiap hari menjadi malam panjang yang membuatku tak bisa bangkit dari tidurku yang melarut dalam mimpi-mimpi tak berujung.

“kamu tampak kering ” kata temanku.
“kamu semakin kurus” kata temanku lainnya .
“kamu kurus kering” kata temanku yang lainnya lagi.
Aku tidak menyangkal. Dan aku pada kenyataannya merasakan semakin melemahnya fungsi-fungsi tubuhku.
“Ayolah kamu makan” kata temanku
“Kamu harus makan agar lekas sembuh” kata temanku lainnya.
“Ayolah kamu yang banyak makan agar lekas sembuh” kata temanku lainnya lagi.

Perhatian yang setulus hati dari beberapa teman dan kerabatku aku abaikan begitu saja. Aku merasa inikah keindahan yang sebenarnya, suatu rasa yang dating melesat-lesat seperti pijar kilat, tidak mampu ku menangkapnya, tak dapat aku mendefinisikannya, begitu cepat dan semakin ku kejar semakin ku merasa kehilangan cahaya yang berkilat-kilat putih berlari di hadapanku.

“Aku telah menikah dan lusa suamiku akan datang, namun aku masih saja berharap bisa bersamamu” kalimat ini yang terakhir ku dengarkan secara sungguh-sungguh dari bibirnya yang seksi.
“Jika kamu tidak ingin lagi menemuiku, percayalah aku akan selalu menemuimu dalam kata hati dan doa untukmu” Mendengar kalimat terakhirnya ini aku hanya diam tanpa ekspresi, aku akan hanya diam sekali lagi jika dia berbicara apa lagi, apa saja, dan apa pun.
***

Kembali waktu kuhabiskan dalam kesendirian, tak ada kebersamaan selain dengan bayang-bayangnya yang menyertai setiap kerdip mata dan keluar-masuknya nafasku. Aku berdiri di sini aku merasakan rindu yang tidak mungkin untuk dapat bertemu dengan empunya. Yang aku butuhkan saat ini hanyalah merindunya. Aku hanyut dalam hasrat ingin bertemu dengannya, tetapi harus bukan untuk mendekapnya atau memegangnya dalam genggaman tanganku.

Di sini di depan pusara semua kenangan yang masih segar terguyur rintik hujan, tanah dan tubuhku basah oleh hasrat untuk selalu menancapkan rasa rinduku atasnya, bukan untuk bersama yang ku rindu dan ku cinta, di akhir ziarahku sebelum meninggalkan hasratku yang satu dan lainnya, seraya memusarakan harapku untuk memenjarakan cinta dan setiaku, aku bergumam “Tuhan aku bersyukur atas cinta dan rindu yang selalu bersemai di dalam hati kemanusiaan”.

Sesampai di rumah aku baca tulisan Allisa pada selembar kertas kecil yang lusuh tergeletak di atas meja, dengan dada berdegup kencang, tubuh tersungkur, air mata berkilang, namun dengan senyum berat dan kesadaran penuh aku baca pelan:

Hujan adalah waktu
Angin adalah waktu
Panas adalah waktu
Terang adalah waktu
Gelap adalah waktu
Rinduku adalah waktu
Dendamku adalah waktu
Perjumpaan kita adalah waktu
Perpisahan kita adalah waktu
Wahai………..
Bagaimanakah dapat membunuh waktu

Sesudahnya aku menutup pintu kamar dan hatiku untuk kenangan yang telah memakan habis waktu masa laluku, aku hanya berhak mengenangnya bersama takdir-takdir usang lainnya.
***

Epilog;
Setiap orang pernah merasakan jatuh cinta dan kesetiaan, atau pengharapan besar dan pengorbanan. Ada yang hanya merasakannya sekali dan berhasil mengejawentahkan semua itu menjadi kenyataan, namun ada juga –mungkin banyak- yang harus menerima kenyataan pahit dan patah hati karena cinta, kesetiaan, dan pengharapan besar, serta pengorbanan berubah menjadi mimpi buruk yang tidak diharapkan. Semuanya sebenarnya jika diresapi hanyalah…….. persoalan waktu yang mengajarkan kepada manusia tentang kehidupan.

*) dari buku Sehimpun Cerpen Jombang “Hujan Sunyi Banaspati” Dekajo 2010.