Sabda Cinta al-Husna

Camelia Mafaza

“Sembilan bulan ini akan terasa nikmat ya mas”, ucap Anisa Al-Husna pada Rahmat suaminya.

“Tentu, dan akan lebih nikmat setelah sembilan kedepan kita lalui, yakni saat anak kita lahir”, jawab Rahmat. “ Pasti indah ya Ma, ada aku, kamu dan anak kita”, sambung Rahmat yang memang sudah lama mendambakan kehadiran seorang anak.

Husna dan rahmat telah menikah selama 7 tahun, tapi karena Tuhan belum memberikan kepercayaan pada mereka, mereka belum juga dikaruniai anak. Banyak usaha sudah mereka lakukan, baik secara medis maupun non medis, namun usaha itu selalu berujung sia-sia.

Hingga hari itu tiba, Husna dinyatakan hamil oleh dokter, sujud dan syukur mereka panjatkan keharibaan Tuhan yang telah menanamkan benih dirahim Husna.

“Mas, aku kepingin pepes mangga”, rajuk Husna suatu malam
“Pepes mangga, ma? Mana ada orang jualan pepes mangga malam-malam begini ma?”, tanya Rahmat.

“Pokoknya aku mau pepes mangga, sekarang!”, kata Husna.

Setengah mengantuk Rahmat bangun dari tempat tidurnya. “Baiklah, dimana aku bisa membeli pepes mangga, Ma?”, tanya Rahmat.

“emm…, di warung Bu Projo saja mas, biasanya disana ada pepes mangga”.

Rahmat mengambil mobil digarasi, kemudian meluncur menerobos malam yang pekat. Saat itu pukul 01.00 dini hari. Mungkin kebanyakan orang sedang terlelap dibuai mimpi, tapi karena ingin memenuhi keinginan istrinya, Rahmat rela menahan kantuknya hanya untuk membeli pepes mangga untuk sang istri tercinta. Sampai di Jl. Wachid Hasyim 15, tempat warung Bu Projo, terlihat papan kecil bertuliskan Closed didepan pintunya.

“Wajar bila warung Bu Projo sudah tutup, saat ini memang sudah sangat malam. Aku harus cari dimana pepes mangga malam-malam begini?! Mungkin percuma aku cari dimana-mana, karena pasti jam segini warung-warung sudah tutup”, ucap Rahmat dalam hati.

Rahmat kembali pulang. Sesampainya dirumah ia meminta maaf pada Husna, karena ia pulang denagn tangan kosong. “Maafkan aku Ma, aku tidak mendapatkan pepes mangga”.

“Tidak apa-apa Mas, aku sudah tidak kepingin pepes mangga kok. Aku sekarang kepingin kopi manis saja mas. Kita begadang malam ini.

Bukankah besok adalah hari minggu, Mas Rahmat kan libur kerja, jadi tidak apa-apa kan sekali-kali kita begadang”, tanya Husna.

“Iya, baiklah kita begadang! Kamu siapkan kopi manis dan cemilan, aku siapkan tempat diteras ya Ma?”.

“Oke!”, jawab Husna senang.

Setelah semuanya siap, mereka duduk diteras sambil memandangi pekat langit malam yang menghias dirinya dengan kerlip bintang.

“Aku suka suasana seperti ini Mas, hatiku terasa lapang dan tenang melihat langit lepas. Betapa Maha Kuasanya Tuhan ya Mas. Dia-lah yang telah mempertemukan kita dan mentakdirkan kita untuk membangun keluarga bersama. Semoga rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang barokah ya Mas!”, ucap Husna sambil memeluk Rahmat.

“Iya istriku, tentu akupun berharap begitu. Aku juga ingin rumah tangga kita selalu harmonis, selalu rukun, dan selalu berusaha mengerti keadaan satu sama lain. Aku mencintaimu, juga mencintai calon buah hati kita di rahimmu”, ucap Rahmat.

“Kau akan selalu menjagaku, Mas?”, tanya Husna.

“Tentu, dengan segenap jiwa dan ragaku”, jawab Rahmat.

“Terima kasih suamiku, akupun akan selalu menjaga cintamu. Aku ingin tidak ada perpisahan diantara kita. Aku ingin selalu menamani hidupmu”, kata Husna sambil menitikkan air mata.

“Kenapa kau menangis, Ma? Tidak akan ada kata perpisahan diantara kita. Kita akan selalu bersama selamanya”, jawab Rahmat seraya memeluk Husna erat.

Jam berdentang tiga kali, mereka terlelap berselimut langit gelap di teras. Bersama mimpi dan angan-angan yang akan mereka renda dimasa depan.

***

Hari-hari Bachtiar Rahmat dan Anisa Al-Husna semakin erat dengan kebahagiaan. Tak terasa, usia kandungan Husna telah memasuki bulan kesembilan. Menurut hasil USG anak mereka perempuan. Sebuah nama cantik nan indah telah terpilih oleh calon ibu si jabang bayi sudah terpilih, ANGGUN CIQUITTA FIQOLBI UMMI, yang artinya Anggun gadis manis dihati ibu. Selain itu, Husna dan Rahmat juga sudah membeli perlengkapan dan baju bayi. Semuanya berwarna merah muda, begitu manis dan lucu.

“Anakku tercinta, tak sabar rasanya mama menanti kelahiranmu. Pasti kamu cantik dan lucu. Mama selalu berdoa, semoga kelak kau menjadi anak yang sholehah dan selalu bertaqwa kepada Allah SWT. Amin”, doa Husna sambil mengelus-elus perutnya yang sudah semakin membesar.
“Aduh, aduh…!!!”, rajuk Husna tiba-tiba.

“Mas Rahmat, perut Husna sakit mas”, panggil Husna kepada Rahmat.

Rahmat yang sedang bersiap hendak berangkat kerja panik mendengar suara istrinya, “kenapa perutmu Ma? Apakah ini tandanya kau akan segera melahirkan?”, tanya Rahmat.

“Aku tidak tau mas, yang pasti perutku terasa sakit sekali”.
“Baiklah, kita ke rumah sakit sekarang”.

Rahmat menggendong Husna menuju mobil. Sesampainya di rumah sakit, Husna diperiksa oleh dokter. Ternyata benar, Husna memang akan melahirkan.

“Sabar ya sayang, aku akan selalu menemanimu”, kata Rahmat. Husna meringis menahan sakit. Perawat membawa Husna ke ruang bersalin.

“Mohon maaf Pak Rahmat, anda tidak boleh masuk ruangan ini”, ujar perawat.

“tapi saya ingin menemani istri saya, suster!?”, jawab Rahmat.
“Sekali lagi mohon maaf, ini sudah jadi peraturan rumah sakit”, kata perawat itu, sambil berlalu.

***

Ya ayyuhan nafsul mutmainnah. Irjii ila robbiki rodhiyatam mardhiyah. Fadhuli fi ibadi wal huli jannati. Rahmat teringat ayat Al-Qur’an tersebut kemudian bergegas menuju musholla rumah sakit. Rahmat sholat dua rokaat dan berdoa untuk keselamatan istri dan anaknya disaat persalinan. “Ya Allah, aku mohon berilah keselamatan kepada istri dan anakku, berilah kemudahan kepadanya ya Allah”, doa Rahmat setengah berbisik. Sayup-sayup terdengar jeritan seorang perempuan dan tangisan bayi. “apakah itu suara istri dan anakku?”, tanya hati Rahmat. Kemudian dia bergegas menuju ruang persalinan yang letaknya tak jauh dari musholla. Dokter belum keluar dari ruang persalinan.

Dengan berharap-harap cemas rahmat menunggu. Satu jam Rahmat menunggu di depan ruang persalinan, “kenapa dokter tidak kunjung keluar, bukankah tadi sudah kudengar tangis seorang bayi” ucap Rahmat.

Akhirnya dokter keluar, wajahnya terlihat pucat dan matanya terlihat sayup.

“Bagaimana keadaan istri saya, dokter?”, tanya Rahmat menghampiri.

Dokter memandang Rahmat, lalu berkata “maafkan kami Pak Rahmat, kami sudah berusaha semampu kami, tapi Tuhan berkehendak lain”, jawab dokter.

“Apa maksudnya, dok? Istri dan anak saya baik-baik saja kan”

“Putri pak rahmat telah terlahir selamat dan dia sehat. Tapi istri pak rahmat tidak tertolong”.

“Apa maksud anda, dokter? Itu tidak mungkin terjadi, istri saya baik-baik saja kan?”, Tanya Rahmat sambil mengguncang bahu dokter.

“Kami mohon maaf pak, semoga Pak Rahmat bisa bersabar”, kata dokter menutup pembicaraan.

Allahu kholiqussamaawati wal ardl. “Apa yang terjadi, ya Allah. Kenapa kau mengambil istriku??”, ucap Rahmat seraya luruh bersimpuh. Ia pingsan.

***

Pemakaman Anisa Al-Husna telah usai dilangsungkan. Para pelayat sudah pulang kerumah masing-masing. Sekarang yang tinggal hanyalah Rahmat, si mungil Anggun, dan ibunda Rahmat yang baru datang dari desa. Rahmat menggendong si mungil Anggun, dengan menitikkan air mata dia berkata, “ayah akan selalu menjagamu, nak. Ayah menyayangimu seperti halnya mama menyayangimu. Tapi kini mama telah pergi untuk selamanya. Doakan mama tenang disisi Allah ya nak. Meskipun mama telah tiada, ayah yakin cinta mamaakan selalu abadi untuk kita”. Rahmat memeluk erat anaknya, seperti merasakan kasih sayang sang ayah, bayi berumur satu hari itu tertidur dipelukan ayahnya.

“Rahmat ibu menemukan kotak ini dimeja, mmungkin ini untukmu”, ucap ibunda Rahmat seraya memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru muda, warna kesukaan Rahmat.

“Apa ini, Bu?”, tanya Rahmat.
“Ibu tidak tau, coba bukalah agar kita tau apa isinya!”.

Rahmat membuka kotak itu pelan-pelan. Terlihat sebuah arloji baru dan sepucuk surat di dalamnya.

Surabaya, 12 Januari 1998
Untuk suamiku tercinta
Bachtiar Rahmat

Suamiku, anak kita dirahimku gerak-gerak terus. Mungkin dia tak sabar ingin bertemu ayahnya. Terima kasih suamiku, kau telah memberiku segalanya. Kurasakan saat-saat disampingmu adalah saat terbaik dan saat paling bahagia sepanjang hidupku. Oleh karena itu, jagalah dirimu baik-baik, jangan biarkan hal buruk menimpamu.

Hari ini detik-detik jelang peringatan hari lahirmu, hatiku diliputi perasaan bahagia. Tak pernah terbayang olehku, aku bias sebahagia perasaanku akhir-akhir ini. Meski kadang gundah menghampiri, tapi ingin ku katakana kepadamu suamiku, aku benar-benar bahagia bersamamu.

Tak ada hal istimewa yang aku bungkus, selain doa tulus dan cinta yang selalu merona dihatiku untukmu.

Suamiku, aku mencintaimu dengan segenap jiwa dan ragaku. Maafkan karena aku tak pernah bisamenjadi yang terbaik dan terindah untuk hidupmu, yang bias kau banggakan dan membuatmu tersenyum. Inilah aku dengan segala kekurangan dan kelemahanku. Terimalah aku dengan segala kealpaanku,
karena aku…
sangat
MENCINTAIMU.

With Love,
Anisa Al-Husna

Tangis Rahmat pecah membaca surat terakhir istrinya. “Akupun sangat mencintaimu istriku. Kan kukenang engkau sebagai yang terindah yang pernah aku punya”.

-END-

Ku persembahkan sebagai tanda cinta
Untuk suami dan anakku

Jombang, 18 Nopember 2010

*) dari buku Sehimpun Cerpen Jombang “Hujan Sunyi Banaspati” Dekajo 2010.