Sayap Malaikat

Hamzah Puadi Ilyas
http://www.suarakarya-online.com/

Saya memberi nama anak laki-laki itu Izan, sebab ia lahir saat azan berkumandang setelah petang tak lagi datang. Saat itu terdengar jeritan ibunya yang menyumpah-nyumpah nama seorang pria. Ia bilang pria itu bajingan, binatang, setan dan segala macam.

Jelas sekali saya mendengar sumpah serapah itu. Kontrakan kami hanya berbatas dinding tua yang mungkin akan runtuh dengan sekali hentakan keras kaki lelaki kekar. Saya tak tahan mendengar caci maki seperti itu. Akhirnya saya pergi, meninggalkan jahitan yang sebenarnya sebentar lagi selesai. Setelah balik puluhan menit kemudian, saya mendengar suara tangisan bayi.

Ketika saya datang menjenguk sambil membawa pakaian bayi yang saya jahit sendiri, ibunya berkata, “Dia tidak punya nama sebab dia bukan anak manusia. Dia anak setan yang berwujud lelaki jalang.”
“Anak Setan?”

Wanita itu mengangguk. Rambutnya yang terurai panjang seolah berubah menjadi tambang ijuk yang melilit-lilit tak karuan. Ia tidak mengucapkan terimakasih atas pemberian saya, malah menatap wajah saya dengan sorot menakutkan. Cahaya matanya seolah menjelma makhluk buas yang siap menerkam. Saya tiba-tiba merasa ngeri. Apakah ia benar-benar setan yang telah melahirkan seorang anak?

Malam-malam berikutnya sering terdengar suara tangisan Izan yang menyayat hati. Sebagai seorang wanita yang telah melahirkan, saya tahu Izan lapar. Ingin rasanya saya keluar, mengetuk pintu rumah wanita itu, dan memberi Izan susu. Tapi lagi-lagi saya ngeri dengan tatapan ibunya yang bagai memancarkan api.

Ternyata ketakutan itu bukan cuma saya yang merasakan. Tetangga-tetangga lain juga bilang bahwa mereka tidak berani berbicara dengan wanita itu karena bila diberi saran ia akan berteriak-teriak seperti orang kesurupan dan berkata bahwa anak setan tak perlu dikasihani. Orang-orang menjadi malas dan tak mau ambil peduli.

Pernah sekali saya tak mendengar suara tangisan Izan pada puncak malam ketika kamar kecil memanggil saya. Itu membuat saya sedikit penasaran. Keluar dari kamar kecil, saya tak langsung ke tempat tidur, tapi menuju ke tembok yang berbatasan dengan rumah wanita itu. Pelan-pelan saya tempelkan telinga ke tembok yang terasa sangat dingin.

Saya mulai mendengar suara tangisan wanita. Saya berpikir bahwa itu pasti suara ibu Izan. Tangisan itu lambat laun makin keras terdengar dan menyayat. Tiba-tiba jantung saya meledak saat ada teriakan yang mengutuk seseorang. Wanita itu kembali mengucapkan kata-kata paling kasar yang pernah saya dengar. Puncaknya, saya mendengar suara lemparan -yang menurut saya adalah gelas dan piring- membentur dinding tepat di tempat saya menguping. Pecahannya seperti menembus ke gendang telinga.

“Dasar setan. Buaya! Enyah kau! Kamu hanya mau menikmati tubuhku. Penipu. Bajingan. Anjiiing.”

Daun telinga saya sontak kaku, pori-pori kulit membesar dan membuat bulu-bulu halus di sekujur tubuh berdiri. Mata wanita itu terbayang, dengan rambut ijuknya yang berubah menjadi ular berbisa yang menjulurkan lidah bercabang dua. Langsung saya menuju kamar tidur dan memeluk anak saya yang sedang pulas di balik selimut.

* * *

Seorang wanita muda saya perhatikan sedang melihat-lihat kontrakan sebelah. Rambutnya hitam, lurus, dan ujungnya yang rata hampir menyentuh ikat pinggang. Celana putih ketatnya mencetak garis tepian celana dalam dengan jelas. Dan saya bisa menebak jika warnanya merah muda. Tiba-tiba ada ketukan di pintu setelah saya masuk ke dalam. Saya terkejut melihat wanita tadi telah berada di depan saya. Saya mematung sesaat melihat matanya yang gelap, bulu matanya yang panjang, bibirnya yang ungu, dan tulang pipinya yang menonjol dengan sinar kemerahan.
“Permisi.” Katanya. “Siapa yang memiliki kontrakan di sini?”
“Ini kontrakan haji Jamil.” Kata saya. “Rumahnya tepat di pinggir jalan dengan cat biru muda, dan ada warung di depannya.”

Ia mengucapkan terimakasih dengan suara datar, lalu cepat-cepat pergi, menunjukkan punggungnya yang mulus. Dan keesokan harinya saya lihat beberapa lelaki mengangkut barang-barang ke rumah itu.

Hari-hari berikutnya saya jarang bertemu dia. Sebagai tetangga, sebetulnya saya ingin mengenal dirinya. Tapi kesempatan itu tak pernah saya dapatkan. Pernah saya sengaja datang ke rumahnya dengan membawa semangkuk kolak pisang. Maksudnya agar saya bisa berbincang-bincang dan menjalin persahabatan dengannya. Tetapi ia mengatakan sedang sakit perut sehingga menolak pemberian saya.

Wanita itu selalu keluar rumah saat langit telah hitam dan selalu dengan dandanan yang sama. Menor. Sebagai wanita, saya akui jika saya iri melihat bentuk tubuhnya. Tapi saya tak tahu kapan jam pulangnya. Cuma siangnya saya sering melihat dia membeli sayuran. Anehnya, ia memanggil tukang sayur saat ibu-ibu yang lain selesai berbelanja.

Saya mencoba tak ambil pusing dengan keberadaannya, toh ia tak pernah mengganggu saya. Pernah beberapa kali saya mendengar suara cekikikan dua orang dari rumahnya. Lagi-lagi saat tengah malam ketika saya harus ke kamar kecil. Pada awalnya saya kira itu hanya perasaan saja. Tapi ketika saya tempelkan telinga ke tembok, saya mendengar suara erangan yang mendesah. Salah satunya adalah suara laki-laki. Memang ada perasaan kaget, namun cepat-cepat saya kembali tidur.

Lalu para tetangga mulai membicarakannya. Terutama ibu-ibu yang datang untuk menjahit baju kepada saya atau saat berbelanja sayuran. Ada yang mengatakan bahwa ia wanita simpanan, wanita panggilan, atau apalah. Saya diam saja karena takut menyebar fitnah. Akhirnya saya mendengar bahwa ada yang melapor kepada haji Jamil agar mengusir wanita itu. Tapi lelaki tua itu mengatakan bahwa ia tak bisa melakukannya mengingat wanita itu tak pernah membuat masalah dan telah membayar kontrakan untuk tiga tahun.

* * *

Subuh tiba. Saya cepat bangun karena sulit memejamkan mata akibat suara Izan yang tak berhenti menangis. Suara tangis itu mengiris hati saya. Saya jadi bingung apa yang akan saya lakukan karena tangis itu seolah memanggil-manggil saya untuk segera datang ke sana. Walau berat, akhirnya saya membuat keputusan.

Saya keluar. Rumah sebelah terlihat gelap. Tangis Izan masih terdengar. Lalu saya membuka pagar, ke jalan setapak yang hanya bisa dilalui dua motor, dan kemudian masuk ke halaman rumah wanita itu. Dengan perasaan ragu saya ketuk pintunya. Tidak ada jawaban. Lalu saya ketuk beberapa kali dengan lebih keras, tetap tak ada jawaban. Saya dorong pintu itu. Keras. Suara tangis Izan makin jelas terdengar. Saya merasakan detak jantung yang memukul dada tak karuan.

Saya menoleh ke berbagai arah. Sisa-sisa malam belum menghilang, dan masih dipagut sepi. Tembok tinggi bercat hitam di depan rumah kami juga belum menampakkan coretan-coretannya. Namun tiba-tiba muncul beberapa lelaki yang pulang dari Mushola.
“Ada apa, Mbak Nurul?”

Mereka berhenti dan berkumpul di depan pagar. Saya cerita tentang suara tangis Izan yang telah berlangsung beberapa jam. Awalnya mereka tampak ragu, tapi ketika tangisan Izan terdengar mereka masuk ke halaman satu-persatu. Lalu salah seorang mengetuk pintu setelah menempelkan telinganya beberapa detik dan mencari-cari celah untuk melihat ke dalam. Mula-mula pelan, lambat laun keras. Yang lain juga ikut-ikutan mengetuk pintu. Tapi tetap tak ada jawaban.

Salah seorang kemudian berinisiatif untuk memanggil haji Jamil. Tak lama kemudian haji Jamil datang dengan membawa kunci duplikat. Jalannya tergopoh-gopoh, sehingga suara kain sarung yang melilit di pinggangnya terdengar.

Pintu dibuka. Gelap. Suara Izan kini terdengar bagai orang kecegukan. Saya tahu suara itu berasal dari kamar. Setelah lampu dinyalakan oleh haji Jamil, saya segera menuju ke kamar dan menemukan tubuh Izan yang telah membiru. Tak ada lagi tangis. Matanya terpejam, namun mulutnya menyerupai ikan mujair.

Tiba-tiba suara haji Jamil terdengar keras sambil membaca istigfar, diikuti oleh beberapa lelaki lain. Saya segera keluar kamar sambil mendekap Izan. Saat berjalan beberapa langkah ke pintu kamar mandi badan saya gemetar, jantung saya berhenti berdetak, dan tengkuk saya seperti disiram air es. Bila tak ada tembok, mungkin saya telah jatuh terduduk. Saya melihat seorang wanita tergantung dengan lidah menjulur dan mata mendelik. Ada wajah setan.

* * *

“Kamu sedang menggambar apa, Izan?” Tanya Saya.
“Sayap malaikat.”

Ucapan Izan sulit dimengerti. Mulanya saya juga mengalami kesulitan. Tapi karena setiap saat berhubungan dengannya, lambat-laun saya bisa menangkap artinya. Yang paling mengherankan adalah matanya yang tak pernah menatap saya bila diajak bicara. Tapi jika diperhatikan, mata itu seperti menatap sesuatu.
“Kamu pernah melihat malaikat?”
“Pernah.” Kata Izan. Tangannya terus saja menggambar. “Di rumah sebelah.”

Saya teringat rumah itu yang kini kosong. Tak ada orang yang mau menempati meskipun haji Jamil telah menurunkan biaya sewanya hingga setengah. Banyak yang bilang telah mendengar suara-suara aneh dari rumah itu bila lewat di depannya. Entah benar atau tidak, katanya ada yang pernah melihat wanita berambut panjang dari balik kaca sedang menjulurkan lidah. Matanya bagai mata kucing dalam gelap, namun berwarna seperti api. Lalu katanya lagi ada bau darah, terkadang bangkai. Tapi untungnya saya tak pernah mendengar apa-apa dan tidak ada perasaan takut sedikit pun.

Yang saya takutkan hanya Izan. Gurunya di sekolah bilang ia berbeda dengan anak-anak lainnya. Fisiknya agak lemah dan kecerdasannya sangat kurang. Akhirnya Izan tak lagi sekolah. Untuk menyekolahkannya di tempat khusus saya tidak punya uang. Berapalah pendapatan seorang penjahit yang tak memiliki suami seperti saya dan harus menghidupi dua anak.
“Kok sayapnya cuma satu?” Saya bertanya lagi.
“Sebentar lagi dua.”

Saya menatap Izan. Matanya yang berbentuk aneh kini tampak layu. Muncul rasa bersalah yang tak mampu saya ungkapkan. Yang saya mampu lakukan hanya memberinya makan dan menceritakan kisah-kisah malaikat sebelum tidur bersama anak kandung saya. Untungnya anak kandung saya juga baik pada Izan.

Izan sangat menyukai cerita itu, terutama cerita malaikat yang sebenarnya saya karang sendiri. Saya katakan bahwa malaikat itu memiliki dua sayap, bisa terbang, dan suka menemui anak-anak yang berperilaku baik. Tapi mereka akan menyamar menjadi manusia bila bertemu anak-anak. Kadang Izan bertanya walaupun kata-kata yang keluar terasa sulit sekali.
“Izan mau ketemu malaikat lagi.”
Kata-kata itu lagi yang diucapkan. Sudah beberapa hari ini. Mulanya saya tidak menanggapi.
“Dimana, Izan?” Akhirnya saya bertanya.
“Di rumah sebelah.”

Saya menarik napas. Saya pikir izan mungkin terlalu serius dengan cerita saya selama ini. Lalu saya biarkan ia melanjutkan menggambar, sedangkan perhatian saya tercurah pada jahitan.

Sore itu tiba-tiba langit gelap. Hujan turun dengan deras selama hampir satu jam. Saya terus saja menjahit, karena besok akan diambil. Setelah itu saya membantu anak kandung saya menyelesaikan PR. Saya melupakan Izan sama sekali. Saya baru sadar Izan tak ada saat azan Magrib terdengar dan hujan telah berhenti.

Saya memanggil-manggil Izan. Karena tak ada jawaban saya keluar. Dari sana saya melihat seorang anak kecil terbaring di rumah sebelah di atas bale bambu. Langsung saya menuju ke sana. Jantung saya berdegup sangat keras saat saya tahu itu adalah Izan.

Anak itu diam dengan wajah tersenyum sambil memegang selembar kertas. Putih dan pucat. Matanya tertutup. Saya membungkuk. Dengan gemetar saya sentuh dia sambil menyebut namanya. Ia diam. Telapak tangan saya merasakan dingin. Lalu saya guncangkan badannya perlahan. Tapi tubuh itu kaku.

“Izaaan.” Saya berteriak. Ia tetap diam.
Tiba-tiba ada angin yang menggerakkan ujung kertas yang tertindih tangannya. Saya tarik kertas itu pelan-pelan dari dekapan Izan. Mata saya tak mampu berkedip. Terlihat gambar menyerupai sosok manusia yang kini telah memiliki dua sayap berwarna biru. Izan telah menggambar sayap malaikat. ***