Sastra Anak Bukan Anak Sastra

Hasta Indriyana
http://www.suarakarya-online.com/

Saya cukup terganggu oleh sebuah pertanyaan yang dilontarkan seorang guru Sekolah Dasar ketika mengikuti workshop penulisan dalam sebuah acara haul sastra di Yogya (acara tersebut dibuka untuk umum), yang isi pertanyaannya kurang lebih menanyakan kiat-kiat menulis bagi anak. Poin pertanyaan yang mengganggu tersebut terutama mengenai apa yang harus ditulis oleh anak-anak seumuran SD, bagaimana cara pengajarannya, dan bagaimana implikasinya nanti.

Pemateri nampaknya paham acara haul tersebut, yang di sana diikuti siswa SMU, guru, mahasiswa, dan lulusan kuliahan sehingga materi yang disampaikan ‘menjadi umum’, dalam artian tidak spesifik disampaikan untuk segmen suatu ‘kelas’ (baca: umur, tingkat intelektual dan emosional) sehingga nampak agar acara tersebut bisa diikuti semua peserta. Pertanyaannya kemudian adalah, tidakkah apa yang menjadi keresahan guru SD tersebut berada dalam wilayah literer yang kemudian disebut pengamat sastra sebagai sastra anak?

Sebelum menjawab pertanyaan, pemateri menunjukkan sebuah gambar pemandangan gunung-jalan-pohon kelapa-matahari-burung melintas-dan sawah dalam sebuah coretan sederhana di atas kertas. Semua peserta ditanya, adakah dulu ketika sekolah di SD ada yang tidak menggambar seperti yang sedang diperlihatkan pemateri? Sambil tertawa, semua yang ada di ruangan menjawab iya. Kata pemateri, nyaris di seluruh wilayah di Indonesia siswa-siswa SD pernah menggambarnya.

Analogi yang disampaikan saya pikir ada benarnya, betapa di Indonesia telah terjadi keseragaman dalam pengajaran (pendidikan) di semua bidang sehingga apa yang namanya kreativitas jadi terkekang. Saya teringat pemikiran Freire bahwa pendidikan pada dasarnya membebaskan dirinya dari sesuatu yang mengaturnya sehingga subjektivitas yang ditekankan berorientasi pada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri. Artinya, selama ini guru diposisikan sebagai pusat segalanya, siswa adalah gelas yang dituangi begitu saja dan ia tinggal meminumnya. Maka lumrah jikalau siswa-siswa mengidentifikasikan dirinya seperti gurunya yang harus digugu dan ditiru, harus diteladani dalam segala hal.

Hal tersebut juga terjadi dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia (yang di dalamnya diselipi sastra). Pengajaran sastra yang selama ini lebih ditekankan pada hapalan tentang judul dan pengarang sebuah karya, disusul pada bahasan tema, penokohan, latar dan sejenisnya (prosa), atau rima, persajakan, tipografi dan sejenisnya (puisi), menganggap aspek-aspek tersebut sebagai sesuatu yang lahir dari ruang vakum dan berpeluang menjauhkan siswa dari daya apresiasi. Pendidikan semacam ini, meminjam istilah Fromm, hanya akan melahirkan mental manusia yang hanya mencintai pada sesuatu yang bendawi, tidak memiliki jiwa (nekrofili), bukan sebaliknya, manusia yang memiliki kecintaan pada segala yang maknawi, yang memiliki jiwa kehidupan (biofili), sebab hanya aspek ‘material’ semata yang diberikan, bukan pada bagaimana memahami hakekat keberadaan diri dan lingkungannya dengan sikap kritis penuh daya-cipta.

Berbicara mengenai sastra anak, mau tak mau harus disinggung psikologi perkembangan anak. Di dalam fase perkembangan anak, saat itulah segala pengalaman dan pengetahuan yang diterimanya beserta proses dan pembiasaan akan menjadi bentukan dasar karakter seorang manusia. Semua input yang diterima dalam memori di masa-masa itu akan lebih awet tersimpan. Maka apabila seorang anak bersentuhan dengan pembiasaan dan pengenalan-pengenalan, di masa dewasa tidak kerepotan mengingat-memraktekkannya.

Contoh pengalaman adalah masa kecil seorang pakar sastra anak di Indonesia, Murti Bunanta, yang sejak usia anak-anak dikondisikan menyukai bacaan sastra. Ayahnya seorang guru, sedangkan ibunya, ibu rumah tangga yang kerap mendongenginya dengan merujuki buku-buku cerita karya sastrawan Indonesia, Belanda, maupun Jerman. Menurut doktor sastra anak pertama di Indonesia tersebut, kesukaannya membaca dikarenakan pembiasaan membaca buku-buku sastra. Sayangnya, di antara duaratus juta penduduk, tradisi ‘lekat aksara’ hanya dilakukan (dinikmati) segelintir orang saja. Pendidikan yang gagal dibarengi dengan pemahaman psikologi anak yang keliru menyebabkan budaya baca hampir tak ada. Kekeliruan pemahaman terhadap psikologi anak misalnya: “anak kecil itu orang dewasa yang kecil”, atau anggapan bahwa anak-anak adalah kumpulan manusia yang mirip dan serupa satu sama lain dan kehidupannya bersifat statis. Orang dewasa banyak yang beranggapan bahwa dunia anak merupakan dunia yang sama dengan masa kecilnya sehingga orang dewasa cenderung mendikte terhadap anak seolah-olah mereka jauh lebih tahu dari anak.

Kekeliruan pemahaman orang dewasa misalnya, tercermin dengan masih banyaknya anak-anak yang dibiarkan nonton televisi sampai berlarut-larut, atau malah sebaliknya melarang anak-melakukan kegiatan kreatif dengan dalih ‘asal orangtua nyaman, tidak curiga, dan tidak khawatir’. Pengekangan semacam inilah yang mesti dilawan sebab hidup manusia merupakan proses untuk menjadi diri sendiri secara utuh. Proses individuasi merupakan salah satu pertumbuhan kekuatan dan integrasi kepribadian individualnya.

Dunia anak-anak tentu sewarna dengan pengalaman dan pengetahuan mereka yang belum menumpuk sehingga masih diperlukan mediasi untuk mengembangkan daya kreatifnya. Maka yang paling penting dalam hal ini adalah pemenuhan hak anak. Hal yang dimaksud adalah proses belajar, menjadi individu yang subjektif, perkembangan pengalaman dan pengetahuan, yang semuanya berada dalam bingkai dunia anak. Membaca dan menulis misalnya, merupakan hak anak sebab di sana terdapat adanya ‘proses menjadi diri sendiri secara utuh’, bukan senjadi seperti gurunya, seperti orantuanya, atau seperti orang lain.

Penjelasan mengenai hak membaca bagi anak adalah kebutuhan (bukan kewajiban) saya analogikan dengan fenomena mengenai pulsa (telepon seluler) yang ada saat ini. Sepuluh tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya, pulsa bukanlah kebutuhan masyarakat, ia mewah dan eksklusif. Lama-kelamaan dengan alasan perkembangan teknologi dan kemajuan zaman, kaum kapitalis kemudian mengondisikan komoditi (pulsa) tersebut menjadi kebutuhan. Ternyata sukses dengan cepat. Pulsa menawarkan material dan ketergantungan di kemudian hari, tapi tidak demikian dengan membaca dan menulis yang umurnya lebih tua. Apa sebabnya? Karena pulsa memberikan kekayaan pada segelintir orang, sedangkan membaca dan menulis hanya akan melahirkan manusia merdeka yang bebas dari ketergantungan (sebagai lawan kapitalisme). Maka tidak kaget ketika kita mendapati betapa siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum lebih suka membeli pulsa ketimbang membeli buku.

* * *

Sastra anak di Indonesia selama ini dianggap ‘bawang kosong’ semata, sebagai ‘bagian kecil’ dari sastra Indonesia. Ia seolah ‘sastra dewasa yang dianggap kecil’, sastra anak sebagai anak sastra. Sementara, sastra Indonesia yang kentara angker menjadikan dirinya eksklusif dan makin menjauh dari ruang kebutuhan. Demikian pula sastra anak, yang seharusnya berada dalam keberterimaan, ia tidak diajarkan sesuai dengan perkembangan anak yang semestinya dulce et utile, yaitu yang menyenangkan dan memberikan pencerahan. Artinya, sastra bagi anak sebenarnya adalah batu loncatan agar mereka terbiasa membaca sehingga ia selanjutnya tidak gagap ketika membaca buku-buku lain di luar buku sastra, tidak kaget dan gumun ketika mendapati dunia begitu gegap.

Maka dalam kondisi menyenangkan dan tercerahkan, anak akan tumbuh menjadi manusia merdeka yang memungkinkan adanya proses tumbuhnya kekuatan dan integrasi, penguasaan terhadap alam, akal budi, dan tumbuhnya solidaritas terhadap orang lain (Fromm). Jadi wajar jikalau seorang guru SD bertanya tentang bagaimana sebenarnya pengajaran sastra kepada anak sebab selama ini pendidikan kita berada dalam kegagalan. Pendidikan sudah seharusnya merupakan proses yang fungsional, bukan suatu kegiatan teknis mengajarkan kebahasaan, pesan-pesan mekanis, apalagi muatan kepentingan. Nah, artinya dalam kondisi ‘angker’ tersebut hak-hak anak terampas oleh kepongahan orangtua sehingga mereka mengalami ‘takut aksara’, tidak bisa menemukan dirinya, sehingga tidak paham bagaimana menuliskan sejarahnya.***

Catatan Redaksi: Hasta Indriyana lahir di Gunungkidul, 31 Januari 1977. Tahun 2001-2002 Ketua Unit Studi Sastra dan Teater (UNSTRAT) UNY, 2003-2005 Sekretaris Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY), 2006-sekarang Manajer Komunitas di Yayasan Tandabaca.
Tahun 2005 mengikuti workshop penulisan esai Majelis Sastera Asia Tenggara di Palembang. Saat ini belajar bersama anak-anak wilayah gempa di Nglipar, Gunungkidul. Menulis puisi, cerpen, esai, dan naskah drama yang dipublikasikan di Horison, Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Jurnal Puisi, dll.
Buku yang telah ditulis: Tuhan, Aku Lupa Menulis Sajak Cinta (Jendela-2004), Perempuan Tanpa Luang (Pinus-2005), dan Teater, Tiada Hari Tanpa Pembebasan (INSISTPress-2007).