Sekilas Pandang Dekajo di Mata Warga Jombang

Rahmat Sularso Nh
Jurnal Jombangana, Nov 2010

Kesibukan lalu lintas menuju kawasan Utara Kabupaten Jombang dirasakan memenuh dalam sudut kepalaku. Niat tidak dapat dihambat untuk bertamu ke SMP Negeri 1 Tembelang Jombang. Sebelumnya saya sudah mengatur jadwal untuk menjumpai Agus Tri Prasetio, penggiat teater di Kabupaten Jombang. Diakuinya selama ini ia menjalankan kegiatan berteaternya secara personal dengan kelompoknya, meskipun mengikuti pelbagai kegiatan atau festival teater yang notabene tingkatan provinsi bahkan nasional, tanpa membawa embel-embel Kabupaten Jombang. Bahkan tidak menggandeng Dekajo yang masih seumuran benih kecambah. Sebab sebelum hadirnya Dekajo proses berteater sudah dilakukannya.

Sekitar dua jam obrolan mengalir begitu saja layaknya air sungai Brantas di Utara Kabupaten Jombang. Terik mentari menggigit kulit, diteduhkan dengan pepohonan rindang yang saya gunakan berdiskusi dengan Pak Agus, sapaan akrab saya kepadanya mengenai kaitannya dengan keberadaan Dekajo yang dilahirkan di lembar 25 bulan kedua tahun ini. Saya awali dengan penjelasan maksud saya datang menemuinya. Saya mewakili komite sastra Dekajo mempunyai agenda kerja tahun 2010 dengan melakukan penerbitan secara rutin jurnal sastra dan budaya yang kemudian disepakati dengan nama Jurnal Jombangana saat rapat di rumah ketua komite sastra, Hilmi As’ad.

Sambutan terbuka disampaikan dengan baik oleh Pak Agus. Diakui oleh Pak Agus, dirinya belum mengetahui benar keberadaan Dekajo. Tapi dijelaskan jika sebelumnya di Kabupaten Jombang sebenarnya sudah pernah dibentuk. Sambil sekali, dua kali menghisap rokok yang dijepit di antara jemarinya. Pak Agus bercerita, jika ayahnya yang dulu merupakan seniman ludruk di Kabupaten Jombang juga merangkap sebagai pengurus Dewan Kesenian Jombang. Namun, hingga Pak Agus dewasa dan mengikuti jejak ayahnya di teater modern yakni drama tidak terdengar lagi hingar-bingar keberadaan Dewan Kesenian Jombang. Oleh karena itu, kelahiran Dekajo dianggap sebagai peristiwa yang sangat menarik. Sebuah kronologis coba disampaikan oleh Pak Agus seperti analogi kecil. Tidak ubahnya kemajuan teknologi di Indonesia, bahkan dunia. Sehingga posisi seniman memiliki peran penting dalam melakukan perubahan atau reformasi di bidang kesenian di Jombang.

Kemunculan Dekajo yang baru ini harusnya dibekali dengan semangat yang tinggi dan juga digawangi oleh anak-anak muda Jombang. Diharapkan dengan pembentukan Dekajo mampu menjadikan Kabupaten Jombang sebagai barometer kesenian di Jawa Timur, bahkan bisa jadi sampai ke tingkatan nasional. Hal ini dipertegas dengan banyak seniman yang lahir di Kabupaten Jombang, meskipun mereka melakukan kegiatan berkesenian di luar Kabupaten Jombang. Tapi itu semua membuktikan Kabupaten Jombang mampu untuk melahirkan seniman-seniman tingkat nasional. Pak Agus mencontohkan M.H. Ainun Najib, Alm. Nurcholis Madjid, M. Shoim Anwar merupakan putra-putra daerah yang mampu bicara banyak, tidak hanya di dalam, namun di luar Jombang. Pak Agus mengakui memang perlu adanya Dekajo, tapi Dekajo sekarang janganlah menjadi Dekajo yang seremonial saja. Artinya, Dekajo hanya sebagai kemeriahan semalam. Seperti cerita Cinderella dari negara Barat, hanya mendapatkan kabahagian di seperempat malam saja. Maka penting sekali kegiatan yang dilaksanakan di bawah naungan Dekajo.

Rasa kepadulian tinggi terhadap kegiatan berkesenian yang mendapatkan apresiasi di luar Jombang harus didukung. Dibandingkan dengan olahraga, yang mendapatkan sambutan dan dukungan luar biasa. Baik itu berupa sambutan terhadap kontingen atlet yang akan berangkat bertanding, pulang bertanding. Serta dukungan secara finansial yang mencukupi untuk membentuk fokus mereka dalam bertanding. Demikianlah juga para pelaku seni di Jombang harus diperlakukan paling tidak sama. Sehingga cita-cita menjadikan Kabupaten Jombang sebagai barometer kesenian bisa terwujud.

Jombang, 18 Nopember 2010