Transparansi Dewan Kesenian

Siti Sa’adah
Jurnal Jombangana, Nov 2010

Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (DKKM) Drs. Eko Edy Susanto, M.Si. atau yang akrab dipanggil Cak Edy Karya Saat ditemui pada hari Selasa, 16 November 2010 di kantornya, Dinas P dan K Kabupaten Mojokerto di Jl PB. Sudirman No. 40, sangat antusias atas terbentuknya Dewan Kesenian Jombang (Dekajo) yang telah dikukuhkan kepengurusannya pada 25 Februari 2010 lalu. Menurutnya kalau banyak dewan kesenian yang tumbuh, kesenian terutama di Jawa Timur akan berkembang dengan baik. Diharapkan keberadaan dewan kesenian tidak membunuh tetapi membangkitkan atau mengorbitkan grup seni yang ada. Misalkan saat mengirim perwakilan ke luar daerah, jangan sampai hanya memakai nama dewan kesenian, melainkan nama grup yang mewakili juga perlu ditunjukkan. Jika tidak, bisa membunuh eksistensi grup tersebut. Dengan lahirnya Dekajo diharapkan Jombang akan lebih semarak apalagi dengan anggaran dana yang cukup besar dibanding DKKM yang dipimpinnya, Dekajo 500 juta per tahun sedangkan DKKM 75 juta per tahun. Terlebih jika melihat ketua Dekajo adalah Pak Agus Riadi yang seorang ketua Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah), hal ini memungkinkan jadi tumpuan harapan paling tidak oleh pengurus Dekajo.

Saat ditanya mengenai latar belakang ketua Dekajo yang tidak sama dengan seniman-seniman yang dinaunginya, apakah tidak menjadi semacam kendala? Cak Edy yang juga pimpinan grup ludruk Karya Budaya Mojokerto ini menuturkan, “Kalau diambil positifnya justru posisi Pak Agus Riadi bisa menjadi jembatan antara orang-orang pemerintahan dengan seniman. Tinggal bagaimana mengoordinasikan seniman Jombang. Seniman itu macam-macam, sampai-sampai ada istilah di luar seniman itu sulit diatur, yang paling penting bagaimana cara mendekati rekan-rekan seniman. Memang memimpin dewan kesenian itu tidak hanya memerintah, perlu juga ngobrol dengan akrab, ya kalau saya biasanya ngopi bareng sehingga komunikasi menjadi lebih terbuka.” Dalam kepemimpinannya Cak Edy memang benar-benar menekankan keterbukaan dan guyub agar aspirasi semua pengurus DKKM serta seniman lain di Mojokerto bisa terserap dengan baik.

Menurutnya, potensi seni di Jombang luar biasa. Jombang punya icon Besut, Ludruk, teaternya sejak dulu mampu berbicara di tingkat nasional. Ada juga icon di seni tradisi misalkan tari remo boletan. Icon Surabaya Cak Durasim yang dari Jombang, Markeso atau Cak Nun dengan Kyai Kanjengnya. Meskipun beberapa dari mereka berkembang di luar Jombang. Untuk itu tugas Dekajo saat ini bagaimana agar potensi yang ada bisa berkembang di rumah sendiri, tentu masih banyak yang belum tergali.

Keberadaan dewan kesenian sangat penting selain sebagai penggerak dan pemberi peluang, juga sebagai pihak yang menjembatani antara seniman dan pemerintah. Menurutnya, seni bisa berkembang jika ada tiga pilar yang berjalan sebagai penyangga, pertama, seniman itu sendiri. Kalau seniman mau berkreatifitas dan bergerak maka kesenian akan bisa berkembang. Kedua, kesenian itu sendiri, apakah dimaui masyarakat atau tidak dan yang ketiga adalah pemerintah sebagai fasilitator. Jika ketiga kaki atau pilar itu bisa berjalan beriringan pasti kesenian akan berkembang dengan baik.

Menyangkut besaran dana yang dikucurkan pemerintah, bisa menunjang sukses tidaknya program dewan kesenian, namun harus dimanage dengan baik, kalau tidak dana akan korat-karit. Namun dana yang besar tidak menjadi sarana utama yang menunjang.

Mengenai anggaran dana DKKM yang jauh dibawah Dekajo yaitu 75 juta per tahun, DKKM yang terdiri dari tujuh biro yaitu biro MarKom (Marketing dan Komunikasi), musik, tari, rupa, sastra, teater dan tradisi ini melaksanakan agenda secara bergilir tiap bulannya untuk setiap biro di Festival Bulan Purnama Wringin Lawang. Namun saat setiap biro menjalankan agendanya di festival tersebut, tetap dibantu oleh anggota biro lain misalkan dalam penggalangan dana. Di sinilah peran penting biro MarKom, DKKM menjadi tidak tertinggal informasi dari luar. Hal yang patut menjadi pelajaran mengingat masih rendahnya networker kesenian di Jombang.

Agenda selain Festival Bulan Purnama yaitu Festival Bantengan. Cak Edy menuturkan untuk sementara ini hanya dua agenda itu yang diusung DKKM, namun tidak menutup kemungkinan adanya kegiatan yang bersifat partisipasi dari anggota DKKM atau seniman lain dengan pendanaan pihak yang bersangkutan. Disini tampak kerukunan dan kerja keras pengurus DKKM karena dengan dana yang minim perjuangan mereka lebih getol. Dia menyontohkan sekitar 75% pendanaan acara Festival Bulan Purnama berasal dari pihak luar atau donator. Yang unik adalah pertanggungjawaban ala takmir masjid, yaitu melaporkan penggunaan dana dari donatur dengan membacakannya satu per satu di awal acara. Untuk itu dengan dana yang lebih besar dibanding DKKM, dia berharap Dekajo bisa dengan leluasa melaksanakan program dan mampu menggali potensi dari bawah.

Saat ditanya melihat letak geografis antara Mojokerto dan Jombang apakah ada peluang untuk bekerja sama? Dia menjawab dengan mantap peluang itu sangat terbuka. DKKM dan Dekajo bisa mengadakan pentas bersama, saling tukar kesenian dan kebudayaan misalkan DKKM menampilkan pertunjukan di Jombang, begitu juga sebaliknya, atau berkolaborasi dalam menggarap pementasan.

Dalam penutup wawancara, Cak Edy menuturkan, “Kami percaya Dekajo akan sukses, karena melihat potensi yang ada di Jombang sangat bagus. Mudah-mudahan teman-teman di Jombang lebih guyub sehingga dana yang besar itu bisa lebih bermanfaat untuk perkembangan seni di Jombang.”

Selasa, 16 November 2010