Adonis: Puisi, Tuhan, Seks

Asarpin

Hari ini telah kubakar
fatamorgana Sabtu dan fatamorgana Jumat
hari ini telah kulempar topeng rumah itu
dan telah aku ganti Tuhan batu buta
dan Tuhan hari-hari tujuh
dengan seorang Tuhan yang sudah mati.
–ADONIS, puisi Tuhan yang Sudah Mati, terj.Ahmad Mulyadi

Namaku Odiseus
datang dari negeri tanpa batas
dipanggul orang ramai.
Aku sesat di sini, sesat di sana
dengan sajakku
Dan kini aku di sini, cemas dan jadi alum
Tak tahu bagaimana tinggal
Tak tahu bagaimana pulang
–ADONIS, fragmen puisi Odiseus, terj. Goenawan Mohamad

Adonis bukan cuma nama, tapi juga makna. Dalam khazanah kesusastraan Yunani ia seorang Dewa muda yang tampan, juga perkasa. Tapi nama itu tak cuma merujuk sesosok Dewa. Di dunia perpuisian Arab, bahkan dunia, ada seorang penyair yaang dipanggil Adonis. Dan dia tampaknya tak keberatan menyandang nama itu. Nama sebenarnya Ali Ahmad Said. Ia lahir di Syiria 1930, kemudian ketika dewasa menjadi orang buangan di tanah kelahirannya sendiri karena pemikirannya dianggap menyimpang dari paham mayoritas. Lalu ia hijrah ke Libanon dan menjadi penyair sekaligus kritikus sastra Arab paling terkemuka. Namun ketika perang saudara berkecamauk di negeri kelahiran pujangga Kahlil Gibran itu, sejak 1985 ia pun bermukim di Prancis dan menjadi warga negara di sana sampai hari ini.

Selain sebagai penyair yang banyak menghasilkan sajak pendek yang bermutu, Adonis yang satu ini adalah seorang pemikir yang berpengaruh, terutama di negeri Arab-muslim. Puisi dan pemikirannya begitu menakutkan bagi mereka yang terlampau rigid memahami puisi dan Kitab Suci.

Akibatnya, ia menjadi seorang petualang yang tak dapat pulang, dan rumahnya adalah dunia yang terbentang di antara Jazirah Arab hingga negeri-negeri Eropa. Sejarah hidupnya begitu dekat dengan kehilangan, dan hijrah adalah bagian dari separuh perjalanan hidupnya. Dalam salah satu sajaknya, Inilah Namaku, ia melukiskan hijrah sebagai darah-dagingnya:

aku bukan dominasi
darahku adalah hijrah

Seorang yang berdarah hijrah adalah orang yang tak betah tinggal hanya pada satu dunia. Dunianya adalah alam terkembang yang luas, melintas bolak-balik dari benua ke benua. Tapi orang yang hijrah adalah orang yang berubah, sebagaimana terlukis dalam sebuah puisinya, Perubahan-Perubahan Sang Pencinta.

Puisi-puisinya banyak bicara soal tanah air, berikut tragedi sejarahnya, yang ia lukiskan sebagai elegi zaman kini: ”wajah sejarah kita jauh siang malam diseret tragedi/sejarah kita ingatan di mana lubang ketakutan selalu bertambah dalam”.

Sepanjang sebagai penyair, ia telah menulis puluhan buku puisi yang diterbitkan dalam bahasa Arab, Inggris, Jerman, sebagian juga Prancis. Dengan gaya seorang pemberontak kemapanan, Adonis adalah penyair dan pemikir yang mesti diwaspadai sebagaimana kita mewaspadai filsafat Nietzsche yang anti-filsafat.

Beberapa penghargaan internasional telah diraihnya, antara lain Syiria-Lebanon Award dari International Poetry Forumdi Pittsburg (1971), Jean Malrieu Etranger (1991), Prix de La Mediterranee dan Naziim Hikmat Award (1994), dan Goethe Medal of The Goethe Gesellschaft (2001).

Tak heran bila dalam sepuluh tahun terakhir namanya disebut sebagai kandidat Nobel Sastra. Sebagian besar puisinya menyuarakan harga diri manusia dan kemanusiaan yang penting di zaman ini. Karena kritiknya yang mengganggu keyakinan para penguasa yang kerap kali mengatasnamakan ketentraman umat Islam, tak heran bila kemudian ia terusir dari negerinya sendiri, dan menjadi orang buangan. Eksil adalah rumahnya, perjanan adalah kafilahnya, kesunyian adalah puisinya. ”Dari mana asalmu, dari negeri tak bernama? Tanah airku belum selesai, jiwaku melanglang jauh, meski nasibku dirundung sangsai, bongkar aku tetap sauh..kutenun langit baru dengan sutra puisi-puisiku”, tulisnya dalam puisi Elegi Zaman Kini.

Kritiknya atas tanah kelahiran begitu menghunjam-dalam hingga tercupan perpisahan yang lantang: ”selamat tinggal, o zaman lalat di negeriku” (sajak Elegi Zaman Kini). Sementara dalam sajak Elegi Abad Pertama kita temukan gugatan atas negeri yang terasa membelenggunya, dengan bahasa pengucapan yang ganas: ”inilah bangsa yang hamparkan wajahnya untuk dicakar kuku-kuku binatang, inilah negeri yang lebih pengecut dari sehelai bulu dan lebih rendah dari bantalan”. Di tempat lain, berbagai negeri telah menjadi rumahnya, dan konflik tentang tanah airnya kita rasakan begitu menghunjam dalam puisi-puisinya yang ”berwarna laut tengah”.

Salah satu larik sajak Elegi Zaman Kini melukiskan berbagai negeri perjalanan dengan kisah-kisah yang tak jarang ditakik dari kisah-kisah Quran dan di transformasikan menjadi puisi Kitab Suci yang justru terkesan anti-agama dan anti-Tuhan.

”Ringkik kuda-kuda ini untuk sayhun”, kata Adonis, ”lesat tombak-tombak ini untuk khurasan. Rumah kita emas di atas permukaan batu himalaya, dan samarkand sebuah panji. Telah kita usap tubuh bumi dengan bulu mata, telah kita ikat kembang-kembang yang terbang dengan buluh nadi, telah pula kita basuh siang hari..Inilah jalan-jalan kita—kita nikahi halilintar, kita penuhi bumi dengan teriakan benda-benda baru”.

Adonis, Kreativitas dan Pemikiran

Dikalangan intelektual Arab-muslim, Adonis dianggap terlampau berani memperhadapkan kebenaran puisi dan kebenaran Kitab Suci. Namun di mata Ali Harb—pemikir Islam kontemporer Libanon—Adonis adalah masa depan, dan karena itu ia secara terus mengikuti Adonis dan mengaku sebagai gurunya. Adonis memang sosok yang resah, dan kerap kali membuat orang lain gelisah. Disertasinya yang mengangkat pemikiran yang mapan dan yang berubah dalam masyarakat Arab-Islam menuai kontroversi lantaran terlampau berani membongkar teks-teks yang terlanjur dianggap mapan oleh kaum muslim.

Tesis yang selalu dipersoalkan Adonis dalam karyanya seputar kritiknya atas kemapanan teks, atau terhadap teks yang menurutnya masih sering ditempatkan sebagai era kenabian dan kebudayaan wahyu yang jauh. Kata-kata seperti penanggalan yang lama, pelucutan otoritas teks, pembaruan tafsir, perubahan-perubahan cara memandang Quran, begitu menakutkan bagi mayoritas orang Arab-muslim.

Dunia yang dipersepsi dalam kebudayaan Arab-muslim, di mata Adonis, mengalami pergeseran dan mengikuti gerak naik ala Plato yang memusuhi puisi. Lebih lagi ketika hijrah menjadi strategi pemutusan masa lalu. Sebab hijrahnya orang Arab-Islam tak seperti yang pernah dilukiskan Ali Syariati tentang berangkatnya nabi Muhammad dan pengikutnya yang mengubah pandangan yang rigid dan jumud menjadi yang dinamis atau sebuah ”loncatan besar sejarah yang meniupkan ruh perubahan”. Keluarnya para penyair Arab dari jazirah dan birai kesukuan, tak sampai menjadi kreatif, tapi hanya melahirkan variasi tematik dalam karya sastra dan keagamaan. Kritik puisi yang lahir pun melulu menekankan pada ilustrasi karya, bukan pada imajinasi atau metafornya.

Ketika para pelancong Arab kembali dari petualangan dan perjalanan kafilah, mereka tak mengolah struktur dan stilistik puisi Arab, yang sesungguhnya bepotensi memberikan kontribusi bagi munculnya tafsir simbolik dan metaforik di kemudian hari, baik yang dilakukan oleh para ulama tafsir maupun penyair Arab. Namun, identitas kearaban justu tampil dalam gerak-kembali ke muasal yang sempat ditinggalkan, bukan gerak-pergi menuju loncatan keativitas yang berani.

Lewat teropong mata pengamat yang terlibat, Adonis menyungsang dilema yang mengungkung penyair Arab-Islam dengan mengevaluasi kembali sejumlah pancangan kenangan yang tertancap bagai lembing dalam memori masa lalu orang Arab-muslim. Dari sini ia kemudian mengenal watak-watak budaya dan kritik sastra Arab, yang hanya bergerak dalam cahaya murni yang bersifat total dan melulu bersandar pada teks kenabian. Dengan bekal pembacaan melekat dan karib, ia merekonstruksi kembali kebudayaan Arab sebagai proyek sejarah dalam proses mencari, yang akhirnya menyulut polemik hingga ia terusir dari negerinya sendiri: “Aku sesat di sini, sesat di sana” tulisnya dalam secaraik puisi yang diterjemahkan dengan apik oleh Goenawan Mohamad.

Negeri “di sini” adalah negeri Arab, sementara negeri “di sana” adalah Prancis, negeri tempatnya menjadi eksil dalam rasa “cemas dan jadi alum/tak tahu bagaimana tinggal/tak tahu bagaimana pulang”, lanjutnya.

Dari sini tampak bahwa Adonis menunjukkan jati dirinya sebagai penyair yang menekankan pentingnya perubahan khas imaji kaum pembangkang. Tak berlebihan jika Anton Sa’adah menjuluki Ali Ahmad Said sebagai Adonis, nama yang lengket hingga sekarang. Anton Sa’adah bahkan memberi gelar Adonis tesebut behubungan dengan tiga proyek persatuan Syiria, Irak, dan Libanon, yang menurutnya hanya Ali Ahmad Said yang mampu melakukan proyek besar dan ambisius itu. Sa’adah melihat potensi itu dalam tulisan-tulisan Ali Ahmad Said, karena itu ia pun melekatkan nama dewa Babilonia kepadanya.

Adonis senantiasa mengusulkan kepada para pemikir Arab-muslim untuk merancang ulang dengan teliti berbagai proyek mercusuar pemikiran dan keativitas Arab-Islam. Gagasan itu ia tuangkan dalam berjilid buku bertajuk Ats-tsabit wa al-Mutahawwil: Bahts fi al-Ibda wa al-Itba ’inda al-Arab, yang telah diterjemahkan ke Indonesia oleh Khoiron Nahdiyyin menjadi Arkeologi Sejarah Pemikiran Arab-Islam: Jilid I-IV (LKiS, 2007).

Bagi Adonis, kebudayaan Arab sejak dahulu hinga kini tampak berpusar dalam alimbubu yang tak berpangkal kecuali hanya sebatas pada kebanggaan subjektivitas dan selalu membayangkan komunitas dan dirinya sendiri sebagai romantisme banal; bukan pemikiran subjek yang merenungkan semesta raya secara kreatif dan eksploratif.

Menjadi orang usiran, bagi Adonis, tidak membuatnya susut untuk terus memikirkan masa depan Arab, tempat lahir dan derita beberapa Nabi itu. Adonis memetakan empat persoalan yang menyita perhatian para kritikus Arab-muslim mutakhir; mulai dari tegangan hubungan antara yang lama dan yang baru, lalu tumbuhnya bahasa pengucapan puisi yang inovatif, kriteria pengucapan yang berhasil dan yang gagal, budaya estetik dan makna kritik. Lebih jauh Adonis menelusuri kriteria kritik sastra Arab-Islam ke dalam ushul al-khamsat: pembaruan dan peniruan, yang memengaruhi dan yang dipengauhi, puisi dan kewargaan, puisi dan pengetahuan budaya, pengalaman dan eksperimen.

Apa yang dilakukan Adonis sudah bisa diduga. Berlawanan dengan kecenderungan yang menekankan taklid demi mengejar mahabayangan keaslian Islam, terbentuk suatu pilihan sikap individu yang berhadapan secara diametral dengan mayoritas orang Arab-Islam sekaligus reaksi berani terhadap masa lampau. Apa yang disebut kemurnian, keaslian, kelengkapan, tak akan pernah tergapai di dunia kini hingga datangnya ajal. Tapi Adonis sendiri yang bilang dalam puisi Elegi Zaman Kini: ”kata-kata kita bukan warisan”, melainkan yang baru dan tanpa punya tradisi.

Adonis menekankan proses pencarian lewat kreativitas sebagai pemaknaan ulang geneologi dan arkeologi sejarah pemikiran Arab-Islam kontemporer. Tetapi, ia juga meneakan puisinya sebagai kebaruan, yang mengandung kejutan-kejutan dan memancing reaksi pembacanya. Tatkala berhadapan dengan bahasa padang sahara di sebutir pasir, Adonis tampaknya berusaha mendulang bahasa peradaban yang aneka makna. Mazhab lama bekali-kali dipertanyakan dengan merayakan mazhab metafora pemikat baru. Gaya puisi Arab yang lumrah diganti dengan hasil kreasi yang luwes. Formalisme yang beku didekonstruksi dengan menakik informali, dan seterusnya, hingga gairah estetik dan rasa haus puitik seakan menjadi oase di tengah gurun yang gersang.

Adonis membedakan—atau lebih tepat memisahkan—antara ekspresi dengan yang diekspresikan, antara penanda dan petanda, antara gerak realitas dan kebekuan ruang-waktu; di mana ketiganya berada dalam keterhubungan indeksional dan simbolik yang dinamis. Di sini Adonis nyaris melampaui para resi Arab-Islam yang pernah menaruh perhatian pada tafsir sastra modern sejak mendiang Amin al-Khuli.

Puisi kewargaan Arab-muslim diharapkan menjadi nujuman yang memberi ilham yang paling menantang naluri bawah sadar para pencinta budaya kreatif. Tetapi faktanya, puisi-puisi Arab kata Adonis, tak mengenal perubahan dan tak ada penyair yang bersusah payah dalam menabarkan budaya estetik. Tak ada kesulitan memparafrasekan hal-ikhwal dalam gerak turun realitas, memutar otak sampai menemu takwil, atau diskusi sampai larut malam seperti yang dilakukan para pujangga dan pemikir Persia.

Orang-orang Arab tinggal mengerahkan angan-angan yang sudah ada untuk bicara dalam waktu kini, melantunkan puisi ketika berada di bibir sumur dan tubir padang pasir, ketika menggiring unta, ketika sedang melakukan lawatan. Sementara Adonis berusaha untuk terus mencari yang baharu dan tak lazim.

Orang Arab terkenal sebagai penghafal, karena itu semua puisi nyaris sama dari zaman kakek hingga cucu dan cicit. Mereka menghafal apa saja yang terkesan dalam hati, mengendap dalam jiwa, melekat dalam dada, dan menggantungkan pada otak kanan dari tiap-tiap generasi. Seperti museum tua yang tetap langgeng walau kematian generasi silih berganti. Sementara orang Persia menurut Adonis, justru sebaliknya; mereka rata-rata ahli retorika. Setiap sepatah kata yang diucapkan bagaikan tirai menyibak mata air padang lamunan di pantai kesadaran, penuh nuansa rekayasa, mengenal sangat dekat bidang liputan, menyendiri dan merenung, pertukar-pikiran dan berdiskusi sampai lawa malam, mempelajari puspa kitab seni dan pemikiran, di mana generasi kedua meniru generasi pertama, generasi ketiga menambah ilmu generasi kedua, dan seterusnya, hingga terbentuklah buah dari gairah yang tak lelah-lelahnya membangun kesadaran kreatif dan nyala oncor pemikiran sampai generasi kini.

Kisah Seribu Satu Malam di mata Adonis adalah: sebentuk indeksikal yang mempertemukan Arab dan Persia di poros kekuatan Syi’ah Irak dan Syi’ah Iran. Melalui untaian kisah yang tak putus-putusnya, sambung-menyambung dan membentuk gugusan piramida kata-kata emas, kisah ini terus mengalami perubahan kendati sudah dibukukan. Eksperimentasi adalah kata kunci untuk melahirkan para penyair dinamit bukan dedemit.

Tapi sayang, keanekaan budaya Arab-muslim yang melimpah-ruah dalam lintasan sejarah itu, dan yang begitu berharga bagi tiap-tiap generasi, kini berada pada ambang hilang ketika para penyair dan cendekiawan Arab-muslim justru lebih mengedepankan angan-angan analogistis dengan puisi lamunan yang kosong. Saya kia Adonis bukan seorang yang percaya pada analogi sahidiah Aristotelian dan gerak naik ala Plato serta cinta platonik, karena semua itu justru telah bermetamorfosis dengan budaya Arab baduwi dengan klaim-klaim yang rapuh.

Kreativitas Abu Nuwas, Abu Tamam, Jabir bin Hayyan, di mata pemikir Arab-Islam ternyata tidak lebih mengugah dari seloyang martabak Mesir. Padahal para penyair itu telah berjasa membukakan mata orang Arab akan perubahan.

Bangsa Arab yang memiliki persenyawaan kimiawi implosif dan eksplosif serta harkat kata-kata yang merdeka, kian jauh terperosok di antara ribuan buku fiqh dan syariat, sementara puisi dan sufi selalu dicacimaki.

Tak heran jika sajak-sajak Adonis mempesona kita. Keberanian mengungkapkan hal-hal yang tabu dan riskan, adalah salah satu ciri pemikiran Adonis. Ia menggugah dan membantah. Ia menolak dan menghantam. Bertubi-tubi Tuhan dipertanyakan, dipersoalkan, dan digugatnya. Bahkan mirip seperti Nietzsche, dalam sajak-sajak ketuhanan Adonis di bawah ini membuat nyali kita kecut dan terkejut.

Sebuah kematian

Kita mati jika tidak kita ciptakan Tuhan
Kita mati jika tidak kita bunuh Tuhan

O, kerjaan batu cadas, kebingungan

Tuhan Yang Sudah Mati

Hari ini telah kubakar
Fatamorgana Sabtu dan fatamorgana Jum’at
Hari ini telah kulempakan topeng rumah ini
dan telah aku ganti Tuhan batu buta
dan Tuhan hari-hari tujuh
dengan seorang Tuhan yang sudah mati

Seorang Tuhan Telah Mati

Seorang Tuhan telah mati
Tuhan yang dulu turun dari sana
Dari tengkorak langit.

Siapa tahu
Dalam ketakutan dan kehancuran
Dalam keputusasaan dan di tandus bumi padang pasir

Siapa tahu, bumiku ranjang dan istr
Siapa tahu, dunia akan membungkuk sendiri

Dalam buku seriusnya yang berasal dari disertasi, sebagaimana telah disebutkan di atas, Adonis banyak bersinggungan dengan gagasan kaum sufi yang sangat radikal, seperti al-Hallaj dan Ibn Arabi. Bahkan dalam beberapa kesempatan ia menyinggung tema dzawq dalam tasawuf Islam. Uraian-uraiannya tentang tasawuf menunjukkan kalau dimensi batin dalam Islam itu tidak mungkin didekati dengan akal. Bagi Adonis, kita tak mungkin dapat mengenal Tuhan dan menangkap hakikat yang tersembunyi hanya melalui akal dan wahyu, sebab hakikat tidak terdapat dalam aspek lahir teks, tetapi harus melalui interpretasi terhadap teks dengn cara mengembalikan pada sumbernya dan dengan cara menyingkapkan makna hakikinya. Interpretasi itu sendiri terkait dengan orang yang mengetahui (‘arif), yang mampu menangkap makna yang batin.

Sementara pada tempat lain ia merujuk pandangan al-Ghazali yang arif, terutaama tentang pemikiran dan batas-batasnya. Akal ada batasnya untuk mengenal Tuhan, dan akal tidak mungkin bisa mengantarkan manusia menemukan Tuhan. Menurut al-Ghazali, alur pikiran terbatas hanya pada hubungan antara hamba dengan tuhannya. Tuhan hanya bisa didekati dengan rasa (dzawq), melalui latihan-latihan rohani.

Al-Ghazali pernah menyebut berpikir (al-fikr) sebagai menghadirkan dua pengetahuan dalam hati untuk menghasilkan dari keduanya pengetahuan ketiga. Berpikir tidak lain adalah “menyulut cahaya pengetahuan”. Oleh karena itu, kata Adonis, dilihat dari perspektif sufi, agama bergerak ke arah yang tiada batas, dan melampaui akal. Perbedaan antara agama dalam perspektif fiqh-literalis dengan agama dalam perspektif batini-sufi bagaikan perbedaan antara air yang memancar di bagian dalam laut, atau bagaikan perbedaan antara bayangan dengan asal, dahan dengan batang.

Apa yang disebut dengan “yang lahir” hanyalah satu rupa dari yang batin. Oleh karena “yang batin” tidak terhingga, maka ia tidak mungkin dibatasi dalam satu bentuk. Hanya saja, para ahli fiqh dan para pengikutnya tidak memahami adanya relasi dialektis antara yang batin dan yang lahir. Yang batin tidak dapat ditafsirkan dengan yang lahir, sementara yang lahir dapat ditafsirkan dengan yang batin.

Kunci tasawuf bagi Adonis adalah dzawq. Dalam esainya yang diterjemahkan oleh Mohamad Guntur Romli dari judul aslinya “al-Haqîqah al-Syi’riyah wal Haqîqah al-Dîniyah, Adonis mendefinisikan dzawq sebagai puncak kegelisahan yang pelik ditafsirkan. Mungkin yang terbaik dalam makna kegelisahan tadi adalah seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Arabi tentang Zulaikha, istri seorang pembesar Fir’aun yang jatuh cinta pada Yusuf. Menurut riwayat itu, suatu ketika Zulaikha terluka, darahnya tercecer ke tanah. Dari ceceran darah itu seketika tersusun sebuah tulisan yang huruf-hurufnya membentuk sebuah nama: Yusuf. Maknanya, kata Ibn Arabi, sesungguhnya Zulaikha sangat mencintai Yusuf hingga nama Yusuf pun mengalir dalam urat darahnya.

Dzawq merupakan metode pengetahuan yang bertumpu pada pencpaian hakikat melalui penglihatan atas kenyatan. Ini berarti bahwa ia merupakan satu kondisi dari pergulatan internal seorang sufi, bukan merupakan penalaran atau dialektika. Bagi Adonis, dzawq bukan hanya alternatif bagi akal, melaiinkan juga merupakan lawannya. Hal itu karena dzawq merupakan keberlanjutan, dan dengan demikian ia merupakan perilaku.

Sebagaimana dzawq bukan merupakan akal, demikian pula ia bukan pembelajaran. Oleh karena itu, dalam dzawq tidak ada wilayah bagi wahyu, perolehan, naql, taqlid, paparan dalil, penalaran ataupun logika. Dzawq hanya perilaku dan kondisi. Sebagai konsekuensinya, dzawq mengarah pada hakikat. Oleh karena hakikat merupakan mata batin maka dzawq melampaui yang lahir. Setiap yng melampaui yang lahir mengandung makna melampaui kaidah dan hukum, serta mengandung pengertian membangun kaidah dan hukum sesuai dengan yang batin dan tuntutannya.

Dari sini lalu dapat dipahami bagaimana pengalaman dzawqiyyah memberikan prioritas terhadap hakikat dari pada terhadap syari’at. Kalau metode syari’at didasarkan pada pembuatan batasan, perintah dan larangan, maka dzawq atau hakikat tidak memilki batas.

Selanjutnya, untuk sampai kepada hakikat, kepada yang batin, menurut Adonis harus memakai dua jalan. Pertama, perjalanan dari yang lahir ke yang batin, dari syari’at ke hakikat, dan dari alam kepada Allah. Kedua, perubahan sifat dan transformasi internal yang menyiapkan jiwa dan menguatkannya untuk dapat melihat Allah dan berkomunikasi dengan-Nya. Pengertian jalan yang pertama mengacu kepada gerak-naik sang sufi menuju Alla. Sementara pengertian yang kedua mengacu kepada gerak turun pada jiwa tempat di mana ditemukan Allah.

Pemaknaan dzawq dari Adonis di atas sedikit berbeda dengan makna dzawq menurut Imam al-Ghazali. Menurut al-Ghazali, dzawq bukan sekadar rasa, tapi cita rasa batiniah yang halus tentang puisi sufi yang hanya dikhususkan bagi mereka yang khawas (memilki pengetahuan khusus). Dzawq sejenis pencerapan batin, yang orang-orang lain dijauhkan darinya, hingga tak bisa membedakan antara irama-irama yang indah-teratur-rapi dan yang kacau serta sumbang. Perhatikanlah betapa sebagian orang memiliki dzawq yang amat kuat hingga bisa menciptakan musik, lagu-lagu, melodi, yang adakalanya menimbulkan kesenduan atau kegembiraan, membuat pendengarnya terlelap, menangis, membunuh, pingsan atawa gila. Kuatnya pengaruh seperti itu hanyalah pada diri mereka yang memiliki bakat dzaug pula…Ilmu berada di atas iman, sementara dzaug berada di atas ilmu. Dan dzawq adalah ‘wijdan’, yaitu perasaan-perasaan halus yang timbul dari hati nurani terdalam.

Bagi Adonis, jika kalangan salafi-fundamentalis berdoa, “Ya Tuhan, tambahkan aku keyakinan”; Rumi, Attar dan kalangan sufi yang lain, berdoa dengan isi yang berbeda, “Ya Tuhan, tambahkanlah aku kegelisahan”. Doa kalangan sufi ini dinisbatkan kepada doa Nabi: “Wahai Petunjuk bagi orang yang gelisah, tambahkanlah kegelisahanku terhadapmu”.

Imaji Seks yang Transendensi

Tidak kurang dari satu lusin buku puisi yang pernah terbit dari tangannya. Salah satu buku puisi terbaik Adonis yang menghimpun ratusan puisi pendek, adalah buku Aghani Mihyar al-Dimasyqi, yang di Indonesia diterjemahkan oleh Ahmad Mulyadi dengan judul Nyanyian Mihyar dari Damaskus (2008). Buku ini menghimpun tujuh kumpulan puisi Adonis, yaitu tentang Ksatria Kata-kata Asing, Penyihir Debu, Tuhan yang Sudah Mati, Iram Djat al-’Imat, Zaman Kecil, Di Ujung Dunia, dan Kematian Kembali.

Puisi-puisi pendek Adonis begitu mempesona. Hampir semua penyair besar Arab dan Persia disinggungnnya. Dengan fasih Adonis menuls puisi elegi untuk Odysseus, Sisyphus, Galilea, Umar bin Khattab, al-Halaj, Abu Tumam, Abu Nuwas, Syaddad, Basyar.

Kini Adonis masih terus menulis puisi dengan tema yang beragam: mulai dari pesoalan kemanusian, tempat dan tanah air bagi penyair, hingga cinta yang tulus dan seks yang transendensi. Adonis seperti menemukan keintiman tentang tema sufistik justru ketika sedang bicara tentang imaji seks. Mungkin ini kedengaran janggal bagi sebagian orang, namun begitulah kesan yang saya tangkap dalam buku kumpulan puisinya yang telah diterjemahkan Ahmad Mulyadi, Perubahan-Perubahan Sang Pencinta (Grasindo, 2005).

Di sini Adonis menampilkan satu puisi panjang bertajuk Inilah Namaku, yang mengekspresi seksualitas dengan penuh penghayatan, yang mempesona, dan sempat membuat saya takjub, takzim, terutama oleh metafor-metafor yang cerdas. Adonis telah melangkah jauh dari kecenderungan puisi yang deskriptif dengan mengekspresikan imaji sebagai pilihan pengungkapan sekaligus renungan tentang kehidupan.

Simak misalnya untaian larik-larik puisinya berikut ini:

Inilah Namaku

kumasuki pinggulmu
bumi berputar-putar di sekelilingku
anggota-anggota tubuhmu berdesau desir
seperti desau alir nil
kita terapung-apung
kita salam bersalam
kauterpotong-potong di dalam darahku

Seksualitas dalam fragmen puisi di atas tidak dilukiskan sebagai semata hubungan badan antara dua kelamin, melainkan dimetaforakan sebagai seks yang mengandung kekuatan transendensi, alunan musik yang mistis, sebuah rasa hayatan yang melampaui kecenderungan seks yang ilustratif. Agaknya, dalam puisi itu sang penyair mencoba untuk ”lebur” dalam imajinasi atau metafora tentang seks yang indah itu.

Memang sulit dibayangkan bentuk persetubuhan liar yang terkadang dramatik, seperti sejenak kita lihat dalam larik di atas, kecuali memang sang penyairnya sendiri bukan sekedar penyair, tapi penyair yang memang pandai menghadirkan maji lewat metafora yang hidup. Seks yang dramatik memang terasa lebih menohok orang-orang yang selama ini masih memperlakukan seks melulu urusan pribadi yang harus disembunyikan. Seks diekspresikan Adonis dengan sebuah lirik yang subtil, terkadang menggoda dan pembaca seakan diajak merenung atau diam, seperti tampak dalam lanjutan sajak Inilah Namaku berikut ini:

ombak-ombakku memotong-motong dadamu
kita pun lebur
marilah kita mulai:
cinta telah lupakan belati malam
mestikah kuberteriak bahwa topan akan datang?
marilah kita mulai:
sebuah teriakan memanjat kota
manusia adalah cermin-cermin berjalan
ketika garam telah berenang ke seberang
kita pernah berjumpa, itukah kamu?
–cintaku sebuah luka

Bila pembaca sempat membaca sajak-sajak Adonis, betapa banyak buih yang digunakan untuk melukiskan perasaan terbang melayang mencari kepenuhan martabat kemanusiannya yang mulai cemas. Dalam sajak Elegi Abad Pertama, Adonis menulis: ”laut melambai ke arah kita, laut menangis karena kita, siapa berenang di sana? Katakan pada kami harapanmu, o buih; kematian coreng tepian kita, di mana kita berlabuh abu bintang-bintang terakhir…aku dan waktu tidak bertukar sapa, kubiarkan langkah-langkahku tumbuh, di atas tanah berwarna lupa”.

Dalam sajak Perubahan-perubahan Sang Pencinta, Adonis masih menempatkan tema seks sebagai bagian dari pencarian transendensi yang melampaui ruang dan waktu. Berbagai pilihan kata yang dekat dengan imaji seks muncul dalam baris-baris puisi panjang ini: ”wangi tubuhnya mencuri penciumanku, di sana ada sebuah ranjang menantiku/tumbuh seperti payuda, pantat, dada, pusar, alam kedua yang beranak pinak, bibirmu, nyala api memanjang dan menjilat bantal”, dan sebagainya. Dari sini kemudian kita segera bertemu larik-larik yang menghadirkan soal seks:

kauseberangkan perahu tubuhku menujumu
kausingkap bumi tersembunyi di peta kelamin kulaju
kukenakan tempat-tempat di mana kuberlalu jimat dan tanda
kuasapkan dengan racauanku, dengan api dan rajah
derai serasa diriku ombak
pantai serasa dirimu tepian
punggungmu setengah benua
di bawah kedua payudaramu terdapat empat arah mata anginku
…………………
kudengar pinggul mengerang
kudengar pangkal-pangkal paha mengucap salam
aku dikuasai ekstase
kumasuki sahara ketakuan sambil kuseru namamu

turun ke lapis-lapis paling bawah
ke hadirat dunia paling sempit

Membaca sajak-sajak Adonis membuat angan-angan saya terasa ambyar, lungkrah dalam rasa tak percaya, dan diam-diam ketakjuban yang tak terlukiskan ditujukan kepada penyair yang juga “pemikir” ini. Dalam sepuluh tahun terakhir, saya belum menemukan puisi bertema seksualitas yang sering bersanding dengan tema religiusitas tanpa beban, kecuali saya rasakan dalam beberapa sajak Sutardji dan Goenawan. Ketiga penyair ini memang sama-sama pemberontak dan sama-sama intim menggunakan imaji-imaji seksualitas. Soal perkelaminan, Adonis pernah menyampaikan semacam frase puitik: ”kelamin menggoda erengan mereka, tapi hanya engkaulah yang tercinta”, katanya. Lalu ”kamu telah lebur dalam kelaminku, kelaminku tanpa batas tanpa bilah bidang, lantakkan dirimu, kutelah melantak” (sajak Inilah Namaku).

Asosiasi tentang seks dalam sajak-sajak Adonis mengingatkan pada sajak-sajak seks Goenawan dan Tardji. Alunan komposisi sajak seks ketiganya muncul bagai drama musik senggama yang memuncak ke dalam erangan kesepian yang histeris. Berbagai pilihan kata untuk menguatkan persetubuhan muncul susul-menyusul lalu lenyap oleh soal-soal lain, dan muncul kembali dengan kejutan-kejutan yang menawan semacam ini: ”Kaulumasi dua payudaramu dengan kata-kataku, dan aku tenggelam ke dalam dasar surga” dan ”pinggulmulah sauhku”, ”wahai tubuh/mengerutlah, mereganglah, menampaklah, dan sembunyilah”, tak urung akan mengingatkan kita pada bunyi puisi Hiroshima Cintaku karya Goenawan Mohamad ini: ”Ah, lakukan, lekukkan, lekaskan”.

Adonis banyak menampilkan frase puitik sebagai bentuk pencarian seks yang transendensi yang mempesona. Dalam situasi semacam ini, ia pun tak ingin melepaskan kata-kata yang telah punya dunianya. Beberapa larik sajaknya yang menampilkan bunyi dalam situasi sepi yang singkat, misalnya lewat kata-kata semacam ini: ”telah kita gali kata-kata terpendam/rasanya serasa perawan”, atau ”aku waktu/kita lebur jadi satu/berakarlah dalam labirinku”.

Dalam sajak Perubahan-perubahan Sang Pencinta, Adonis begitu intens menyuarakan erangan tubuh dengan imaji-imaji yang dekat sekali dengan seks. Larik-lariknya memunculkan erangan dan histeria, ekstase, dengan bahasa pengucapan yang lirio namun tanpa pelukisan. Misalnya larik-larik berikut ini:

kausiapkan ranjangmu
kauhamparkan bumi
kita tanam pon-pohon tubuh
kita tutupi diri kita dengan suara kita
ingá tiba saat untuk muncul
tubuh terasa asing
disentuh perubahan
ngilu persendian, denyut seluruh anggota tubuh
selruh otot meregang, rasa tiada tertahan
mengisut, menyusut, membesar
tubuh naik-turun, mendatar, menggapai puncak, melengkung
bumi pinggul penuh bintang
penuh gunung berapi dengan bara-baa putih
penuh riam ganas dan jurang gairah

Walau laik-larik di atas tak secara langsung menampilkan tematik seksualitas, naman asosiasi yang kita tangkap mengarah ke perkelaminan. Sajak di atas melukiskan perubahan-peruban yang oleh sang penyairnya disebut perubahan-perubahan sang pencinta. Imaji sang pencinta gemertab-pelan disentuh perubahan hingga terasa ngilu seluruh persendian dan menimbulkan denyar dan denyut ke tulang-tulang terdalam.

Sajak ini memunculkan frase dan parafrase yang cantik disekitar anggota tubuh, misalnya ungkapan “kuseberangkan perahu tubuhku menujumu”, “tamasyalah sekehendakmu di antara anggota-anggota tubuhku”, “kulumasi kedua payudaramu dengan kata-kataku”, “kunaik menujumu kuturun menujumu”, “pinggulmulah sauhku”, dan “sihirlah ragu hingga bimbang hilang padam”, dll.

Bagaimana pun, selain pemikiran yang memiliki bobot yang kuat, puisi-puisi Adonis telah melampaui sebagian besar penyair Arab-muslim mulai dari generasi Abu’l ’Atahiya, Abu’l Ala al-Ma’arri, Ibn Zaydun, Ibnu Faried al-Qahari, Ali Muhammad Luqman, Nizar Qabani, maupun Buailand al-Haidari. Keintimannya memikirkan masa depan tanah airnya melalui pemikiran dan kreativitas puisi Arab-muslim dapat dibandingkan dengan para penyair peraih Nobel Sastra. Dan puisi terbaiknya justru yang banyak mengangkat imajinasi seks melalui bahasa yang puitik dan kokoh.

Tanjungkarang, 2009
__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/