Agenda Pelokalan Budaya Global

Achmad Fawaid *)
http://www.balipost.co.id/

GLOBALISASI diyakini banyak orang sebagai jawaban atas kemiskinan. Dengan terbukanya pasar global, penduduk dunia semakin mudah memperoleh kebutuhan ekonominya melalui mekanisme industri global. Sepintas, globalisasi menawarkan kemudahan bagi siapa saja yang mau melakukan transaksi ekonomi. Namun, di balik itu, globalisasi justru membuat negara-negara dunia ketiga semakin terpuruk dan jauh dari kesejahteraan.

Kebudayaan lokal dan tradisional di negara-negara terbelakang dan berkembang mendapat tantangan besar dari globalisasi tersebut yang — meminjam istilah Hermawan Kertajaya (2000) — telah mendorong pembentukan suatu pusat kebudayaan: budaya global. Di sinilah, menurut Baso (2003), arena kontestasi digelar. Globalisasi telah melahirkan persaingan dan mega kompetisi antarnegara di belahan dunia. Yang menang akan berkuasa, begitu pula yang kalah akan tersingkir.

Globalisasi pada akhirnya menjadi fenomena yang tidak bisa dihindari oleh seluruh negara, termasuk Indonesia. Pada tahun 1994, Soeharto telah menyadari hal tersebut. Dengan lantang, ia menyatakan bahwa apa pun risikonya kita harus mengambil bagian dalam globalisasi. Namun, semangat tersebut saat ini justru semakin redup. Yang tersisa hanya penyakit-penyakit kronis yang menjangkiti hampir seluruh masyarakat Indonesia. Dalam pandangan Hadi Soesastro (2000), sindroma ini merupakan gejala dari munculnya globalphobia (ketakutan atau ketidaksiapan menerima globalisasi) di Indonesia.

Gejala globalphobia semacam ini dapat kita lihat dari kegagalan demi kegagalan yang telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam menghadapi globalisasi. Dalam aspek ekonomi, Indonesia masih belum bisa keluar dari kungkungan krisis moneter berkepanjangan sejak 1997. Dalam bidang politik, pemerintah masih belum menemukan format kelembagaan pemerintah yang baik hingga setiap pergantian pemimpin selalu terjadi perubahan sistem politik besar-besaran. Dalam wilayah sosial, Indonesia juga tidak mampu menuntaskan masalah pengangguran dan kemiskinan di berbagai daerah. Dalam bidang keamanan dan pertahanan, Indonesia juga masih belum bersih dari konflik antardaerah bahkan antarnegara tetangga.

Sedangkan satu lagi bidang kehidupan yang merupakan inti dari seluruh bidang lain yaitu bidang kebudayaan. Aspek kebudayaan dianggap sebagai inti karena ia adalah penggerak seluruh kehendak manusia Indonesia sekaligus berperan sebagai cerminan perilaku masyarakat Indonesia itu sendiri. Di bidang kebudayaan, kegagalan itu terlihat dari tergantikannya nilai-nilai dan khasanah kebudayaan lokal dengan budaya dan trend globalisasi. Di Indonesia, budaya global yang tergolong paling besar pengaruhnya ialah universalisme. Budaya semacam ini semakin menggerogoti nilai-nilai lokal yang telah dibangun dan dilestarikan oleh para pendiri bangsa ini, yaitu keberagaman dan kebhinekaan. Tidak hanya itu, budaya tersebut dianggap sebagai faktor meningkatnya angka kemiskinan dan maraknya perilaku korupsi. Sebuah fenomena kebudayaan yang naif.

Untuk itu, yang diperlukan saat ini bukanlah –meminjam istilah Arkoun– romantisisme terhadap masa lalu (baca: nilai-nilai dan kebudayaan lokal), tetapi berusaha merevitalisasi dan menggobalkan nilai-nilai tersebut menjadi semacam perlawanan terhadap budaya global.

Fortifikasi, Keniscayaan

Jika globalisasi menawarkan sebuah pusat kebudayaan yang bernama budaya global, Indonesia seharusnya melihatnya sebagai keuntungan yang terselubung. Mengapa demikian? Jika diamati, budaya global sebenarnya menawarkan sesuatu yang lain. Nirwan Dewanto (2003) pernah menyebut globalisasi tidak saja sebagai penaklukan baru, tetapi juga kemerdekaan baru. Artinya, globalisasi juga memberikan ruang kebebasan bagi Indonesia untuk mampu mengambil tenaga serta bahan dari sumber-sumber budaya lain. Hal inilah, kata Dewanto, yang menjadikan Indonesia semakin merdeka dari sebelumnya.

Namun, merdeka yang dimaksud Nirwan Dewanto tentu adalah merdeka yang juga turut ”mengimbangi” dan ”melawan” budaya global tersebut. Jika dilihat dari perspektif Hegelian, suatu kebudayaan merupakan sebentuk ekspresi yang absolut; suatu tesis yang dalam jangka waktu tertentu akan melahirkan kebudayaan lain sebagai antitesisnya. Dengan demikian, Nirwan Dewanto hendak mengatakan bahwa budaya global pada akhirnya juga turut melahirkan budaya tandingan sebagai antitesisnya.

Budaya tandingan tersebut dapat dikatakan sebagai fortifikasi. Jika budaya global, sebagaimana lazimnya, malakukan penyeragaman dan universalisasi di berbagai unsur kebudayaan manusia, budaya anti-global berarti melakukan pembelahan dan pluralisasi. Pembelahan unsur-unsur budaya yang pada akhirnya mengarah pada pluralitas dan keberagaman inilah yang disebut sebagai fortifikasi.

Kesadaran akan perbedaan dan heterogenitas merupakan salah satu strategi kebudayaan yang berusaha melokalkan budaya global saat ini. Dengan melakukan pembelaan terhadap pluralisme, pengaruh budaya global setidaknya mampu diminimalisasi sekecil mungkin. Bagaimana pun, keragaman etnis, sosial, budaya, ekonomi, bahkan agama sebagai ciri khas budaya (lokal) Indonesia adalah sesuatu yang layak kita perjuangkan bersama.

*) Penulis, pemerhati sosial-budaya, peneliti pada Centre for Humanistic Social Studies Yogyakarta

————-
* Di Indonesia, budaya global yang tergolong paling besar pengaruhnya ialah universalisme. Budaya semacam ini semakin menggerogoti nilai-nilai lokal yang telah dibangun dan dilestarikan oleh para pendiri bangsa ini, yaitu keberagaman dan kebhinekaan.
* Kesadaran akan perbedaan dan heterogenitas merupakan salah satu strategi kebudayaan yang berusaha melokalkan budaya global saat ini.
* Yang diperlukan saat ini bukanlah romantisisme terhadap masa lalu (baca: nilai-nilai dan kebudayaan lokal), tetapi berusaha merevitalisasi dan mengglobalkan nilai-nilai tersebut menjadi semacam perlawanan terhadap budaya global.