Menampilkan Dunia untuk Pertama Kalinya

Peresensi: Bagus Takwin

Judul Buku: Buli-buli Lima Kaki
Penulis: Nirwan Dewanto
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal: 168 halaman
majalah.tempointeraktif.com

Membaca Buli-buli Lima Kaki seperti bertualang ke wilayah-wilayah baru. Di dalamnya disebut hal-hal yang pernah saya kenal tetapi tak sama lagi. Puisi-puisi yang dimuatnya menghimpun itu semua menjadi tampilan baru.

Saya dulu mengenal kobra, tapi kobra itu kini tampil berbeda. Saya mengenal telur mata sapi, apel, roti, kopi luwak, hiu, soda gembira, bulan madu, palu, liburan, danau, dan tengah malam, tetapi semuanya berbeda dengan yang tampil dalam puisi-puisi Nirwan Dewanto itu.

Kita bisa menyaksikan kobra tampil sebagai aku yang mampu membantah, berkisah, dan refleksi-diri. Bantahan, kisah, dan refleksi yang tak biasa. Kobra yang mampu meyakinkan dengan kata-kata “Percayalah, aku melenyapkan bayang-bayangku dengan bersembunyi dalam liang jika hari sudah terlalu terang, bergelung seperti bulan gerhana sempurna, atau, jika terpaksa, dengan menelan sesiapa yang berkeras menjadi kembaranku betapapun tampan-jelita ia.” Kobra yang menyantap nasi gurih dan Kitab Lebah Ratu.

Kita bisa menyaksikan juga tampilan apel dan roti yang terhubung secara unik dengan benda-benda lain. “Di balik dua butir apel selalu ada sekeping matahari/Hijau, sehingga pisaumu akan tersipu malu/Menatap merah yang selalu padam itu.” Dan “Di antara dua potong roti selalu ada selapis jantung/Kuning, sehingga lidahmu pasti akan berhenti/Sebelum mencapai putih yang menyala itu.” Sungguh apel dan roti yang tak biasa, seperti benda-benda yang pertama kali dikenali di dunia.

Begitulah, benda-benda, juga ide-ide, seperti terbit untuk pertama kalinya dalam puisi-puisi Nirwan Dewanto dalam buku puisi ini. Membacanya, kita seperti menyaksikan dunia dengan wajah, watak, dan gerak-gerik baru. Hal-hal yang kita biasa temui sehari-hari seperti tiba-tiba menampilkan diri mereka dengan caranya sendiri.

Ragam dunia ditegaskan dengan kemeriahan dan kekhasan benda-benda. Kita harus mengenalinya lagi seperti ketika kita belajar menamai benda-benda untuk pertama kalinya. Kita butuh kepekaan baru dan menyetel indra agar tak terjebak dengan persepsi klise-usang. Kita butuh pikiran dan tenaga baru untuk dapat menyusuri dan menikmati liku-liku dan liuk-liuk dunia yang tampil di sana. Kita perlu siap terkejut dan melepas hasil-hasil pengenalan lama. Karena itu, saya menganggap pembacaan puisi-puisi itu sebagai petualangan.

Intuisi saya menangkap presentasi-presentasi yang diambil dari puisi-puisi terdahulu dalam puisi-puisi Nirwan. Ia juga mengambil banyak unsur dari hal-hal yang pernah ada di dunia, baik dari sumber-sumber alamiah di alam maupun hasil kreasi manusia seperti lagu, teater, sains, pepatah, dan banyak lagi. Tetapi unsur-unsur itu tidak diperlakukan sebagai rujukan atau representasi. Unsur-unsur itu diperlakukan sebagai presentasi, sesuatu yang menampilkan dirinya sendiri.

Unsur-unsur itu juga tidak diperlakukan sebagai bagian dari sumbernya. Mereka dirangkai secara baru dalam puisi sebagai himpunan yang punya prinsip perpaduan tersendiri. Itu semua ikut menentukan watak, wajah, dan gerak-gerik himpunan yang memadukannya. Seakan-akan setiap unsur punya aturan tersendiri meski mereka terhimpun dan dihitung sebagai satu.

Jika puisi adalah ikhtiar untuk melampaui bahasa dengan bahasa, maka Buli-buli Lima Kaki adalah ikhtiar yang berhasil. Dalam puisi-puisi Nirwan Dewanto itu bahasa melampaui fungsinya sehari-hari sebagai alat komunikasi dan ekspresi. Bahasa di sana memungkinkan dunia tampil sebagai presentasi, bukan sebagai representasi.

Puisi-puisi itu tidak mewakili atau merujuk kepada apa yang ada di tempat lain, melainkan menampilkan “dunia” tersendiri yang “ada di sini dan kini”. Apa yang luput oleh bahasa, yang tak terkatakan dalam keseharian, ditampilkan di sana. Eksplorasi bahasa bahkan sampai keluar batas-batas pemaknaan yang pernah ditegaskan terdahulu memungkinkan puisi-puisi itu menjalani ikhtiar puitis hingga menghasilkan kebaruan, mencapai kemungkinan-kemungkinan presentasi dunia secara baru.

27 Desember 2010