Esai Bahasa Diamankan

Sunaryono Basuki Ks
http://www.suarakarya-online.com/

Saat menonton berita TV saya terkejut mendengar pewarta mengabarkan bahwa pengungsi korban letusan Merapi “diamankan”. Andaikata saya tidak memahami konteks warta tersebut, saya pasti berkomentar “Oh, alangkah malang nasib pengungsi yang dikejar-kejar wedus gembel itu. Sudah jatuh tertimpa tangga pula.”

Untuk pemirsa seusia saya, ungkapan “diamankan” mengandung makna negatif. Saat penguasa negeri ini dengan gampang menangkap warganya, berdoalah Anda agar tidak sampai “diamankan”, sebab ungkapan tersebut berarti “ditangkap petugas dan dimasukkan ke dalam hotel prodeo.” Dalam konteks letusan Merapi, ternyata para pengungi diangkut ke tempat yang lebih aman. Kalau begitu, Anda pasti dengan suka rela mau diamankan.

Kita lihat bagaimana kita suka memakai eufemisme, ungkapan penghalus. Penjara kita sebut “hotel prodeo”, dan sekarang ini kita temukan nama “lembaga pemasyarakatan” untuk menggantikan “penjara”, dan yang terpenjara disebut “nara pidana”. Lebih halus? Mungkin. Setara pula dengan PSK untuk menggantikan kata “pelacur”.

Sebelumnya, pelacur sudah dihaluskan menjadi “WTS” atau wanita tuna susila, namun belum ada ungkapan penghalus untuk gigolo yang seharusnya menjadi PTS alias Pria Tuna Susila. Di Bali pelacur disebut “nener”, atau anak bandeng.

Entah ada hubungan apa antara anak bandeng dan pelacur. Bali memang menjadi eksportir nener untuak didewasakan menjadi ikan kesukaan banyak orang itu di tempat lain, baik di di Jawa maupun luar negeri, walaupun nener juga didewasakan menjadi bandeng di daerah Gondol, di pantai utara Bali Barat. Di sini malah ada Balai Penelitian Perikanan yang memberi penyuluhan kepada para petani ikan, untuk berbagai masalah perikanan. Dengan penyuluhan ini, mereka mendirikan sentra-sentra produksi untuk baik nener maupun mendewasakannya menjadi banding. Banyak didirikan “home hatchery?” atas petunjuk para ahli dari Balai, bagaimana membangun hatchery yang memenuhi syarat.

Para ahli di Balai juga mengadakan penelitian untuk membudi-dayakan jenis- jenis ikan lain yang hasilnya dapat ditularkan kepada para petani ikan yang modalnya kecil namun besar semangatnya. Sebelumnya, para ahli di Balai mendapat bantuan tenaga ahli dari Jepang, namun sekarang dengan banyaknya ahli dengan gelar doktor , kehadiran tenaga bantu dari Jepang (JICA) nampaknya tak diperlukan lagi.

Pernah seorang teman memprotes ketika menerima surat undangam yang memuat: dan dilanjutkan dengan makan siang” Katanya ungkapan tersebut kurang sopan, seolah yang diundang tak mampu membeli makan buat dirinya sendiri. Menurut dia seharusnya dipakai ungkapan “santap siang”. Lho, bukankah di sekolah kita diajar “unggah-ungguh”, kita orang biasa makan, raja bersantap kalau orang kebanyakan mati atau meninggal, raja mangkat. Padahal, ungkapan meninggal dunia saja sudah cukup “halus” untuk “orang kebanyakan”.

Lho, siapa yang kebanyakan dan bukan kebanyakan? Mungkin hanya di beberapa tempat saja ada pembagian kelas menjadi “kebanyakan” dan “bukan kebanyakan” Di Bali misalnya, ada pembagian “jaba” atau orang-orang diluar puri atau di luar rumah keluarga brahmana, atau “griya”. Untuk berkomunikasi antara kaum “jaba” dan puri dan griya, digunakan bentuk unggah-ungguh tertentu. Ada bentuk sor singgih atau gampangnya bahasa kasar dan bahasa halus. Di antara kaum yang tinggal di puri maupun griya, mereka menggunakan bentuk bahasa tertentu.

Di Jawa pun walau hampir tak ada kaum bangsawan, mereka masih mengenal sor singgih ini. Yang jelas, bila anak muda bicara kepada orang tua di dalam bahasa Jawa, maka dia wajib menggunakan bahasa halus.

Bentuk terikat tuna pun diangkat sebagai bentuk penghalus untuk sejumlah keadaan. Lihat saja KBBI memuat tuna aksara, tuna busana, tuna daksa, tuna ganda untuk cacat mental dan dan fisik, tuna karya, tuna laras untuk cacat suara dan nada, tuna netra, tuna runggu, sebagainya. Seolah mengatakan tuli atau bisu tentang seseorang kurang sopan jadi perlu dicari bentuk yang lebih “sopan”.

Tetapi bentuk bebas tuna memang disenangi banyak orang, baik tuna segar maupun tuna dalam kaleng. Walau ada lomba olah raga bagi tuna daksa, sekitar tahun 1950an saya pernah membaca cerpen berjudul Tanpa Daksa, karya Gde Winnyana, bukan Tuna Daksa. Sayang sekali cerpen Tanpa Daksa tidak dapat saya telusuri keberadaannnya di dalam Bibliografi Karya Sastra Indonesia dalam Majalah susunan Ernst Ulrich Kratz (1988). Maklum saja, seperti diakui Kratz, bukunya kurang lengkap sebab rujukannya yang terbatas.

Kita memang bangsa yang suka membanding-bandingkan. Wedus gembel merupakan hasil membandingkan abu panas yang telah membunuh Mbah Marijan dalam posisi bersujud, langsung meninggal dunia saat bersujud kepada Tuhannya. Penjara juga dibandingkan dengan sebuah hotel yang “prodeo” tak usah bayar, walaupun prodeo juga bermakna “untuk Allah”.

Namun, nampaknya bahasa yang masih hidup memang harus berubah sampai bahasa itu mati seperti bahasa Latin dan bahasa Sansekerta. Ingat saja dimasa kita ini, pernah hidup kata pinjaman dari bahasa Inggris: akselerasi. Namun, belum lagi lewat puluhan tahun kata tersebut sudah menghilang dari peredaran. Kita punya kata “anda” yang bertahan sampai sekarang, bahkan ada yang mengira bahwa “Andika” adalah bentuk betina dari “anda”. Ternyata “Andika” merupakan bentuk sangat hormat untuk “anda”. Begitulah bahasa kita.***

*) Sastrawan tinggal di Singaraja.