Sampurno, Rekan Saya

Sori Siregar
http://www.suarakarya-online.com/

Saya tidak mengenalnya. Dia juga tidak mengenal saya. Tapi kami saling menyapa. Saling sapa ini terjadi setiap kali kami berpapasan pada saat olahraga jalan kaki hari Selasa, Kamis dan Minggu pagi.

Seingat saya saling menyapa itu telah berlangsung empat bulan. Anehnya, saya maupun laki-laki itu tidak berkeinginan untuk meningkatkan tegur sapa ini dengan berjabat tangan dan berkenalan. Tampaknya kami berdua tidak membutuhkan itu. Cukup hanya bertegur sapa dengan mengucapkan “selamat pagi”. Jika ketika bertemu itu jarak kami berjauhan, kami saling melambaikan tangan tanpa mengucapkan apa pun.

Setiap Selasa, Kamis dan Minggu pagi saya berjalan kaki ke sebuah pusat perbelanjaan yang lazim disebut plaza, tempat saya bekerja, yang jaraknya sekitar dua kilometer dari rumah saya. Setibanya di sana saya mengitari plaza beberapa kali dan saya baru berhenti setelah berjalan kaki selama satu jam. Olahraga jalan kaki ini saya lakukan sesuka saya, biasanya agak siang. Rata-rata saya mulai berolahraga pukul delapan hingga pukul sembilan pagi. Selesai berjalan kaki saya sarapan di sebuah warung tenda yang tidak jauh dari plaza itu.

Anehnya, “rekan” yang saya sebutkan tadi itu juga berjalan kaki dengan waktu yang hampir bersamaan dengan saya. Cuma, saya tidak tahu kapan ia berhenti dan kemana ia pergi setelah olahraga jalan kaki itu. Selain kami berdua sebenarnya masih ada pejalan kaki lagi yang mengitari plaza, baik seorang diri maupun dengan istri atau suami. Tetapi dengan para pejalan kaki yang lain itu saya tidak pernah saling menyapa, karena mereka juga tidak merasa perlu menyapa saya.

Belakangan ini, selama beberapa hari saya tidak pernah bertemu dengan “rekan” saya itu. Mungkin ia memang tidak berolahraga pada hari-hari saya berolahraga itu. Atau ia tetap berjalan kaki cuma waktunya lebih awal, atau harinya yang berubah. Saya merasa kehilangan juga dengan ketidakhadirannya itu. Saya tidak tahu apakah ia juga merasa kehilangan karena tidak bertemu dengan saya.

Saya juga tidak tahu apakah olahraga rekan saya itu hanya berjalan kaki, tidak ada yang lain. Saya sendiri rutin berenang setiap hari Sabtu. Waktu yang saya gunakan untuk berenang adalah dua jam, terkadang lebih. Karena itu dibandingkan dengan beberapa teman saya yang malas berolahraga, saya relatif lebih sehat.

Setelah menghilang selama hampir tiga bulan, tiba-tiba rekan saya itu hadir lagi dalam rutinitas pagi kami. Saling sapa atau mengangkat tangan pun kembali terjadi. Jika sebelumnya saya sama sekali tidak ingin berjabat tangan dan berkenalan dengan “rekan” saya itu, setelah ketidakhadirannya selama tiga bulan, saya ingin meningkatkan tegur sapa ini. Saya merasa tidak ada salahnya kalau saya menjabat tangannya dan berkenalan langsung. Mengapa tidak?

Karena itu ketika Minggu kemarin saya bertemu dengan dia saya segera menghampirinya dan mengulurkan tangan saya. Ia menyambut uluran tangan saya itu dan kami berjabatan tangan. Kami sama-ama berhenti.
“Tiopan”

“Sampurno” Kami saling menyebutkan nama. Setelah itu kami berjalan kembali ke arah yang sama dengan langkah yang dipelankan.
“Lama enggak kelihatan. Sakit?”.
“Tidak”.
“Ke luar kota?”
“Juga tidak”.
“Lantas?”
“Lantas apa?”
“Lagi malas barangkali”

“Tidak juga”.` Jawaban sepotong-sepotong seperti itu membuat saya merasa “rekan” saya itu tidak senang diajak berbicara ketika berolahraga jalan kaki itu. Karena itu saya memperlambat jalan saya, sehingga ia dapat mendahului saya. Dalam satu menit saja ia sudah hampir seratus meter di depan saya.

Sejak saat itu kami hanya saling mengucapkan “selamat pagi” jika berpapasan dalam jarak dekat atau saling melambaikan tangan jika jarak kami berjauhan. Minat saya untuk mengenal “rekan” saya itu lebih jauh luntur sudah. Peduli amat.

Bulan lalu saya pulang ke kampung halaman saya selama satu bulan. Olahraga jalan kaki tetap saya lakukan di kampung halaman saya itu. Karena hawa di kota kelahiran saya ini sangat panas, saya memulai olahraga jalan kaki setelah salat subuh, ketika hari masih gelap. Banyak orang berjalan kaki seperti saya pada hari yang masih gelap itu. Saling sapa tidak pernah terjadi dalam kondisi yang gelap itu.

* * *

Setelah satu bulan di kampung halaman saya kembali ke kota tempat saya bekerja. Olahraga jalan kaki setiap Selasa, Kamis dan Minggu pagi kembali saya lakukan. “Selamat pagi” kembali terdengar dan lambaian tangan juga terjadi setiap kali saya bertemu dengan “rekan” saya itu. Saya menunggu reaksinya mengapa saya tidak berolahraga selama satu bulan itu. Reaksinya mengejutkan saya, karena ia tidak peduli dan tidak bertanya, seakan-akan saya tidak pernah absen dari rutinitas pagi selama satu bulan itu.

Karena ia tidak peduli saya ingin membalas. Setiap kali akan berpapasan dengan “rekan” saya pada setiap jalan pagi itu, saya segera berbalik. Saya sengaja berbalik itu setelah ia melihat saya dari jauh. Berkali-kali saya lakukan itu pada minggu-minggu berikutnya, sehingga kami tidak pernah bertegur sapa lagi baik dengan ucapan “selamat pagi” atau sekadar mengangkat tangan.

Setelah satu bulan, sikap tidak ingin berpapasan dengan dia itu, mulai memperlihatkan hasil. Ketika saya berbalik ternyata ia juga berbalik ke arah semula sehingga kami hampir berpapasan lagi, tetapi saya masih sempat berbalik sehingga dapat mengelak dan tidak perlu menegurnya. Tiba-tiba saya mendengar teriakannya.
“Pak Tiopan”.

Wah, saya terkejut karena ia masih mengingat nama saya dan saya senang. Tetapi saya pura-pura tidak mendengar panggilannya. Karena itu ia berteriak lagi.
“Pak Tiopan”
Baru saya berbalik dan menunggunya.
“Apa kabar?”, ia bertanya.
“Baik”
Kami sama-sama berhenti. Kemudian saling berjabatan tangan.

“Bapak baru sembuh?” Baru sembuh? Memangnya saya sakit. Apakah wajah saya memperlihatkan saya baru sembuh dari sakit?, begitu tanya saya dalam hati.
“Tidak. Saya tidak sakit”
“O, saya pikir baru sembuh”
“Mengapa Pak Sampurno berpikir begitu?”
“Bapak jauh lebih kurus sekarang”
“O,ya?
Berat badan saya masih tetap 65 kilogram,”.
“Kalau begitu tampaknya saja lebih kurus. Padahal berat badan Pak Tiopan tidak turun”.

Setelah berjalan pelan beberapa menit ia mengatakan akan mengambil duit di salah satu mesin ATM yang berjajar di belakang plaza itu. Saya menunggunya, walaupun ia tidak meminta saya menunggu. Antrian yang cukup panjang karena banyak orang akan mengambil uang membuat saya lama menunggunya. Tetapi saya tetap menunggu.

Setelah selesai mengambil uang, ia keluar dari jajaran mesin ATM itu. Ia menghampiri saya, menjabat tangan saya dan berpamitan karena akan pulang lebih dulu.
“Maafkan saya”, katanya

Setelah itu dia langsung melangkah menuju tempat parkir, padahal dia tahu saya menunggunya cukup lama untuk melanjutkan obrolan tadi. Saya termangu melihatnya masuk ke mobil. Dari jauh ia kelihatan membuka jendela mobilnya dan melambaikan tangan kepada saya, sebelum melaju meninggalkan tempat parkir itu.
Lama saya berdiri seperti orang bodoh itu. Seorang satpam menghampiri saya.

“Pak, mulai Selasa lusa, Pak Sampurno tidak akan berjalan kaki di sekitar plaza ini lagi. Dia pindah tugas ke Surabaya. Tugas saya juga sudah selesai mengamati Bapak”.
Mendengar kalimat terakhir satpam itu saya bertanya.
“Maksud Anda?”

“Selama beberapa bulan ini saya mendapat tugas dari Pak Sampurno untuk mengawasi Bapak. Dia curiga Bapak akan bermaksud jahat kepadanya karena pada hari Selasa, Kamis dan Minggu Bapak tetap berolahraga jalan kaki di sekitar plaza ini, persis pada saat ia berolahraga. Apalagi Bapak sering berputar-putar di sekitar mobilnya, katanya. Setiap kali berpapasan dengan Bapak nyalinya menciut. Sebagai orang yang sangat percaya kepada perasaannya, ia langsung mencurigai Bapak sebagai bukan orang baik-baik”

Saya terdiam. Kemudian saya menoleh ke tempat parkir mobil “rekan” saya itu. Merasa kalimatnya belum usai suara satpam itu terdengar lagi.

“Padahal saya tahu betul Bapak sudah beberapa tahun berolahraga disekitar plaza ini, jauh sebelum Pak Sampurno berjalan kaki di sini.

Tapi permintaan Pak Sampurno saya laksanakan juga karena setiap bulan saya diberinya uang. Saya mengawasi Bapak bukan karena curiga tapi karena saya diberi uang. Lagi pula tugas saya kan cuma melihat Bapak berjalan kaki.Itu saja. Apa susahnya, sih.
Tak perlu mengikuti Bapak dan mengintai apa yang Bapak lakukan selama berjalan kaki itu”.
“Tadi dia mengobrol dengan saya tanpa rasa curiga”, kata saya kepada satpam itu.
“O, Iya, Pak”, kata satpam itu sambil tertawa.

“Tadi ketika dia memberikan upah saya terakhir sambil pamit mau pindah ke Surabaya, saya bilang Bapak adalah direktur plaza ini. Orang pertama di sini. Baru dia terkejut. Makanya tadi dia meminta maaf kepada Bapak, karena berburuk sangka itu”.

Saya meninggalkan satpam itu sambil menggeleng. Namun, sampai saat ini saya tetap kehilangan “rekan” saya itu, karena tidak ada lagi orang yang mengucapkan “selamat pagi” ketika berpapasan dengan saya atau melambaikan tangan dari jauh. ***

* Jakarta 24 Januari 2011