Gapura Doa

S.W. Teofani
Lampung post 03/16/2008

AKU selalu coba melupa. Menutup sirip kenangan dengan taburan doa. Mengelupas tiap helai tanpa nada. Meski tak pernah benar-benar mencapai amnesia. Gapura itu tetap dan selalu ada. Di ceruk paling maya, mengada dalam taman jiwa. Gigir ngarai yang pernah kita sisir, memanggil dengan suara paling mesra. Ruah rasa yang dulu hadir, menerbangkanmu untuk menyambangi waktu. Semua kembali bersua. Seolah tak pernah ada jeda menganga. Kita kembali mengeja kidung-kidung gapura. Meracik harap mencapainya. Hingga kau membuka tirai nelangsa. Utas janji telah kau patri pada seruas hati. Lingkar tunang telah kau semat pada lentik jari. Aku berpaling dengan pasti. Bukan langkah kita yang menuju ke sana. Lagi, aku ingin menghapus setiap jejak kaki kita. Continue reading “Gapura Doa”

Bunga Besut

Sabrank Suparno

Marsudi benar-benar hilang. Entah kapan persisnya, aku tak punya tanda pengingat khusus, semisal jaman Semeru meletus yang tiap dedaunan dipenuhi debu hingga sempal, jaman hama wereng yang menggagalkan panen padi, jaman pederos yang mencekam karena tiba-tiba ditemukan mayat terbungkus karung, atau ketika muncul peristiwa manggar emas, manggar yang diterpa bias sinar mentari sore, sehingga warnanya persis seperti emas. Dan, hanya sore itu, tidak terjadi lagi pada sore berikutnya hingga kini. Tak pelak sore itu banyak orang berkerumun,menyaksikan manggar yang berupa emas. Continue reading “Bunga Besut”

TKI DI MALAYSIA: MASALAH KULTUR

Maman S. Mahayana *

Mengapa terjadi eksodus Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari Malaysia? Dalam sejarah hubungan Indonesia—Malaysia, baru kali ini terjadi “pengusiran” besar-besaran warga Indonesia oleh negeri jiran itu. Apakah duduk masalahnya sekadar menyangkut “pendatang haram” atau ada hal lain yang lebih mendasar? Sejumlah pertanyaan lain bisa saja kita deretkan lagi, meskipun barangkali jawabannya tak menyelesaikan masalah. Masalah apa sesungguhnya yang mendasari di balik peristiwa itu? Continue reading “TKI DI MALAYSIA: MASALAH KULTUR”

Taufiq Ismail: Sistem Pendidikan Sastra Kita Keliru

Pewawancara: Oka Rusmini, Gus Martin
balipost.co.id, 23/3/2003

Di tengah hiruk-pikuk perkembangannya, ternyata sastra Indonesia sesungguhnya masih terasa asing dan sendiri. Kesunyian inilah yang membuat Taufiq Ismail merasa harus turun ke daerah-daerah, sekolah-sekolah, universitas, untuk memperkenalkan kembali karya sastra Indonesia di mata pelajar, bertahun-tahun tanpa lelah. Akhirnya, perjuangan sastrawan ini mendapat perhatian dari Universitas Negeri Yogyakarta. Continue reading “Taufiq Ismail: Sistem Pendidikan Sastra Kita Keliru”

Bahasa »