Sahabat Lama

Rilda A. Oe. Taneko
http://www.lampungpost.com/

SEBUTLAH Fajri, ia sahabatku sejak kuliah dulu. Ketika aku pulang kampung, empat tahun yang lalu, ia tergeletak lemah di rumah sakit.

“Berlebihan,” sunggut Tante Min, ibunya Fajri.

Aku diam. Beringsut dari ujung tempat tidur ke arah Fajri. Membantunya membetulkan selang infus yang melibat di tiang gantungnya.

“Zaman sekarang, mana ada orang menolak uang,” Tante Min kembali menyumpah.

Sambil ia punguti remah-remah kue yang tercecer di tikar, Tante Min mendelik padaku, “Kau, Badu, kau kan sahabatnya, nasihatilah dia.”

Tante Min melempar kertas, berisi remah kue yang ia kumpulkan, ke keranjang sampah di sudut ruang.

“Ibu ke ruang administrasi dulu, urus askes. Tak bosannya kau buat ibumu ini susah, Fajri. Sudahlah kau menganggur lama, setelah dapat kerja kau malah sok suci. Pakai sakit segala.”

Sebelum Tante Min menutup pintu, ia kembali mendelik padaku, “Nasihati sahabatmu itu, Badu!”

Pintu kamar berdebam, aku terdiam, melirik pada Fajri yang tergolek lemah di sampingku.

“Sakit sekali, Du. Tiba-tiba saja perutku terasa keram. Lalu melilit-lilit. Sakit yang sangat,” Fajri berkata lemah.

“Sabarlah,” hiburku.

“Tubuhku menolak, Du. Aku tahu itu. Semua ini karena uang haram yang aku makan.”

“Tiap hari kami berbagi hasil jarahan. Kadang ada orang yang sengaja menyuap. Lebih sering kami yang meminta. Lalu hasilnya kami kumpulkan dan setor ke kepala kantor. Sore hari uang itu dibagi-bagi.”

Aku diam dan mendengarkan.

“Jangan kau salahkan aku, Du. Seperti kau menyalahkan koruptor-koruptor itu, waktu kita berdemo dulu. Tak mampu aku menolak uang itu, Du. Teman-teman kantorku bilang, kalau aku tolak, semua akan membenciku. Aku akan dikucilkan dan diasingkan.”

Fajri terdiam dan menatap langit-langit kamar dalam nanar.

“Sakit sekali, Du. Tiba-tiba saja perutku terasa keram. Lalu melilit-lilit. Sakit yang sangat,” Fajri berkata lemah.

“Sabarlah,” hiburku lagi.

“Tubuhku menolak, Du. Aku tahu itu. Semua ini karena uang haram yang aku makan.”

“Uang haram apa? Tak ada itu uang haram. Uang ya uang. Bisa untuk bayar makan. Untuk beli pakaian. Itu biasa saja. Janganlah menjadi berlebihan,” Tante Min yang masuk ke kamar tiba-tiba menyambar.

Fajri terbungkam. Aku pun diam.

***

TIGA hari dari hari itu, Fajri dibolehkan pulang ke rumah. Dua hari berselang, aku menjenguk ke rumahnya.

Tante Min membukakan pintu, digaris-gariskannya telunjuk di dahi. “Sahabatmu sudah begini,” katanya kesal.

“Sudah sinting-gila-miring,” tambah Tante Min.

Di kamarnya, Fajri duduk di kepala tempat tidur, bersandar pada bantal. Matanya tertutup dan mulutnya komat-kamit. Di jempol dan telunjuk tangan kananya, butiran tasbih bergulir pelan.

Di luar kebiasaannya, hari ini kulihat Fajri mengenakan kopiah haji berwarna putih, lengkap dengan abaya putih menyentuh mata kaki.

Dari radio kecil di meja samping tempat tidurnya, berkumandang ayat-ayat suci.

“Jri,” panggilku membangunkan kekhusukannya.

Tante Min, yang mengikutiku ke kamar, berkata, “Pergi sana ke luar, Jri. Jangan mengurung diri saja di kamar. Hirup udara segar. Biar otakmu jalan.”

Dengan enggan Fajri bangkit dan berjalan keluar rumah. Aku mengikutinya dari belakang.

“Apa kau mau pakai pakaian itu keluar, Fajri?” cemas Tante Min bertanya.

Fajri mengangguk dan mengajakku masuk ke mobilnya yang tua. Sebuah Daihatsu biru yang berkarat.

Sambil mendengar nasyid dari radio mobil, Fajri mengendarai mobilnya pelan.

“Mau ke mana, Du?”

Aku mengangkat bahu, “Terserah saja.”

Di sebuah perempatan, mobil Fajri terbatuk. Tepat di tengah perempatan itu, mobil berhenti total. Sambil mengisyaratkan padaku untuk mengambil alih kemudi, Fajri keluar mobil. Sekuat tenaga ia mendorong dari belakang.

Aku menoleh ke kiri dan kanan, tak ada orang yang turun membantu. Semua hanya membunyikan klakson bersahut-sahutan. Beberapa orang menumpahkan cacian. Keringat dinginku bercucuran. Mukaku merah karena malu.

Beberapa pengendara sepeda motor menginjak gasnya, melalui celah antara mobil, ngebut melalui Fajri. Seorang berteriak, “Makanya jangan pakai daster, Pak.” Lalu ia terbahak.

Akhirnya ada beberapa orang yang membantu Fajri menepikan mobil. Fajri dan aku mengucapkan terima kasih. Sambil terkekeh, orang yang membantu menggaruk kepala, “Rokoknya dong, Bang. Makasih aja mah enggak buat kenyang.”

***

SELAMA aku berlibur di kampungku, kelakuan Fajri yang selalu bertasbih dan berabaya menjadi bahan percakapan orang. Bekali-kali bapak menepuk pundakku. “Untunglah kau tidak seperti dia, Badu. Untunglah kau ini tidak aneh-aneh. Mampu bekerja di luar negeri dan buat bangga bapakmu ini.”

Ketika hari kepergianku tiba, aku menolak keinginan Fajri untuk mengantarku ke bandara.

“Tak usah repot-repot, Jri. Aku bisa naik taksi.”

Fajri diam dan memperhatikan wajahku.

“Malukah kamu berteman denganku, Du?” tanyanya sendu.

“Tentu saja tidak,” jawabku, menghindari tatapan matanya.

Fajri telihat sangat terluka. Dengan menunduk lesu dan murung, lunglai ia berpamitan, “Sampai ketemu lagi, Du.”

***

TAHUN ini aku pun berencana pulang ke kampungku. Di surat elektronik yang ia kirimkan, Fajri berkeras untuk menjemputku di bandara. Berkali-kali aku menolaknya, berkali-kali itu pula ia meminta jadwal penerbanganku. Akhirnya aku menyerah.

Terbayang olehku Fajri yang menjemput dengan tasbih dan abayanya. Juga terbayang mobil Daihatsunya yang akan kembali mogok di tengah jalan. Terbayang orang-orang yang menatap aneh dan menyemoohnya.

Aku menghela napas. Ah, sepertinya harus bersiap menahan malu pulang nanti.

Di luar dugaanku, Fajri menjemput dengan pakaian dinasnya. Tubuhnya jauh lebih berisi dari empat tahun yang lalu. Tanda pangkat yang menempel di bajunya berkilat-kilat. Tak seperti para penunggu yang memenuhi area penjemputan, Fajri tersenyum lebar di dekat petugas imigrasi yang menemaninya di pintu kedatangan. Dipeluknya aku kuat. Lalu begegas ia mengandengku keluar, melewati antrean panjang di bagian imigrasi. Ia menyerahkan pasporku untuk dicap oleh petugas dan dengan melenggang kami keluar.

“Orang penting sepertimu tak pantas mengantre,” kata Fajri terkekeh.

Beberapa pasang mata pengantre mendelik ke arah kami. Beberapa terlihat iri. Aku merasa penting dan dadaku dipenuhi kebanggaan.

Aku mencari Daihatsu butut milik Fajri di lapangan parkir bandara. Fajri telihat bersemangat berjalan di depanku. Ia terlihat jauh lebih tinggi dari empat tahun yang lalu. Di depan Toyota Fortuner hitam ia menghidupkan pengendali jarak jauh mobil. Mobil hitam itu berkedip.

“Ayo masuk,” Fajri menyeringai lebar, puas menyaksikan aku yang terpana diam.

Duduk di dalam mobil Fajri, jalanan di kampungku ini terasa lain. Rasanya semua lebih indah. Rasanya semua jadi ringan. Fajri berceloteh riang. Tentang proyek miliaran yang ia kerjakan. Ia banyak tertawa. Membuatku pun ikut tertawa. Rasanya senang. Rasanya sangat berkuasa.

Sampai di rumah, bapakku memuji-muji Fajri, ditepuk-tepuknya pundak Fajri sambil berkata, “Hebat, Nak Fajri sekarang. Tahu tidak kau, Badu? Fajri membangun masjid dan stadion olahraga di kampung kita ini. Semua warga senang dan gembira menyambutnya.”

Fajri tersenyum dan tak lama ia berpamitan.

Bapak mengantar Fajri sampai debu jalanan yang diterbangkan mobilnya menghilang. Masih dengan kagum, bapak berkata padaku, “Hebat sahabatmu itu. Rumah ibunya sudah ia bangun. Lengkap dengan kolam renang. Ibunya pun dihadiahi banyak perhiasan emas. Tak perlulah berkerja sampai jauh ke luar negeri, Badu. Sudah selama ini berkerja, tak ada satu pun cangklong emas kau belikan bapakmu ini.”

***

SELAMA aku berlibur di kampungku, Fajri menjadi selebritas. Semua orang membicarakannya, memuji setinggi-tingginya. Walaupun Fajri masih suka mengenakan abaya dan menjinjing tasbih, semua orang ingin menjadi temannya. Bahkan warga menyebutnya sehebat sufi.

Tante Min pun selalu terlihat senang. Senyuman tak lepas dari bibirnya yang bergincu ungu. Saban minggu ia berceramah di surau-surau, menjalankan tugasnya kebagai ketua pengajian.

Fajri selalu menjemputku untuk pergi bersamanya. Di setiap perjalanan, ia selalu menraktirku. Kadang hanya sekadar makan di restoran termahal. Atau minum-minum di hotel berbintang lima. Kadang diajaknya pula aku bergabung bersama teman-temannya berkaraoke. Ketika aku menyebutkan teman-teman Fajri, yang aku maksudkan bukanlah sembarangan teman. Teman-temannya di karaoke adalah orang-orang kelas atas. Orang-orang yang kerap menghiasi layar televisi. Ada pejabat pemerintahan, polisi, jaksa, dan pengusaha ternama.

Fajri banyak tertawa. Teman-temannya pun senang tertawa. Aku pun bangga bisa ikut tertawa bersama mereka. Bersama perempuan-perempuan muda yang cantik, yang entah dari mana dan namanya siapa, kami bernyanyi riang. Sampai larut malam kami menari.

***

KETIKA hari kepergianku tiba, Fajri mengantarkan aku sampai ruang tunggu bandara. Tak seperti pengantar lain yang tertahan di lobi luar, Fajri dengan bebas masuk ke dalam.

Tak seperti biasanya, belakangan ini Fajri lebih banyak diam. Ketika pesawatku telah mendarat dan belalai dari bandara telah disambungkan ke pintu pesawat, lalu panggilan untuk penumpang telah dikumadangkan, Fajri memelukku erat.

Ia berikan aku sebuah koran. “Jangan sampai kau lupa baca koran ini, Du,” pintanya, lalu ia menghela nafas.

Dengan murung dan sendu ia berkata, “Sampai ketemu lagi, Du.”

***

SELESAI makan, aku membuka koran yang Fajri beri. Di halaman dalam, ada lembar yang seperti sengaja dilipat. Coretan sepidol berwarna biru melingkari sebuah berita. Betapa terkejutnya aku ketika melihat wajah sahabatku di berita itu. “Fajri bin Mindar (33 tahun) tersangka kasus korupsi” tertulis di bawah foto Fajri.

Aku tercenung. Fajri korupsi, semua orang tentu tahu itu. Namun kalau sampai diusut, sungguh sial sahabatku itu.

Tiba-tiba saja, perutku terasa keram. Lalu melilit-lilit. Aku merasai sakit yang sangat.

Setelah permisi ke penumpang di sebelahku, aku bergegas menuju toilet di tengah badan pesawat. Namun apa yang sudah kubuang tak juga membuat sakit di perutku mereda. Masih duduk di toilet, aku meremas-remas perutku, tubuhku melipat, menahan sakit luar biasa. Aku ingin berteriak, namun suaraku tercekat.

“Tolong,” rintihku pelan. Tak ada seorangpun datang. Aku putarkan mataku di sekeliling bilik toilet. Di sudut dekat jamban, ada tombol alarm. Sekuat tenaga aku menekannya.

Tak lama, suara orang terdengar ramai di luar toilet. Aku mengerang.

“Jangan cemas, kami segera mengeluarkan Anda,” dalam bahasa Inggris, sebuah suara terdengar.

Dalam hitungan detik, pintu toilet terbuka. Seorang petugas pesawat berusaha membantuku berdiri. Lalu pekikan suara perempuan terdengar. Samar aku melihat, orang-orang yang menutupi mata atau hidung mereka.

Aku baru tersadar. Jamban yang belum lagi aku siram. Juga, celana yang belum aku pasang.

Lancaster, Januari 2011
———–

Rilda A.Oe. Taneko, lahir di Tanjungkarang, Lampung, 1980. Lulusan Universitas Lampung dan Institute of Social Studies, Belanda. Sekarang menetap di Lancaster, Inggris. Buku kumpulan cerpennya, Kereta Pagi Menuju Den Haag (2010).