Novel yang Menyelamatkan Masa Silam Lampung

Henry Sihaloho
http://www.lampungpost.com/

Beruntunglah Lampung karena novel Perempuan Penunggang Harimau karya M. Harya Ramdhoni terbit. Setidaknya, novel ini mampu membangunkan kembali ingatan ulun Lampung terhadap masa lalu mereka.

Tentu saja setelah mengalami pengendapan dan penafsiran ulang terhadap sejarah.

Sastrawan Binhad Nurrohmat dalam peluncuran novel terbitan BE Press ini di aula Lampung Post, Sabtu (15-1), mengatakan novel Perempuan Penunggang Harimau telah menyelamatkan masa silam Lampung.

Menurut dia, dalam menulis, seorang pujangga tidak hanya mengandalkan konsep dan sistematika. Namun, ada misi yang hendak disampaikan penulis. “Di sinilah letak penting seorang pujangga,” kata Binhad.

Kelebihan Ramdhoni dalam menulis novel ini, menurut dia, adalah adanya data-data empirik. “Seringkali penulis Indonesia bakat alam. Bung Dhoni (sapaan Ramdhoni) punya kelebihan. Karyanya ada kesamaan dengan Pramoedya Ananta Toer,” kata penyair asal Lampung Timur ini.

M. Harya Ramdhoni mengakui kisah dalam novel karyanya merupakan percampuran antara fakta sejarah dan fiksi. “Tokoh-tokoh dalam novel ini merupakan individu yang pernah hidup di masanya masing-masing. Begitu juga dengan kerajaaan, dinasti, tempat, aksara, suku, benda, ritual adat, panggilan kebesaran, berbagai kesenian dan sastra lisan masyarakat Lampung Saibatin yang masih lestari,” katanya.

Senada dengan itu, Wakil Pemimpin Umum Lampung Post Djadjat Sudradjat mengatakan Lampung patut berbangga dengan novel tersebut. Sebab, belum ada novel yang menceritakan sejarah Lampung lengkap dengan data-datanya. Bahkan, Djadjat mengaku “jatuh cinta” ketika pertama kali membaca novel Perempuan Penunggang Harimau.

“Seperti kata Syahrir, jika kamu ingin mengetahui sejarah Barat, bacalah novelnya. Karena itu, lebih menghemat energi ketimbang kamu membaca buku-buku sosiologi. Sebab, novel bercerita tentang masyarakat,” kata Djadjat.

Penyair Iswadi Pratama mengakui novel karya Ramdhoni tidak kekurangan data dalam menuliskan sejarah Lampung. Namun, karya ini harus tetap diperlakukan sebagai novel. “Masa silam yang diselamatkan novel ini diharapkan tidak menjadi museuminal belaka, tetapi bisa menjadi refleksi untuk masa depan,” kata dia.

Dalam pembacaan Iswadi, Ramdhoni mampu menjaga harmonisasi tokoh-tokoh lama dalam novelnya kendati terdapat sedikit yang mesti dijelaskan. “Pada bagian-bagian tertentu Ramdhoni kuat sekali menuliskannya, tetapi di bagian lain, justru menimbulkan pertanyaan-pertanyaan,” kata Iswadi.

Dari sudut lain, budayawan Iwan Nurdaya Djafar menyebut karya Ramdhoni justru menyelamatkan karya sastra Lampung klasik.

“Kalau sebelumnya untuk puisi telah lahir puisi bebas, novel Perempuan Penunggang Harimau ini bisa menginspirasi bagi perkembangan prosa Lampung di masa depan.”

15 Januari 2011